NERV.OUS Akhirnya Lunasi Utang Album

Gedung auditorium Institut Francais Indonesia di Yogyakarta kembali menjadi saksi sejarah bagi Nerv.ous, kelompok pengayak corak indie rock, “Seattle sound”, shoegazing, art punk dan riotgrrl asal Yogyakarta. Pada 31 Oktober 2016 lalu, mereka kembali menjejakkan kaki di tempat tersebut untuk menggelar peluncuran resmi album perdana yang juga bertajuk “Nerv.ous”. Tujuh tahun silam, Nerv.ous juga menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi pertunjukan peluncuran album mini yang bertajuk “One for a Brighter Future”

“Tahun 2009 kami main di ujung sana, 2016 di sini, mungkin habis ini kami akan main di atas,” seloroh vokalis/gitaris Desiree Aditya sambil menunjuk langit-langit auditorium.

Di showcase yang digagas label Yellow Records dan didukung brand TNGR tersebut, Nerv.ous yang juga diperkuat Argha Mahendra (dram), Eka Jayani Ayuningtyas (bass, vokal) dan Marcello Whisnu Marhendra (gitar) membawakan 11 lagu dari album baru mereka, yang dibagi dalam dua sesi: hitam dan putih. Panggung dihias ornamen bernuansa kelam plus tayangan video mapping karya seniman visual The Departure (Raphael Donny). Di jeda antara kedua sesi, penonton disuguhi video karya Anggito Rahman berisi cerita personel band dan kolaborator tentang pembuatan album debut tersebut.

Di sesi bertajuk “Nerv.ous and friends”, mereka mengajak musisi tamu, yakni Danu Kusuma Wardhana yang bermain biola di dua lagu, lalu Farid Stevy, seniman visual dan frontman band FSTVLST yang bertanggung jawab atas desain dan artwork album “Nerv.ous” untuk berkolaborasi di lagu “23”. Mengaku tak ada ide, Farid memancing tawa penonton saat ia membaca pesan-pesan di ponselnya — promo provider, tagihan, hingga penipuan. Acara ditutup dengan ucapan terima kasih dari band ke semua pihak pendukung.

Selesainya pertunjukan yang menjadi presentasi album perdana seakan menandai lunasnya ‘utang’ Nerv.ous, khususnya kepada rekan-rekan mereka yang selalu mendukung walaupun mereka sempat tidak aktif sejak akhir 2011. Materi album “Nerv.ous” sendiri sebenarnya sudah mulai terkumpul sejak 2009. Sebagian merupakan materi comotan dari album “One for a Brighter Future” (2009) yang direkam ulang. Dari segi tema, album ini masih bernuansa introspektif dan gelap, menjelajah relung pikiran manusia dalam berbagai fragmen cerita; mulai dari pembunuhan (“Love”), bunuh diri (“Lagu Angsa”), represi seksual (“Masturbating with My Guitar”), keinginan pergi dan mengubah identitas (“Away”), hingga berjoget di pertunjukan musik (“Kakiku dan Aku”). Setelah merilis album “Nerv.ous”, band ini berencana melakukan tur ke sejumlah kota di Indonesia pada awal 2017.

Kredit foto: Kresno Bagus

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darraq
Read More

DARRAQ: Menabrak Batas Konvensional

Di album mini (EP) debutnya, “Of Human Nature”, Darraq menerapkan banyak warna. Ada elemen black metal, doom metal, doom stoner, groove hingga speed metal.
revelish
Read More

REVELISH: Eksplorasi Awal di Metal Modern

Lagu rekaman debut “Falsehood Progression” disuarakan Revelish sebagai penyaluran kemarahan kolektif dalam geberan komposisi metal yang kekinian.
killer of gods
Read More

KILLER OF GODS: Tusukan Kebrutalan Demagogi

Album brutal death metal yang mengangkat kritik atas demagogi dan ketimpangan sosial disemburkan Killer Of Gods lewat sembilan amunisi lagu beringas.
metyr
Read More

METYR: Paduan Post-Black dan Blackgaze

Tiga lagu diguyurkan Metyr sekaligus lewat album debut (EP) self-titled yang sarat paduan elemen post-black metal, shoegaze dan post-rock yang atmosferik.