INFERNAL LAMENTATIONS: Kolaborasi Sesungguhnya

Dengan formasi berempat, Infernal Lamentations kembali menghajar kuping lewat “The Alchemist”, lagu baru yang semakin menegaskan visi musikal mereka.
infernal lamentations
INFERNAL LAMENTATIONS

Infernal Lamentations terus memanfaatkan momentum untuk melempar karya-karya rekaman yang berbahaya. Kali ini lewat sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “The Alchemist”, yang dieksekusi dengan formasi terbaru.

Ya, selain gitaris Agus ‘Gung Sincan’ Mahardika, vokalis Agustinus Widi Nugroho serta dramer Oki Fadhlan Pamungkas yang sejak awal membangun band ini, kini ada Shadu Rasjidi (eks. Deadsquad) memperkuat formasi.

Pembetot bass bernama asli Muhammad Shadu Shah Chaidar tersebut resmi menghuni Infernal Lamentations pada 27 Juli 2025 lalu, yang diumumkan ke publik lewat akun Instagram resmi mereka.

“Shadu adalah teman baik kami sejak lama dan kami menyadari bahwa kami memiliki visi, chemistry dan cara pandang yang sangat sejalan,” ucap pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkap alasan.

Kontribusinya di “The Alchemist” sendiri menjadi contoh yang paling nyata tentang visi tersebut. Oleh para personel band ini, Shadu mereka anggap mampu menyempurnakan ide-ide yang sebelumnya sudah dibangun tanpa menghilangkan karakter asli lagu tersebut.

“Menurut kami, itulah bentuk kolaborasi yang ideal: bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana setiap orang dapat memberikan kontribusi terbaiknya demi menghasilkan karya yang lebih baik secara keseluruhan.”

Dua Kota

Walau terbilang rilisan baru, tapi band ini mengungkapkan bahwa sebenarnya “The Alchemist” merupakan materi yang sudah cukup lama mereka simpan.

Mereka lantas baru mulai mengerjakannya pada 2025 sebagai fondasi awal, lalu terus berkembang seiring waktu. Ketika Shadu bergabung, proses kreatif pun menjadi semakin utuh.

“Ia tidak mengubah arah lagu yang sudah ada, melainkan menyempurnakannya melalui pendekatan yang sangat musikal, terutama pada bassline dan berbagai pattern yang membuat keseluruhan aransemen menjadi lebih hidup dan memiliki kedalaman yang lebih kuat.”

Sebagian besar proses produksi dan rekaman dikerjakan di Yogyakarta, sementara seluruh bagian bass direkam Shadu di Jakarta.

Meskipun dikerjakan dari dua kota yang berbeda, tapi menurut band ini, proses kolaborasinya berjalan sangat alami karena komunikasi. “Rasa saling percaya dan visi musikal kami sudah terbangun dengan baik sejak awal.”

infernal lamentations

Identitas Intim

Tentang “The Alchemist” sendiri, lirik lagu ini mengisahkan perjalanan seorang pengembara yang meninggalkan segala yang dikenalnya demi menemukan jati diri sejati.

Dalam pengembaraannya, ia menembus batas pengetahuan manusia dan menguasai ilmu-ilmu terlarang yang selama berabad-abad disembunyikan. Namun, kekuatan yang diperolehnya bukanlah demi kejayaan pribadi.

Setelah menemukan makna sejati dari pengorbanan dan tanggung jawab, sang pengembara kembali untuk menghadapi ancaman yang hendak memusnahkan kaumnya.

“The Alchemist” adalah sebuah epos tentang pencarian identitas, harga yang harus dibayar demi pencerahan, serta keberanian menggunakan pengetahuan yang paling berbahaya untuk melindungi mereka yang dicintai.

“Kami ingin perjalanan itu tidak hanya tersampaikan melalui lirik, tetapi juga dapat dirasakan melalui musiknya,” seru Infernal Lamentations menegaskan.

Bagi kami, perbedaan terbesar dibanding karya-karya sebelumnya bukan terletak pada seberapa berat atau kompleks musiknya, melainkan pada cara mereka membangun sebuah cerita.

Di “The Alchemist”, band bentukan 2023 lalu ini mencoba menghadirkan pengalaman mendengarkan yang terasa lebih utuh, dimana setiap bagian memiliki peran untuk mendukung narasi lagu.

“Secara musikal, kami lebih berani mengeksplorasi dinamika, atmosfer serta ruang dalam aransemen,” cetusnya.

“Ada bagian yang terasa megah, ada pula momen yang lebih intim, sehingga lagu dapat berkembang secara alami tanpa kehilangan identitas kami.”

Death Metal

Namun yang menarik, setelah lagu tersebut dirilis, cukup banyak pendengar mereka yang ternyata menangkap nuansa berbeda.

“The Alchemist” dianggap terdengar lebih dekat bernuansa melodic death metal-ish ketimbang technical deathcore yang selama ini lebih identik dengan Infernal Lamentations.

Interpretasi tersebut disambut baik oleh para personel Infernal Lamentations. Buat mereka, karena sejak awal, mereka memang tidak pernah merasa perlu membatasi proses kreatif pada satu label atau formula tertentu.

Selama musik yang mereka ciptakan terasa jujur dan tetap merepresentasikan siapa mereka sebagai band, berarti itu adalah bagian yang wajar dari proses berkarya.

“Pada akhirnya, bagaimana musik ini dipahami sepenuhnya kami serahkan kepada para pendengar. Kami hanya berharap ‘The Alchemist’ bisa menjadi karya yang dapat dinikmati, memberikan pengalaman yang berkesan dan tentu saja menghibur siapa pun yang mendengarkannya.”

Dengan modal beberapa lagu yang telah diperdengarkan, kini Infernal Lamentations tengah menyiapkan sebuah rilisan yang lebih besar. Saat ini, mereka terus mengembangkan materi baru dan mulai menyusun gambaran yang lebih utuh mengenai arah karya berikutnya.

“Kami ingin setiap lagu memiliki alasan untuk menjadi bagian dari proyek tersebut, bukan sekadar menjadi kumpulan single,” cetus mereka meyakinkan.

Sambil menunggu kejutan-kejutan berikutnya, dengarkan atau tonton video visualizer dari “The Alchemist” di tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
metyr
Read More

METYR: Paduan Post-Black dan Blackgaze

Tiga lagu diguyurkan Metyr sekaligus lewat album debut (EP) self-titled yang sarat paduan elemen post-black metal, shoegaze dan post-rock yang atmosferik.
side.b
Read More

SIDE.B: Mendaur Ulang Semangat THIRTEEN

Sebuah ajang nostalgia diwujudkan band baru, SIDE.B lewat reinterpretasi lagu lama band Thirteen, dengan aransemen, energi dan perspektif yang berbeda.
violentia
Read More

VIOLENTIA: Kasar, Bising dan Kacau

Sebuah album mini (EP) debut, “V.I” (dibaca: V-one/satu) akhirnya dikoarkan Violentia setelah tertunda cukup lama, disulut kobaran hardcore/metal yang bengis.