Hegemony of God mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa ada beberapa kegiatan yang ingin diwujudkan sebelum pergantian tahun. Sejauh ini yang dipastikan adalah lagu rilisan tunggal terbaru.
“Kemungkinan (dirilis) sekitar bulan Juli. Saat ini prosesnya masih terus berjalan dan mudah-mudahan semuanya lancar sampai tahap final.”
Di karya terbarunya nantinya, para personel unit metal asal Cianjur, Jawa Barat bentukan akhir 2011 silam ini juga ingin mencoba sesuatu yang lebih segar, baik dari segi musikalitas maupun konsep keseluruhannya.
“Rencananya kami juga ingin sekalian merilis video klip supaya pesan dan atmosfer dari lagunya bisa lebih terasa,” ucap mereka.
Selain itu, juga tercetus wacana untuk menggelar event sendiri, sebagai bagian dari perayaan perjalanan Hegemony of God sejauh ini.
“Masih tahap persiapan dan pengembangan konsep, tapi semoga bisa segera terealisasi dan jadi sesuatu yang spesial buat teman-teman yang selalu mendukung kami.”
Penghormatan, Kenangan
Sebelumnya, Hegemony of God yang kini digerakkan oleh vokalis Rizky Farhan Maulana, gitaris Ari ‘Rey’ Prayoga dan Lucky Avrillia, bassis Bintang Alvaro Dzaky Ganendra serta dramer Moch. Ilham Badru dan Riki M Rizky (additional) telah merilis video musik “Damned (Orchestra Version)” yang menghadirkan vokal Kaffah Almira.
(Saksikan di tautan kanal YouTube ini)
“Damned” merupakan salah satu lagu dari album kedua Hegemony of God, “Ethereal” yang diluncurkan pada 29 November 2025 lalu, dan berhasil masuk nominasi Album Metal Terbaik AMI Awards di tahun yang sama.
Proses produksi versi ini berlangsung cukup panjang dan sempat tertunda akibat kebutuhan produksi yang besar, hingga akhirnya dapat direalisasikan pada akhir 2025.
Karya ini juga menjadi bentuk penghormatan dan kenangan atas wafatnya istri dari vokalis Hegemony of God, yang sekaligus menjadikan “Damned (Orchestra Version)” sebagai rilisan yang sarat makna personal.

Berikut secuil gagasan serta alasan di balik perilisan video musik lagu “Damned” versi orkestra yang dituturkan Hegemony of God kepada MUSIKERAS:
Apa alasan di balik keputusan untuk menggarap ulang “Damned” dalam versi orkestra?
“‘Damned’ adalah salah satu lagu KAMI yang memiliki nuansa emosional sangat kuat, baik dari segi musik maupun lirik. Lagu ini juga memiliki cerita yang cukup personal bagi vokalis kami karena liriknya terinspirasi dari kisah kehilangan istrinya yang telah meninggal dunia.
Karena itu, kami merasa pendekatan orkestra bisa membawa emosi lagu ini menjadi lebih dalam dan lebih terasa. Sentuhan string section, ambience serta dinamika orkestra memberikan warna yang lebih megah, sendu dan emosional dibanding versi sebelumnya. Kami ingin pendengar bisa merasakan atmosfer yang lebih ‘hidup’ dan merinding ketika mendengarkan versi ini.
Selain itu, kami juga ingin mengeksplorasi sisi musikal Hegemony of God secara lebih luas tanpa menghilangkan identitas utama band kami.”
Mengapa memutuskan melanjutkan produksinya walau kenyataannya harus menghadapi kebutuhan biaya yang besar?
“Sejujurnya, proyek ini sempat tertunda cukup lama karena kebutuhan produksinya memang besar. Awalnya kami cukup ragu untuk melanjutkan karena banyak hal yang harus dipersiapkan, baik dari sisi audio maupun visual.
Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya ada pihak sponsor yang bersedia membantu mendukung produksi video klip dan proyek ini secara keseluruhan. Dari situ kami merasa proyek ini memang harus diwujudkan.
Biaya produksi terbesar ada pada kebutuhan orkestra itu sendiri. Para pemain orkestra didatangkan dari luar kota, yaitu Bandung dan setiap player memiliki biaya profesional masing-masing. Selain itu, kami juga menanggung kebutuhan transportasi, konsumsi, wardrobe, penyewaan jas dan properti, lighting, videografer, lokasi shooting hingga kebutuhan teknis lainnya.
Belum lagi proses produksi aransemennya yang cukup panjang. Penggarapan materi orkestra memakan waktu lama karena seluruh instrumen harus disusun dengan detail agar tetap menyatu dengan karakter metal Hegemony of God.
Total project bahkan mencapai sekitar 230 tracks saat proses produksi dan mixing berlangsung.
Secara keseluruhan, produksi ini bisa dibilang memakan biaya hingga puluhan juta rupiah. Walaupun cukup melelahkan dan penuh tantangan, kami sangat puas dengan hasil akhirnya karena semua kerja keras tersebut terasa terbayarkan.”
Dalam perancangan “Damned” versi orkestra, apakah kalian mendengarkan beberapa referensi luar?
“Tentu. Dalam proses penggarapan versi orkestra ini kami juga mendengarkan beberapa referensi luar sebagai inspirasi, terutama dari band-band metal yang pernah membawakan konsep orkestrasi secara serius.
Salah satu referensi yang cukup berpengaruh adalah penampilan Architects saat membawakan format live orchestra di Abbey Road. Dari sana kami cukup terinspirasi mengenai bagaimana nuansa orkestra bisa tetap menyatu dengan musik heavy tanpa menghilangkan energi utamanya.
Namun di luar referensi tersebut, kami tetap berusaha menjaga identitas dan karakter musikal Hegemony of God agar hasil akhirnya tetap terasa orisinal dan personal.”
Selain “Damned”, lagu-lagu Hegemony of God lainnya bisa juga didengarkan di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. (@mudya_mustamin/MK01)