Metyr yang berasal dari Bandung, Jawa Barat menandai langkah pertamanya dalam skena musik gelap, lewat EP debut self-titled.
Di kemasan album yang beramunisikan tiga lagu tersebut, para personelnya memadukan gagasan dari post-black metal yang atmosferik dengan beragam pengaruh dari elemen shoegaze dan post-rock.
Lewat komposisi lagu berjudul “Altar”, “Unbroken” dan “Haze”, Metyr menghadirkan suara yang berakar pada post-black metal dan blackgaze, sekaligus melampaui batasan-batasan genre.
“Buat kami, yang menarik adalah karena kedua genre ini nggak terlalu terpaku pada batas-batas tertentu, jadi lebih fleksibel dalam eksplorasi musik dan penulisan lagu,” seru pihak band kepada MUSIKERAS.
Eksplorasi itu, sekaligus berfungsi sebagai pengenalan terhadap arah artistik band yang terus berkembang, yang memadukan tekstur post-rock yang atmosferik dengan beragam pengaruh yang melampaui kerangka black metal tradisional.
Metyr yang diperkuat formasi vokalis dan gitaris Ferdian G. Maulana, gitaris Bryan Arkan, bassis Naufal Ikhsan dan dramer Haekal Badjeber menekankan kejujuran emosional dan kerentanan artistik.
Alih-alih mengutamakan kompleksitas teknis pada komposisi lagu, band ini berfokus pada penyampaian ide dan konsep secara autentik.
Pendekatan ini menggelar ruang kebebasan untuk menerjemahkan berbagai gagasan, pengalaman serta suasana ke dalam musik Metyr, tanpa harus mengikuti ekspektasi, tren maupun batasan yang telah ada.
Inti Emosional
Proses penulisan lagu di EP perdana, diutarakan oleh band ini, biasanya dimulai dari ide-ide yang didominasi oleh gitar. Lalu dikembangkan secara kolaboratif oleh Bryan, Naufal atau Ferdian.
“Dari riff-riff awal tersebut, komposisi-komposisi itu berkembang secara alami menjadi lagu-lagu yang utuh.”
Walau di lagu “Unbroken”, mereka mengakui sempat kesulitan dalam pengeksekusian rekamannya.
“Karena secara struktur lagu dan progresi kord lumayan nggak biasa. Ditambah lagi secara BPM (beats per minute) juga agak nanggung, jadi cukup menantang saat proses pengerjaannya.”
Segala bentuk produksi untuk EP ini, termasuk mixing dan mastering, ditangani secara internal oleh Naufal dan Haekal, yang memperkuat komitmen band untuk mempertahankan kendali kreatif atas suara mereka.
Dalam peracikan komposisi serta aransemennya, Metyr mengakui mengutip beragam pengaruh. Di antaranya dari band-band seperti Alcest (Prancis), Mgła (Polandia) serta Deafheaven dan Wolves in the Throne Room (AS).
Termasuk pula musisi dari luar ranah black metal, seperti unit progressive rock, Chon (AS).
Perpaduan yang mencerminkan niat band untuk menjelajahi wilayah musik baru sambil tetap mempertahankan inti emosional dan atmosferiknya.
Menurut band ini, EP “Metyr” yang sudah bisa dinikmati di berbagai gerai musik digital (termasuk kanal YouTube Music serta laman Bandcamp), bisa menjadi pilihan alternatif bagi para pendengar yang mencari sudut pandang baru dan introspektif dalam genre post-black metal. (@mudya_mustamin/MK01)