Violentia yang dibentuk di Tangerang Selatan pada 2024 lalu, merangkum dua lagu demo rilisan tunggal yang telah mereka luncurkan sebelumnya.
Bersama empat lagu lainnya, vokalis Rizky Gusti Prabowo, gitaris Master London Mamora dan Krisnanda Yusuf, bassis Joan Hidayat serta dramer Alvin Al-Ghifari mengemasnya dalam sebuah EP perdana bertajuk “V.I” (dibaca: V-one/satu).
Kedua demo yang telah diperdengarkan itu berjudul “Anjing Tiran” (21 Mei 2025) dan “Code Name: T-1000” (30 September 2025), yang dilepas sebagai bentuk perkenalan Violentia kepada publik metalhead.
“V.I” sendiri dimuntahkan Violentia sebagai bentuk ekspresi dari kemarahan serta kekecewaan atas banyak hal yang telah mereka amati, alami dan lalui.
Sebuah simbol dari luapan emosi negatif yang sangat mendidih, lalu dikumpulkan dalam kreativitas kolektif sebagai ruang katarsis.
Secara garis besar, band ini menyebut “V.I” sebagai rangkuman dari percikan respon mereka terhadap isu personal, politik dan sosial yang terjadi dalam keseharian mereka sehari-hari.
Lalu diracik bersama dalam enam trek lagu yang mengombinasikan beberapa sub-genre dari metal/hardcore, dengan terapan gaya serta karakter para personel Violentia sendiri.
“Karena project ini bermula sebagai wadah untuk memuntahkan amarah terhadap banyak keresahan yang terjadi dalam keseharian kami,” urai pihak band kepada MUSIKERAS mengungkapkan.
“Kami membawa pengaruh masing-masing dengan latar belakang yang cukup berbeda ke dalam satu wadah yang sama, lalu dibiarkan kotor begitu saja.”
“Karya kami sangat apa adanya, murni mengalir begitu saja. Yang pasti, benang merah dalam musik kami adalah ‘kasar, bising dan kacau’.”
Multi Instrumentalist
Perancangan EP perdana Violentia ini sebenarnya terbilang cepat. Hanya, menurut mereka, jadwal perilisannya sempat terkendala waktu karena kesibukan masing-masing personel. Sehingga baru bisa rampung setelah setahun memasuki studio rekaman.
Keseluruhan eksekusi rekaman lagu di “V.I” dirampungkan di Fortune Records Studio yang terletak di daerah Cikupa, Kabupaten Tangerang.
Dalam pengerjaan produksinya, mereka dibantu oleh Ari Eka Prasetya (Stopkontak/Heidegger) untuk urusan teknis rekaman, sekaligus sebagai produser pendamping untuk meracik olahan sonik bengis yang mereka butuhkan.
Adalah Krisnanda yang memulai penulisan beberapa ide lagu atau bahkan sudah dalam bentuk demo lagu penuh.
Lalu setelah itu, personel lainnya mengumpulkan ide bersama dan dikembangkan menjadi beberapa lagu lainnya sebelum memasuki studio rekaman.
“Tidak semua materi musik bermula dari riff gitar. Kami lebih bereksplorasi dengan cara-cara yang tidak lazim kami lakukan sebelumnya dan ternyata cukup menantang (juga menyenangkan) untuk dieksekusi.”
Mereka lalu memberi contoh di penggarapan lagu “All of This Hate is Belong to You” serta “FOMOSAPIEN”.
Prosesnya bermula dari ide pola ketukan dram dalam format Midi yang dibuat oleh Joan dan Alvin. Dari situ lalu dikembangkan bersama menjadi satu komposisi lagu yang utuh.
Selain itu, mereka juga melakukan sedikit eksperimen dengan melakukan pertukaran tugas di lagu “FOMOSAPIEN”, dimana Gusti berduet dengan Alvin untuk mengisi vokal.
Sementara posisi dram justru dimainkan oleh Master, gitaris yang kebetulan juga seorang multi-instrumentalist.
Di lini lirik, Gusti dan Krisnanda menulis banyak draft yang lantas disusun agar sesuai dengan kebutuhan tiap lagu yang dibuat. Juga agar sesuai dengan emosi yang ingin mereka ekspresikan.
Khusus di lagu “Metamorfosa Dendam”, keduanya juga dibantu oleh rekan mereka, Ari Pamungkas dalam proses penyusunan lirik. Ia membantu mengkurasi serta menambahkan beberapa diksi pada lirik untuk melengkapi.
“Metamorfosa Dendam” juga disebut oleh Violentia sebagai komposisi paling menantang secara teknis saat proses perekamannya. Alasannya, karena lagu tersebut bisa dibilang merupakan komposisi balada pertama mereka.
“Kami sangat membutuhkan banyak detail pada komposisi musik serta emosi yang terekam harus sesuai dengan lirik yang telah tertulis, agar delivery lagu tersebut sesuai dengan apa yang kami targetkan.”

Misanthropic Powerviolence
Energi hardcore yang membara menjadi benang merah dari konsep musik Violentia keseluruhan. Mereka menyebut formulanya dengan istilah ‘Misanthropic/Violence/Metallic Hardcore’.
“Konteks hardcore yang kami pakai pun lebih mengarah kepada energinya, dimana pengaruh varian sub-genre metal yang dominan dikemas menjadi lagu-lagu berenergi hardcore yang heavy dan straight to the point.”
Begitu juga dengan sumber referensi atau inspirasinya. Sangat variatif. Terbentang mulai dari hardcore punk, death metal, black metal, powerviolence hingga bahkan hip-hop dan electronic.
Kebanyakan referensi musik mereka datang dari album-album yang dirilis pada era 80-an sampai awal 2000-an.
“Kami tidak membatasi apapun di dalam Violentia. Selama bisa kami bawa ke dalam benang merah yang telah kami tulis, kami akan eksekusi. Kami tidak pernah ragu dalam bereksplorasi secara musikal!”
Sejak 1 Juli 2026 lalu, EP “V.I” yang diedarkan label Desecreation369 sudah bisa digeber di berbagai gerai musik digital. Termasuk di laman Bandcamp serta kanal YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Code Name: T-1000
- Anjing Tiran
- All of This Hate is Belong to You
- Metamorfosa Dendam
- FOMOSAPIEN
- God Bless The Flames