Nerv.ous Bangkitkan Nafas Rock ‘90an

Setelah pemanasan lewat single “Lagu Angsa” pada Mei 2016 lalu, kini akhirnya Nerv.ous merilis album penuh perdananya yang berjudul “Nerv.ous” via yellow Records dalam format CD serta streaming digital. “Lagu Angsa” sendiri sudah dapat didengarkan melalui akun Soundcloud (soundcloud.com/wearenervous), sedangkan untuk video klipnya yang disutradarai Dimas Hendrajaya dan Satria Semaun dari Volo Creative House dapat dilihat di akun Youtube.

Di atas kertas, harusnya Nerv.ous yang dihuni Argha Mahendra (dram), Desiree Aditya (vokal dan gitar), Eka Jayani Ayuningtyas (bass dan vokal) serta Marcello Whisnu Marhendra (gitar) sudah habis. Materi yang terkumpul dari proses kreatif medio 2009-2012 tak kunjung terfinalisasi dan hampir lima tahun mereka tidak menyentuh panggung dalam formasi lengkap. Namun, band rock asal Yogyakarta ini cukup keras kepala dan akhirnya merampungkan album debutnya. Album tersebut beramunisi 11 track yang hampir separuhnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Sebagian lagu merupakan materi dari album mini “One for a Brighter Future” (2009) yang direkam ulang.

 

Dari segi tema, album ini masih bernuansa introspektif dan gelap, menjelajah relung pikiran manusia dalam berbagai fragmen cerita; mulai dari pembunuhan (“Love”), bunuh diri (“Lagu Angsa”), represi seksual (“Masturbating with My Guitar”), keinginan pergi dan mengubah identitas (“Away”), hingga berjoget di pertunjukan musik (“Kakiku dan Aku”).

Dalam pengerjaan artwork, Nerv.ous berkolaborasi dengan seniman visual Farid Stevy Asta yang juga dikenal sebagai frontman band FSTVLST. Tipografi, salah satu ciri khas karya Farid, menjadi unsur dominan dalam desain artwork album ini.

Lantas apa yang membuat Nerv.ous bertahan dan bahkan sampai merilis album self-titled tersebut? Salah satunya, nilai personal. Nerv.ous menjadi catatan perjalanan band ini pasca merilis mini album pada 2009 silam. Di sini, mereka mempertemukan berbagai wajah musik alternatif yang mempengaruhi mereka — indie rock, “Seattle sound”, shoegazing, art punk, hingga riotgrrl — musik yang akrab bagi mereka yang tumbuh dengan kanal MTV di era 90-an dan 2000-an awal.

 

Kredit foto: Kemal Yusuf

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
tornrot
Read More

TORNROT: Lantang Menentang di Jalan Hardcore

Kebobrokan negara diumbar Tornrot lewat album mini (EP) “Injustice”, dimana mereka mengobarkan protes masalah ketidakadilan dengan lugas dan tegas.
feit
Read More

FEIT: Refleksi Kekerasan di EP Debut

Lewat perilisan album mini (EP) perdana bertajuk “Bound By Destruction”, Feit kembali tunjukkan keberingasannya di ranah metallic hardcore dan metalcore.
moose
Read More

MOOSE: Black Metal Atmosferik dan Melankolis

Lewat lagu debut “Valley of Whispers”, Moose menangkap kondisi mental yang terjebak dalam spiral pesimisme, dalam balutan black metal yang gelap dan melankolis.