DANZ adalah perwujudan hasrat para musisi yang selama ini lebih banyak berkiprah di ranah arus utama.
Sang vokalis sekaligus pencipta lagu, Indra Perdana Sinaga (Naga) mulai dikenal luas sebagai vokalis band pop bernuansa rock, Lyla. Namun sejak 2020 lalu, ia resmi memperkuat formasi ADA Band.
Dua personel lainnya, yakni gitaris dan bassis Dennis Rizky masih menghuni Lyla. Sementara sang dramer, Achmad Aris (Amec) kini di formasi band Govinda.
Dibentuknya DANZ sendiri diniatkan untuk mengekspresikan dan memainkan musik yang telah lama mereka impikan sejak pertama kali jatuh cinta pada musik rock.
Di rumah barunya ini, ketiganya menyuguhkan formula modern rock distortif yang lebih gelap, agresif serta eksploratif. Jauh dari warna musik yang selama ini melekat pada nama mereka.
Hasil dari persekongkolan baru tersebut, telah melahirkan sebuah album mini (EP) bertajuk “Gravitasi”, yang sebelumnya telah didahului peluncuran lagu rilisan tunggal pembuka berjudul “Sekte Nekat”.
Untuk proyeknya ini, Naga, Dennis dan Amec mengaku terinspirasi dari band-band keras mancanegara kekinian yang tengah populer saat ini.
Ide dan gagasan musikalitasnya, sedikit banyak datang dari Sleep Token, Dayseeker, President hingga Holding Absence.
Di agresi awalnya di skena cadas, DANZ memilih mengeksplorasi konsep musik yang relevan dengan perkembangan skena musik keras saat ini, sambil tetap mempertahankan sensibilitas pop yang kuat sebagai bagian dari identitas mereka.
“Bagi kami, musik tidak memiliki batas generasi. Kami tidak pernah melihat sebuah band dari era kapan mereka muncul, melainkan dari bagaimana karya mereka mampu menyampaikan emosi dan cerita,” urai DANZ kepada MUSIKERAS menegaskan latar belakang konsepnya.
Menurut mereka, band seperti Sleep Token, Dayseeker maupun President memiliki keberanian dalam membangun atmosfer, dinamika dan emosi di setiap lagunya.
“Mereka tidak hanya mengandalkan riff yang berat, tetapi juga memberi ruang pada melodi, tekstur dan nuansa sehingga setiap lagu terasa memiliki perjalanan emosional. Hal itu cukup menginspirasi kami.”
DANZ juga menekankan, mereka tentu saja berkiblat ke band-band tersebut bukan untuk meniru warna musiknya. Namun justru untuk belajar bagaimana sebuah lagu bisa tetap terdengar keras sekaligus menyentuh secara emosional.
“Kami berusaha mengambil semangat tersebut, lalu menerjemahkannya ke dalam identitas DANZ dengan karakter dan cerita yang kami miliki sendiri.”
Winaldy Senna
Dalam penggarapan “Sekte Nekat” dan EP “Gravitasi” keseluruhan, sebenarnya DANZ tidak bekerja sendiri.
Mereka mengajak Winaldy Senna sebagai produser, dramer dan musisi yang dikenal cukup lihai bereksplorasi di ranah rock dan metal modern.
Sebelumnya, Winaldy juga pernah dipercaya menggarap produksi rekaman band-band seperti 510, Kotak dan Summerlane. Ia kini juga mengibarkan band baru bernama WAIT.
Di produksi “Gravitasi”, Winaldy menajamkan penyatuan ide-ide yang dibawa para personel DANZ, dimana masing-masing datang dengan sudut pandang dan karakter musikal yang berbeda.
Ketika materi dasarnya mulai terbentuk, Naga, Dennis dan Amec pun mengajak Winaldy Senna untuk mendengarkan lagu tersebut.
“Awalnya ini merupakan usulan dari Amec. Kami kemudian mengadakan beberapa sesi diskusi dan hearing bersama hingga akhirnya sepakat untuk menggarap lagu ini secara kolaboratif.”
Menurut mereka, peranan Winaldy di sini bukan mengubah identitas lagu, melainkan mempertajam apa yang sudah ada. Ia banyak memberikan masukan pada bagian hook gitar, ritme, dinamika dram hingga penempatan vokal sehingga setiap bagian terasa lebih tepat porsinya.
“Masukan-masukan tersebut justru membantu pesan yang ingin kami sampaikan menjadi lebih kuat.”

Selama proses pengerjaan EP “Gravitasi”, Winaldy juga banyak membuka cara pandang baru bagi DANZ dalam menyusun aransemen. Mereka belajar melihat sebuah lagu dari perspektif yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka pikirkan.
“Pengalaman itu menjadi salah satu proses pembelajaran yang sangat berharga bagi DANZ.”
Bahkan ada satu momen yang cukup menarik saat mereka merekam isian gitar untuk lagu “Sekte Nekat”. Saat pengerjaan bagian verse kedua lagu tersebut, Winaldy mencoba memainkan sebuah ide gitar distorsi sebagai alternatif, saat Dennis sedang keluar studio.
Ketika Dennis kembali dan mendengarkannya, ia justru merasa ide tersebut sangat cocok dengan karakter lagunya. Akhirnya mereka pun sepakat mempertahankan isian tersebut di versi final.
“Bagi kami, momen itu menggambarkan bagaimana proses kreatif di studio berjalan dengan sangat terbuka. Ide terbaik tidak selalu datang dari siapa, tetapi dari apa yang paling tepat untuk kebutuhan lagunya.”
Peranan Winaldy juga cukup kuat di penggarapan “Gravitasi”, lagu yang disebut DANZ paling menantang. Awalnya, lagu tersebut ditulis oleh Dennis hanya dengan menggunakan gitar akustik.
Bentuk awalnya pun sangat sederhana dengan progresi kord yang lebih cocok dimainkan menggunakan voicing akustik dan belum memiliki gambaran seperti apa aransemen penuhnya ketika dibawakan dalam format band.
Di titik itulah proses eksplorasi benar-benar dimulai. Naga, Dennis dan Amec sempat mengalami beberapa kebuntuan dalam mencari bentuk yang paling tepat agar emosi lagu tetap terjaga ketika dibawa ke format band.
Namun sekali lagi, kehadiran Winaldy Senna memberikan banyak perspektif baru yang membantu mereka menemukan arah aransemen tersebut.
“Sedikit demi sedikit lagu ini berkembang menjadi bentuk yang menurut kami mampu mewakili pesan yang ingin disampaikan. Justru karena prosesnya cukup panjang dan penuh eksplorasi, ‘Gravitasi’ menjadi salah satu lagu yang paling berkesan selama pengerjaan EP ini.”
Tanpa Batas
Lewat EP “Gravitasi” yang diedarkan via label Holdfast Records, DANZ mengeksplorasi tema-tema yang dekat dengan kehidupan: pilihan, ketidakpastian, harapan, kehilangan hingga konsekuensi yang lahir dari setiap langkah yang diambil.
DANZ sendiri ditekadkan sebagai komitmen jangka panjang Naga, Amec dan Dennis untuk terus berkarya. Band ini menjadi medium yang paling jujur dalam merepresentasikan identitas musikal mereka saat ini, tanpa dibayangi masa lalu maupun dibatasi ekspektasi.
Sejak 9 Juli 2026, EP “Gravitasi” sudah bisa dilantangkan melalui berbagai gerai musik digital. termasuk di kanal YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu: