SIDE.B (atau ditulis SIDE•B) jelas nama belia di skena musik keras saat ini. Tapi para personelnya, bukan wajah baru. Mereka pernah mengibarkan kejayaan unit post-hardcore eksperimental asal Jakarta, Thirteen hampir dua dekade lalu.
Thirteen masih aktif sampai sekarang. Tapi vokalis awalnya, Raynard Rheda Rahardja seolah lenyap dari skena musik selama tiga belas tahun.
Nah, kini Raynard kembali hadir menyapa dengan kegarangan vokalnya. Bukan untuk mengejar nostalgia, bukan pula untuk sebuah reuni, melainkan untuk menuntaskan kisah yang sempat tertunda.
Kelahiran SIDE.B sendiri berawal dari obrolan ringan antara bassis Dicky Suhandi dengan kibordis Rudye Nugraha Putra – keduanya mantan personel Thirteen.
Interaksi emosional itu terpicu kenangan akan mendiang Radityan Akbar (Adit), dramer pertama Thirteen serta momen 20 tahun perjalanan Thirteen. Akhirnya tercetuslah niat untuk memulai proyek baru.
Bersama gitaris Riko Wibowo dan Bondry Haryo Anabrang, yang hingga kini masih aktif di Thirteen, mereka pun sepakat melanjutkan cerita lama dengan wadah baru bernama SIDE.B (di logo menyiratkan angka “13” atau ‘thirteen’).
Esensi Emosi
Semangat inilah yang menjadi fondasi lahirnya SIDE.B. Dan sebagai langkah awal, mereka memperkenalkan lagu rilisan tunggal bertajuk “Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom”.
Sebuah reinterpretasi terbaru dari lagu pertama Thirteen yang kini hadir dengan aransemen, energi dan perspektif yang berbeda.
Lebih dari sekadar daur ulang, lagu tersebut menjadi selebrasi atas dua dekade perjalanan karier musik mereka, sekaligus penanda dimulainya sebuah babak baru.
“Proses kreatif rekonstruksi ‘Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom’ berangkat dari keinginan kami untuk menghidupkan kembali lagu ini dengan nuansa yang lebih matang, tanpa menghilangkan esensi emosinya,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS mengungkap alasannya.
“Kami memilih bernostalgia lewat lagu ini karena karya ini menyimpan banyak kenangan, dan kami ingin mengajak pendengar merasakan kembali momen tersebut dalam warna yang baru.”
Lirik “Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom” sendiri mengangkat tema tentang obsesi, hasrat, dan kompleksitas relasi antarmanusia. Merefleksikan bagaimana keinginan untuk memiliki seseorang dapat perlahan mengaburkan batas antara cinta, ego dan kehilangan.

Music, Friendship
Dari sisi racikan musikal, SIDE.B menegaskan tetap berpegang erat pada akar musik mereka, namun kali ini dengan pendekatan produksi yang lebih modern.
Direkam di Nirock Studio, dengan mempercayakan pemolesan mixing dan mastering kepada Jefri Irsyad (Jeje Guitar Addict).
“Kami memperbarui keseluruhan sound menjadi lebih solid agar selaras dengan atmosfer musik keras saat ini. Bagi kami, relevan bukan berarti mengikuti tren melainkan mengembangkan identitas yang sudah kami miliki agar terdengar lebih fresh.”
Sedikit tentang “Cherry Petite Raspberry”, awalnya lagu tersebut termuat di album debut Thirteen yang bertajuk “It’s All About Party, Music & Friendship” yang dirilis via label Fast Youth Records pada 10 Juli 2008 silam (bisa didengarkan di laman Bandcamp).
Versi awal lagu itu dibalut komposisi yang kental akan raungan post-hardcore/screamo, yang dipengaruhi The Devil Wears Prada (AS) serta Enter Shikari (Inggris), plus susupan elemen klasikal dari karya komposer Johann Sebastian Bach yang berjudul “Toccata and Fugue in D Minor” di intro lagunya.
“Jujur, influence utama kami saat itu memang The Devil Wears Prada dan Enter Shikari. Dua band itu cukup memengaruhi cara kami bermusik,” seru SIDE.B mengakui.
Tapi sejak awal, lanjutnya, mereka hanya menjadikan dua band tersebut sebagai inspirasi. Bukan untuk ditiru mentah-mentah.
“Hasil akhirnya tetap terdengar sebagai karakter musik kami sendiri, karena kami datang dari latar belakang dan referensi musik yang beragam.”
Gairah untuk melanjutkan semangat yang dibangun lewat SIDE.B tentunya tidak berhenti di peluncuran “Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom” saja.
Karena band ini meyakinkan bahwa kini mereka tengah fokus menulis materi-materi baru yang diharapkan segera rilis. Juga ada rencana untuk melepas sebuah album mini (EP) atau album penuh.
“Tetapi kami tak ingin terburu-buru. Kami ingin memastikan setiap langkah yang kami ambil benar-benar sesuai dengan visi dan perkembangan musik kami.”
Tonton video musik “Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom” di tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)