Buried Conscience adalah unit cadas baru asal Kota Bekasi. Namun meski baru dibentuk pada akhir 2025, band ini langsung tancap gas dengan merilis EP perdananya, berjudul “Kuasa Raja”.
Di karya rekamannya ini, Buried Conscience yang diperkuat formasi vokalis Herangga (Angga), gitaris Mulyadi dan Fananda Widyabirata (Ifan), bassis Fanny Ajiwibowo serta dramer Agni Srenggono ini menggeber formula metal yang berdiri kuat di atas fondasi metal modern.
Mengandalkan riff yang agresif, groove yang kuat serta dinamika yang tetap memberi ruang bagi atmosfer dan emosi.
“Kami tidak ingin membatasi diri pada satu subgenre tertentu. Fokus kami adalah menciptakan musik yang mampu memperkuat pesan di balik lirik,” seru band ini kepada MUSIKERAS.
Bukan sekadar menonjolkan tingkat distorsi atau teknik bermain, lanjut mereka, tetapi bagaimana berusaha menggabungkan intensitas musik dengan narasi yang mengajak pendengar untuk merenung dan berpikir.
Saat proses peracikan komposisi dan aransemen lagu-lagu di “Kuasa Raja”, Buried Conscience menyebut referensi musiknya datang dari berbagai arah.
“Tentu ada pengaruh dari band-band metal yang kami dengarkan sejak lama, baik dari dalam maupun luar negeri,” cetus mereka menegaskan.
Namun demikian, inspirasi terbesar justru berasal dari pengalaman hidup, kondisi sosial serta diskusi di antara personel.
“Kami berusaha mengambil inspirasi tanpa kehilangan identitas, sehingga hasil akhirnya tetap terdengar sebagai Buried Conscience, bukan sekadar mengikuti formula yang sudah ada.”

Sinkronisasi Presisi
Proses kreatif saat menjalani produksi rekaman EP “Kuasa Raja” sendiri lahir dari proses yang cukup panjang. Menurut para personel Buried Conscience, sebagian materi sebenarnya sudah mereka simpan cukup lama.
“Namun kami memilih untuk tidak terburu-buru merekam sebelum benar-benar menemukan karakter suara yang kami inginkan.”
Selama proses produksi, mereka banyak melakukan eksplorasi aransemen, berdiskusi mengenai setiap detail lagu, hingga memastikan setiap komposisi mampu menyampaikan pesan yang ingin mereka suarakan.
“Bagi kami, proses kreatif bukan hanya tentang membuat musik yang berat, tetapi juga menghadirkan karya yang jujur dan memiliki makna.”
Yang unik, justru proses rekamannya sangat singkat. Hanya membutuhkan waktu selama satu hari di Benji Studio. Tapi untuk proses pemolesan mixing dan mastering justru menghabiskan waktu selama satu bulan, yang dikerjakan di Apache Studio.
EP “Kuasa Raja” disesaki empat amunisi tajam yang sarat semburan energi, dengan eksekusi yang tentu saja menantang. Terutama di lagu yang sekaligus dijadikan judul EP.
Selain memiliki struktur yang lebih kompleks, menurut mereka, lagu itu juga menuntut sinkronisasi yang sangat presisi antar instrumen.
“Tantangan lainnya adalah menjaga agar energi yang kami tampilkan saat latihan tetap terasa ketika direkam di studio. Prosesnya memang memakan waktu lebih lama, tetapi justru memberikan hasil yang paling memuaskan bagi kami.”
EP “Kuasa Raja” diproyeksikan Buried Conscience sebagai langkah awal dalam menyuarakan energi, kemarahan serta refleksi tentang kehidupan melalui musik metal yang agresif dan penuh intensitas.
Menggambarkan sisi gelap manusia, pergulatan batin hingga perlawanan terhadap tekanan hidup.
Simak keberingasan lagu-lagunya di berbagai gerai musik digital seperti Spotify, Apple Music hingga YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Hamartia
- Shackles Mortal Life
- Take the Throne
- Kuasa Raja