Kehebohan Seru di “The Spirit of YNGWIE MALMSTEEN”

Gelaran “The Spirit of Yngwie Malmsteen” di JK7 Bar & Club, Kemang, Jakarta Selatan semalam benar-benar seru dan ‘pecah’! Lima belas gitaris menghajar komposisi-komposisi cepat dan gawat milik gitaris rock virtuoso legendaris asal Swedia tersebut selama kurang lebih lima jam non-stop. Penonton pun – yang sebagian besar juga gitaris – dibuat ‘orgasme’ berkali-kali!

Pesta penghormatan buat Yngwie Malmsteen malam itu menghadirkan Imanine (J-Rocks) dan Irvan Borneo sebagai bintang utama. Dengan dukungan Novyrock (vokal), Oktav “Edane” (bass), Reza (dram) dan Sonny (kibord), Keduanya memanaskan suasana di dalam venue malam itu secara bergantian menggeber lagu-lagu terbaik Yngwie seperti “Far Beyond the Sun”, “You Don’t Remember, I’ll Never Forget”, “Never Die”, “Brothers”, “Dreaming”, “I’ll See The Light”, “Like An Angel”, “Seventh Sign” serta “Vengeance”.

Irvan – yang kendati kesehatannya dalam kondisi kurang fit – tetap mencengangkan penonton lewat permainan gitar yang presisi, dan melahap sebagian besar lagu bertempo tinggi dengan lihai. Sementara Imanine bisa dibilang mengambil sisi liar Yngwie Malmsteen saat berada di panggung, in your face stage act dan sarat energi yang berkobar. Bahkan ketika membawakan komposisi “Blackstar”, Imanine meladeni jual-beli lick dengan gitaris rock legendaris, Eet Sjahranie (edane) yang didaulat spontan untuk jamming“Nggak seperti duel rasanya, tapi ngejam dan seneng banget bisa main bareng,” cetus Imanine bangga.

Di sela penampilan Irvan dan Imanine, tampil pula empat gitaris tamu, yakni Coki Bollemeyer (NTRL/Blackteeth/Sunyotok), Aria Baron, Sony Ismail (J-Rocks) dan shredder Ezra Simanjuntak (Zi Factor) yang masing-masing menggetarkan panggung lewat komposisi seru “Bedroom Eyes”, “Heaven Tonight”, “Blue” dan “Rising Force”. Kehadiran mereka menambah keseruan acara tersebut, sekaligus memberi sentuhan style yang berbeda dari masing-masing gitaris.

“Pecaaaaah (acaranya)! Asli, seru dan fun banget. Nonton teman-teman gitaris ngebut-ngebutan bawain lagu-lagu Yngwie versi mereka masing-masing. It’s an honor to share the same stage with you, guys! Salute,” seru Ezra lewat laman Instagram pribadinya.

Sebelum penampilan para gitaris yang disebutkan di atas, gelaran “The Spirit of Yngwie Malmsteen” terlebih dulu sudah dipanaskan aksi sembilan gitaris dari komunitas GTS (Gitaris Teman Semua) serta LOG (Land of Guitarists), yakni Gavin Iedema (yang membawakan komposisi “Evil Eye”), lalu Marcell Hadisaputro (“Trilogy Suite Op: 5”), Romano Guitarboy (“Air on A Theme”), Bay Guitaro (“Icarus Dream”), Adam Akbar (“Demon Driver”), Iwan Cumi (“I’m A Viking”), Adli Noor (“Caprici Diablo”), Zendhy Kusuma (“Fugue”) serta Adien Fazmail yang menggubah komposisi “Amberdawn” ke format flamenco, lengkap dengan wanita penarinya. Di tangan mereka, penonton disuguhkan eksplorasi kreatif, dimana masing-masing gitaris bebas menginterpretasi lagu-lagu Yngwie Malmsteen sebebas dan sekreatif mungkin.

Di antara para penonton malam itu, hadir beberapa musisi penggerak musik-musik keras dan bahkan juga dari industri pop, seperti Eet Sjahranie (edane), Baken dan Andyan Gorust (Hellcrust), DD Crow (ROXX), Taraz Bistara (Triad), Irfan Aulia (Samsons), Adrian Adioetomo dan Denny Chasmala (gitaris/produser). Saat lagu “Blackstar” dikumandangkan, Eet, DD Crow, Denny dan Baken didaulat ke panggung untuk jamming.

Ide penyelenggaraan “The Spirit of Yngwie Malmsteen” sendiri digagas bersama oleh Irvan Borneo, Imanine dan Mudya Mustamin (founder Musikeras.com) yang menamakan diri mereka, “Neo-Classical Trio”, dan mendapat dukungan penuh dari SuperMusicID. 

“Gue seneng banget acaranya akhirnya bisa terlaksana dan berjalan lancar. Dan juga mudah-mudahan akan terus berlanjut,” ulas Imanine bersemangat.

Yngwie Malmsteen dikenal sebagai gitaris rock paling teknikal yang pernah muncul di era ‘80an, dimana ia menggabungkan pengaruh rock, blues dan classical ke dalam teknik permainan gitarnya, yang antara lain diwujudkan lewat penerapan teknik sweep-arpeggio picking cepat yang telah menjadi ciri khasnya, yang langsung menempatkan namanya sebagai pengukir “cetak biru” genre neo-classical metal ke dalam buku suci dunia pergitaran dunia. Album pertamanya yang fenomenal, “Rising Force” (1984) menjadi penanda dimulainya era – atau munculnya istilah “shredder”, yang lantas menginspirasi jutaan gitaris di seluruh dunia hingga hari ini.

Selain dikenal sebagai gitaris virtuoso dengan kharisma superstar yang melekat kuat, musisi asal Swedia ini juga tercatat sebagai salah satu penulis lagu dan komposer rock terbaik dunia lewat karya-karya lagunya yang juga sukses secara komersil di seluruh dunia. (Mdy)

 

Kredit foto: Adi Wirantoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *