DARRAQ: Menabrak Batas Konvensional

Di album mini (EP) debutnya, “Of Human Nature”, Darraq menerapkan banyak warna. Ada elemen black metal, doom metal, doom stoner, groove hingga speed metal.
darraq
DARRAQ

Darraq adalah unit pendatang baru di ranah musik keras Tanah Air. Tapi tanpa basa-basi, band asal Jakarta ini langsung melontarkan EP debut yang memuat tiga amunisi berat.

EP bertajuk “Of Human Nature” tersebut merupakan langkah awal, sekaligus menjadi pernyataan tegas mengenai identitas musik mereka yang kaya, eksploratif dan tidak terpaku pada satu sub-genre metal saja.

Melalui konsep diverse metal genre, Darraq yang digerakkan oleh vokalis Felicia Fridani Fadhilah, gitaris Athalla Sakhiy Sabill, bassis Aidan Widyaputra Pohan serta dramer Yudhistira Raka Bramantya berani menabrak batas-batas konvensional musik ekstrem.

Namun, mereka tetap menjaga benang merah yang solid agar seluruh materi tetap terdengar dalam satu kesatuan arah yang utuh.

“Kami tidak ingin membatasi diri pada satu konsep. Setiap lagu kami biarkan berkembang sesuai emosi dan cerita yang ingin disampaikan. Justru dari keberagaman itu kami menemukan identitas Darraq,” cetus mereka.

Kolaborasi Internal

Proses pengerjaan EP “Of Human Nature” berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Sekitar satu bulan pertama, Darraq fokus di proses rekaman yang dilakukan di Apache Studio.

Satu bulan selanjutnya, masuk ke tahap mixing dan mastering yang dikerjakan oleh Krishna Jow di Tekad Studio.

Tiga lagu yang disuguhkan, yakni “Plague”, “Blank” dan “In My Dreams” ditulis oleh Aidan Widyaputra Pohan.

Lalu proses peracikan komposisi dan aransemen dikerjakan secara bersama oleh seluruh personel. Khusus pengerjaan visualisasi artwork, dipercayakan kepada Felicia.

Jadi dari sisi visual maupun musik, keseluruhan benar-benar dikerjakan secara kolaboratif oleh internal band bentukan 2025 ini.

Di EP “Of Human Nature”, Darraq menerapkan banyak warna. Ada elemen black metal, doom metal, doom stoner, groove hingga speed metal. Tapi menurut para personelnya, mereka tidak sekadar mencampur berbagai genre jadi satu.

“Yang kami lakukan adalah menyusun aransemennya supaya setiap elemen dari berbagai genre itu bisa saling melengkapi dan membentuk satu komposisi yang utuh,” tutur mereka kepada MUSIKERAS.

Makanya, mereka merasa musik Darraq cukup sulit dikategorikan ke satu paham tertentu. Tidak sepenuhnya death metal, tidak juga black metal.

“Jadi kami memilih menggunakan istilah ‘the first metal’ sebagai identitas musikal EP ini.”

Formula warna musik yang luas itulah yang diklaim band ini sebagai pembeda dari band-band keras lainnya. Menurut mereka, belum banyak band yang punya spektrum musikal seperti itu.

“Makanya agak sulit juga kalau harus dibandingkan dengan band-band lain yang sejenis,” cetus mereka meyakinkan.

Dalam peracikan komposisi serta aransemen ketiga lagunya, referensi musik yang mereka dengarkan datang dari berbagai karakter musik yang berbeda.

Beberapa band mancanegara yang mempengaruhi antara lain Nile, Gojira, Death, Evanescence, Pantera dan Tristania.

“Dari masing-masing band itu kami mengambil inspirasi yang berbeda-beda, mulai dari riff, groove, dinamika lagu, atmosfer sampai pendekatan dalam menyusun komposisi.”

Tapi pada akhirnya, imbuh mereka, semua referensi itu diolah lagi menjadi karakter musik khas Darraq. Jadi bukan sekadar meniru, melainkan menggabungkan berbagai pengaruh tersebut menjadi identitas yang mereka sebut sebagai diverse metal.

darraq

Eksplorasi Audio

Dari ketiga lagu yang disuguhkan, Darraq menyebut “Blank” dan “In My Dreams” memberi tantangan dalam produksi rekamannya.

Untuk “Blank”, tantangannya ada di permainan secara teknis. Temponya cukup cepat, sehingga butuh stamina kuat dan secara fisik lumayan menguras tenaga saat proses rekaman.

Sedangkan “In My Dreams” lebih menantang dari sisi produksinya. Mereka banyak bereksperimen dengan teknik rekaman dan eksplorasi audio, sehingga proses mixing dan mastering jadi lebih menantang.

“Karena harus menyeimbangkan semua eksplorasi tersebut agar hasil akhirnya tetap terdengar menyatu dan sesuai dengan nuansa yang ingin kami bangun.”

Sejak akhir Juni 2026 lalu, EP “Of Human Nature” sudah tersedia di berbagai gerai musik digital global. Termasuk di kanal YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
revelish
Read More

REVELISH: Eksplorasi Awal di Metal Modern

Lagu rekaman debut “Falsehood Progression” disuarakan Revelish sebagai penyaluran kemarahan kolektif dalam geberan komposisi metal yang kekinian.
killer of gods
Read More

KILLER OF GODS: Tusukan Kebrutalan Demagogi

Album brutal death metal yang mengangkat kritik atas demagogi dan ketimpangan sosial disemburkan Killer Of Gods lewat sembilan amunisi lagu beringas.
metyr
Read More

METYR: Paduan Post-Black dan Blackgaze

Tiga lagu diguyurkan Metyr sekaligus lewat album debut (EP) self-titled yang sarat paduan elemen post-black metal, shoegaze dan post-rock yang atmosferik.