NECROVYNE: Visual Kei Metalcore yang Menantang

Lewat karya debut, “Sleep in Design”, Necrovyne menegaskan visinya membawa nuansa baru konsep Visual Kei ke ranah modern metal yang teknikal.
necrovyne
NECROVYNE

Necrovyne menawarkan gabungan agresivitas modern metal dengan elemen teatrikal khas Visual Kei di peluncuran lagu rilisan tunggal debutnya, “Sleep in Design”.

Lagu itu bukan sekadar rilisan, tapi sebuah pernyataan (statement). Dinamika lagunya bergerak kontras, yaitu dengan vokal yang clean bernuansa megah di bagian chorus, scream yang agresif serta struktur permainan gitar yang presisi sebagai fondasi karakter sound yang kuat.

Sementara dari sisi lirik, “Sleep in Design” membahas konflik batin, ketegangan moral dan fase ketika seseorang mulai berdamai dengan sisi gelapnya sendiri. Sebuah paradoks dimana individu tersebut menemukan ketenangan di dalam kehancuran.

Narasi ini diperkuat dengan penggunaan tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris dan Jepang untuk memperluas jangkauan emosional sekaligus identitas global mereka.

Menurut band metal asal Bandung, Jawa Barat ini, mereka mengarahkan “Sleep in Design” sebagai refleksi psikologis, tentang konflik batin yang dialami setiap manusia, termasuk para personel Necrovyne sendiri.

“Ini soal peperangan abadi antara sisi terang dan sisi gelap di dalam diri kita. Isinya menceritakan fase dimana seseorang akhirnya bisa berdamai dan menerima sisi kelamnya itu untuk bisa nemuin ketenangan,” ujar gitaris sekaligus produser, Ahmad Assundawi (Aswe).

Lintas Kota

Necrovyne sendiri resmi terbentuk pada 11 Februari 2025 lalu, dengan formasi yang saling terpisah jarak domisili.

Vokalis Aldy Rivaliady bermukim di Cimahi, lalu bassis sekaligus audio engineer Sandi Ardiansyah (Dai) di Sukabumi dan dramer yang juga mengoperasikan synthesizer, Gilang Akashina (Shina) di Bandung. Sementara Aswe merupakan personel yang paling jauh, di Bali.

Jadi mereka sepenuhnya beroperasi secara ‘remote’ lintas kota. Seluruh proses kreatif musik maupun visual dibangun jarak jauh. Di sini, para personel Necrovyne menjadikan jarak bukan lagi batas, justru sebagai identitas sekaligus pendekatan kerja yang mempercepat proses kreatif.

“Jarak justru bikin proses kerja kami jadi lebih cepat dan fokus sampai akhirnya bisa rilis single perdana ini,” ujar Aldy meyakinkan.

“Karena kerjanya remote, sistem oper-operan data kayak gini terbukti lumayan efektif buat kami,” ucap Aswe menambahkan.

Meski baru memulai proses rekaman pada Januari 2026 lalu, namun konsep dan arah musikal Necrovyne telah dipersiapkan secara matang sejak awal.

Proses pengerjaan “Sleep in Design”, Necrovyne butuh waktu sekitar empat hingga lima bulan, dimulai sejak Januari hingga rampung pada Mei 2026.

Tahapan awal produksinya dimulai dari Dai yang menyusun kerangka lagu, aransemen serta draf lirik sebelum materi demo dibagikan kepada personel lain untuk dikembangkan lebih lanjut secara kolektif.

Shina kemudian menambahkan elemen synth dan sequencer guna memperkaya lapisan suara, sementara proses mixing dan mastering ditangani langsung oleh Dai.

necrovyne

Ketegangan Atmosferik

Biasanya, band-band yang menerapkan paham Visual Kei, secara tradisional kerap kali mengambil akar dari alternative metal, gothic atau symphonic metal.

Namun terapan Necrovyne di “Sleep in Design” jauh lebih ekstrem. Mereka menjadi berbeda lantaran membenturkan estetika teatrikal Visual Kei dengan keagresifan modern metalcore.

“Secara spesifik memasukkan elemen dan struktur low-tuned guitar ala Djent dan Thall. Kami tidak hanya mengandalkan visual, tetapi juga memberikan bobot ritme yang sangat kompleks, dissonant dan berat,” seru mereka kepada MUSIKERAS.

Selain itu, narasi lagu tentang filsafat eksistensi ketuhanan manusia dan iblis ini dibalut dalam lirik tiga bahasa tadi. Sebuah konsep yang merepresentasikan peperangan psikologis manusia, memberikan dimensi eksplorasi bahasa yang jarang dilakukan band di skena lokal.

Sementara saat meracik komposisi serta aransemen lagunya, Necrovyne banyak menyerap energi dari band-band pelopor modern metalcore, deathcore dan serta thall dari ranah Barat.

Di antaranya seperti Vildhjarta, Humanity’s Last Breath, Veil of Maya, Polaris, Alpha Wolf hingga Lorna Shore untuk ketegangan atmosferiknya.

“Sementara untuk attitude, struktur vokal eksentrik dan peleburan elemen elektronik, kami mengacu pada raksasa panggung Loud Rock/Neo Visual Kei Jepang seperti Dir En Grey, Jiluka, Dexcore dan Nocturnal Bloodlust.”

Sinkronisasi Visi

Necrovyne mengakui, tidak mudah memadukan modern metal dengan visual kei. Bagi mereka, konsep ini adalah tentang menciptakan shock value dan benturan kontras yang sempurna.

“Sangat menarik ketika audiens melihat visual kami yang megah, androgini dan teatrikal ala Visual Kei, namun audio yang menghajar telinga mereka adalah distorsi low-tuned yang brutal, ritme dissonant ala thall dan djent.”

Konsep ini, lanjut mereka, membuat narasi Necrovyne yang sangat sarat akan filsafat ketuhanan, eksistensialisme manusia dan sisi gelap manusia tidak hanya bisa didengar, tapi terwujud utuh sebagai teater visual.

Namun dalam penerapannya, para personel Necrovyne harus menghadapi tantangan dari dua sisi, yaitu eksekusi teknis dan stigma skena.

“Pertama, secara teknis, memainkan aransemen metalcore, djent/thall yang membutuhkan presisi tinggi dan ritme rumit sambil mengenakan kostum berlapis serta make-up tebal adalah ujian stamina fisik yang gila di atas panggung.”

“Terlebih lagi, meracik konsep visual sedetail ini secara 100% remote menuntut sinkronisasi visi yang sangat ketat antar personel.”

Tantangan kedua, adalah menabrak tembok stigma. Di skena metal puritan, terkadang ada skeptisisme terhadap band yang terlalu ‘berdandan’. Sementara di sisi audiens pop-rock/Visual Kei konvensional, musik modern metalcore bisa terdengar terlalu berat.

“Tantangan kami adalah membuktikan bahwa visual kami bukanlah kedok untuk menutupi skill, melainkan identitas yang setara dengan brutalitas musik kami dan kami menyuguhkan musik metal yang masih enak untuk dinyanyikan.”

Sambil mempromosikan “Sleep in Design”, saat ini Necrovyne juga tengah mengarahkan fokus ke proses persiapan menuju perilisan album mini (EP) perdana.

Tapi sebelumnya, bakal ada rilisan tunggal kedua yang dijadwalkan diperdengarkan pada September 2026, sebelum akhirnya merilis EP penuh pada Desember di tahun yang sama.

Sisa perjalanan 2026 akan difokuskan untuk penyelesaian materi di studio, sementara agenda tur direncanakan mulai berjalan pada awal Januari 2027 setelah seluruh rangkaian produksi rampung.

“Sleep in Design” sudah beredar luas di berbagai gerai digital sejak 8 Mei 2026 lalu. Untuk video musiknya, bisa disaksikan via tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
cloudcry
Read More

CLOUDCRY: Pendekatan Tajam dalam Metalcore

Sebuah ‘surat dari luka yang dalam’ kini disuarakan Cloudcry lewat berondongan metalcore yang lebih padat, tajam, agresif sekaligus emosional.
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.