Biang Math-Metal/Avant-Garde Metal, SIKTH Segera Rilis Album Baru

SikTh is back!

Dalam kancah metal progresif berkontur mathcore dan avant-garde metal, SikTh adalah satu pemantik awal yang paling berpengaruh, disamping Meshuggah. Bisa dibilang, warisan band asal Inggris bentukan 1999 tersebut diyakini telah melahirkan turunan musik bernama djent, yang kini dianut band-band muda seperti Protest The Hero, TesseracT, Animals As Leaders hingga Periphery.

Kini, di bawah kibaran bendera Millennium Night – divisi baru bentukan  Snapper Music, sebuah label yang merupakan bagian dari Peaceville Records & Kscope – SikTh bakal merilis album terbarunya yang bertajuk “The Future in Whose Eyes?” pada 2 Juni 2017 mendatang. SikTh sendiri terakhir kali mengeluarkan album pada 2006 silam, yang berjudul “Death of a Dead Day”.

“Album ini adalah sesuatu yang ingin kami wujudkan,” cetus Dan Weller via press release, gitaris SikTh yang juga sekaligus menjadi produser di album baru tersebut. “Sejak SikTh terbentuk, kami selalu mencoba mengembangkan diri kami sebagai musisi dan sebagai penulis lagu. Kami sangat serius dalam memperlakukan musik kami. Kami menghabiskan waktu setahun menggarapnya dan mendorong diri kami bekerja lebih keras, terkadang terlalu keras. Saya ingin album ini membuktikan kualitas kami. Saya tidak perduli jika terdengar terlalu ambisius, (tapi) kami ingin album kami didengarkan oleh seluruh penggemar metal di planet ini.”

Secara pribadi, inilah album terbaik kami,” seru vokalis dan penulis lirik SikTh, Mikee W Goodman menimpali. “Saya telah menggiring diri saya ke tempat-tempat yang sangat gelap, mengomentari dunia ini dari sudut pandang saya, dan juga menyelam ke dalam dunia fiksi dan ruang mimpi. Di sana ada beberapa momen indah. Kami telah menghasilkan musik yang luar biasa, brutal, teknikal yang dibungkus dengan sentuhan momen-momen psikedelik. Kami telah melakukan hal yang sangat istimewa kali ini.”

SikTh menggarap “The Future in Whose Eyes?” di beberapa studio, yakni di studio rumahan milik Mikee, di R&R Studios (milik gitaris Iron Maiden, Adrian Smith) dan di Monkey Puzzle House Studios. Ada perubahan formasi di album ini, dimana posisi vokalis Justin Hill yang mengundurkan diri pada 4 Juni 2016 lalu telah digantikan oleh Joe Rosser dari Aliases. Lalu di trek “Cracks Of Light”, mereka mengajak vokalis Peripherry, Spencer Sotelo untuk berkolaborasi. Sementara untuk pengeksekusian mixing, SikTh juga mempercayakannya pada Adam “Nolly” Getgood, bassis Periphery.

Ihwal kolaborasi Mikee Goodman, Joe Rosser, Dan Weller, Graham “Pin” Pinney (gitar), James Leach (bass) dan Dan “Loord” Foord (dram) dengan Periphery sendiri berawal dari pengalaman tur bersama di Amerika Serikat pada musim panas 2016 lalu, yang lantas menjadi pertemanan yang saling menginspirasi. “Saya sangat menyukai Periphery dan terutama pada suara vokal Spencer. Dia bukan penyanyi djent yang biasa, dan seorang yang sangat spiritual. Dia tahu dirinya dan pikirannya dengan sangat baik dan kami bisa menguasai lagunya dengan sangat cepat,” ungkap Mikee meyakinkan.

Sejak terbentuk pada 1999 silam, SikTh telah menghasilkan dua album fenomenal, yakni “The Trees Are Dead & Dried Out Wait for Something Wild” (2003) dan “Death of a Dead Day” serta empat album mini (EP) yang berjudul “Let the Transmitting Begin” dan “How May I Help You?” (2002), “Flogging the Horses” (2006) serta “Opacities” (2015).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
morgia
Read More

MORGIA: Formasi Bertiga, Makin Eksperimental

Usai melewati masa krisis formasi, kini Morgia kembali menggeliat dengan meluncurkan lagu rilisan tunggal terbaru, yang lebih gelap, mekanis dan imersif.