Karam sebenarnya sudah mulai menggarap materi lagu-lagunya sejak pertengahan 2022 silam. Termasuk produksi lagu rilisan tunggal bertajuk “Memoar” pada 28 Februari 2026 lalu, serta “Rekah” yang terbaru.
Saat itu, unit cadas asal Jakarta ini memulai rekamannya di Outlaw Studio. Sayangnya, sesi rekaman yang ditargetkan untuk perampungan sebuah album mini (EP) tersebut kandas di Januari 2023.
“Proyek ini sempat terhenti mengingat situasi yang cukup membusuk untuk dilanjutkan,” urai pihak Karam kepada MUSIKERAS, tanpa merinci detail kebusukan yang dimaksud.
Tapi singkatnya, menjelang akhir 2025 lalu, band yang digerakkan vokalis Dede Ardiansyah, bassis Muhammad Rifqi Aulia dan gitaris Rifal Taufani ini akhirnya bisa melanjutkan proses rekamannya. Kali ini dieksekusi di Benji Musik Studio.
Setelah itu, satu per satu materi untuk EP tersebut perlahan dimuntahkan. Sementara lagu-lagu sisanya tinggal menunggu tanggal rilis yang tepat.
“Rekah” sendiri, diilustrasikan oleh Karam, menjadi salah satu irama syair patah yang tak terarah menuju ruang ke antah berantah dengan membawa beribu marwah tanpa meninggalkan jejak di dasar tanah.
“Sebuah metafora di antara rekatnya duka dan goresan luka yang menganga seolah ngengetuk pintu gerbang di alam baka. Adalah simbolik dengan jeritan sunyi yang menggaung terlantar tak berdaya,” cetus mereka.

Black Doom
Secara musikal, “Rekah” dikemas Karam dengan nuansa yang lebih muram dibanding “Memoar”. Tensinya lebih pekat dan dibangun menjadi sangat personal.
Keseluruhan balutan musiknya mereka bahasakan sebagai perpaduan riff yang melahap cahaya, jeritan yang mengoyak petaka hingga runtuhnya pilar senja.
“Rekah” menjadi isyarat patahan abu kala merayu laksana langit yang gugur layu.
Terapan teknisnya, Karam menerapkan formula musik yang mencoba berdiri di antara balutan black metal dan doom metal, serta cenderung membangun emosi melankolis secara spiritual.
Dalam pengerjaan dan proses penulisannya, Karam mendengarkan karya-karya musik dari band-band ‘gelap’ mancanegara sebagai sumber referensi pengaruh dan inspirasinya.
Di antaranya seperti Warning, A.A. Williams dan Final Dose (Inggris), lalu Mgla (Polandia) serta band-band asal AS macam Saint Vitus, Deftones, King Woman, OM dan banyak lagi.
Secara keseluruhan, proses penggarapan “Rekah” diakui para personel band ini berlangsung sangat menyenangkan. Mulai dari sesi rekaman hingga tahapan final.
Termasuk pemolesan mixing dan mastering yang sepenuhnya dipercayakan kepada Nekrolabs, hingga kesempurnaan visual (artwork) yang dikerjakan oleh Ahmad Yusuf Ginanjar (Serigalanaut).
“Di sisi lain, kami juga sedang mencoba menyicil materi-materi baru yang akan kemas dalam album penuh di tahun depan,” ujar pihak band beri bocoran.
Sejak 15 Juni 2026 lalu, “Rekah” yang dirilis via label Outlaw Records sudah tersebar di berbagai gerai musik digital. Termasuk di YouTube Music. (mdy/MK01)