KASEDAN: Gelap dan Penuh Kebencian

Unit cadas ‘keras kepala’ asal Kulonprogo, Yogyakarta yang bernama Kasedan, akhirnya melampiaskan album keduanya yang sarat amarah.
kasedan
KASEDAN

Kasedan yang digerakkan formasi vokalis Rotib Ristinda Sautabah, gitaris Setyo Rahayu (Yoyok), kibordis Andi Haryanto dan dramer Rifan Nasrulloh menumpahkan segala bentuk amarah di album terbarunya itu.

Karya rekaman bertajuk “Setara Raja Neraka” itu mereka sebut masih merupakan sambungan dari “Serigala Menoreh”, album sebelumnya yang dirilis pada 21 November 2023 lalu.

“Setara Raja Neraka” yang memuat selusin track mencekam, menyelipkan tiga komposisi yang menghadirkan kolaborasi dengan musisi tamu dari kubangan metal lainnya.

Tepatnya, di lagu “Adikarta Barbarian” yang diperkuat Mohamad ‘Man’ Rohman (Jasad), lalu “From Mataram Kingdom with Hatred” bersama Eitaz Nayrez (Nosferatu/Sorem) dan “Beneath Ov Mataram Commander” yang hadirkan Adittya Rama (Amorphous).

Ketiganya berkontribusi menyuntikkan elemen kekejaman lewat geraman vokal mereka.

Album penuh kedua Kasedan tersebut, penggarapannya membutuhkan proses yang lumayan panjang. Materi per materi digarap perlahan oleh Yoyok, sang gitaris. Setelah itu, dilanjutkan ke tahapan pengoreksian dan beberapa revisi, sebelum akhirnya memasuki proses dapur rekaman.

Proses rekaman instrumen dan isian vokal Rotib dieksekusi secara mandiri di Gosd Record, Kulonprogo. Sementara untuk perekaman vokal Man Jasad dilakukan di Crows Music Studio. Adittya Rama dan Eitaz sendiri merekam vokalnya di studio pribadi mereka masing-masing.

kasedan

Elang Mataram

Formula musik yang diterapkan Kasedan di “Setara Raja Neraka”, seperti yang disampaikan pihak band kepada MUSIKERAS memadukan antara elemen black metal dengan death metal.

Menggunakan teknik gitar tremolo picking yang dibumbui downstroke, tradisional blast di dram, serta juga teknik vokal death growl dengan lirik yang gelap dan penuh kebencian, khas black metal.

“Kasedan menegaskan identitas black death metal dengan beberapa riff yang cenderung mengarah ke genre death metal, tapi tidak luput dari balutan riff black metal yang melekat.”

Selain itu, konsep musik black death metal bentukan 2012 lalu ini juga masih tetap konsisten menyisipkan sentuhan musik tradisional Javanese di setiap riff lagu. Seperti yang juga mereka tunjukkan di album “Serigala Menoreh”.

“Itu yang membuat Kasedan berbeda,” seru Kasedan percaya diri.

Untuk memperkaya aransemennya, Kasedan juga menambahkan sentuhan kibord, sebagai ciri pembeda dari band-band black death metal umumnya.

Perbedaan-perbedaan itu, antara lain bisa disimak di trek “Elang Mataram” yang lumayan membuat Kasedan kewalahan dalam pengeksekusian rekamannya.

“Lagu pertama yang kami garap dalam album ‘Setara Raja Neraka’, yang mana menjadi langkah awal untuk menyelesaikan trek selanjutnya, dengan menjaga benang merahnya.”

Menyangkut sumber inspirasi atau referensinya, Kasedan meyakinkan tidak ada acuan pasti saat penggarapan lagu-lagunya. Tapi sebelum menjalani produksinya, para personel Kasedan mengaku banyak belajar dari Andre Tiranda (gitaris Siksa Kubur), Eitaz serta beberapa teman musisi lainnya.

“Dari situlah Kasedan mulai mengulik dan menggabungkan musik klasik, yang (lantas) ditambah dengan latar belakang kesukaan personel Kasedan yang berbeda.”

Yoyok menyukai karakter band-band lokal seperti Siksa Kubur, Nosferatu, Dry serta band mancanegara, Marduk dan Nile. Rotib dengan karakter vokal Behemoth, Fleshgod Apocalypse, Gorgoroth dan Belphegor.

Rifan cenderung ke karakter permainan dram serupa Humiliation, Siksa Kubur, Pure Wrath, Sorem dan band Swedia, Dark Funeral. Sementara Andi terpengaruh pola pengisian kibord di lagu-lagu band symphonic metal dunia macam Dimmu Borgir, Epica, Satyricon, Cradle of Filth dan band Yogyakarta, Soulsick.

Sejak 11 Januari 2026 lalu, keseluruhan album “Setara Raja Neraka” bisa didengarkan di kanal Bandcamp serta berbagai gerai digital lainnya. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts