TIKAM Akhirnya Lampiaskan Kemarahan dalam “Jurnal Amarah”

Lewat sebuah video musik bertajuk “Tanda Tanya” yang sudah ditayangkan di kanal YouTube, band metal asal Surabaya, TIKAM secara resmi mengabarkan rencana peluncuran album debutnya, “Jurnal Amarah” yang bakal mulai diedarkan tepat pada perayaan Record Store Day Surabaya, pada 23 April 2017 mendatang.

“Jurnal Amarah” yang dirilis via label INSTING Creative Lab yang merupakan dapur produksi milik TIKAM sendiri, digarap Bayu Karna (vokal), Bima Kordes (gitar), Fajar A. (gitar), R. Wiryawan (dram) dan Cak Boker (bass) di studio INSTING Creative Lab yang juga merupakan dapur produksi milik Tikam sendiri. Bukan hanya rekaman yang dieksekusi studio ini, tapi juga proses mixing, mastering hingga penggarapan video. Sementara untuk jabatan produser diserahkan sepenuhnya kepada Cak Boker yang dibantu oleh Joshua Pello dari Insting Creative Lab untuk penanganan tata suara (mixing serta mastering).

TIKAM sendiri mulai mengumpulkan materi lagu sejak 2013 silam dan mulai merekamnya menjadi lagu-lagu utuh tiga tahun kemudian. Karena sempat terjadinya pergantian personel, akhirnya seluruh lagu yang telah mereka garap dievaluasi kembali agar lebih relevan dengan formasi baru. Dari sekitar 20 lagu yang mereka miliki dipangkas menjadi 14 lagu, terdiri dari sembilan lagu lama dan lima lagu baru yang tercipta setelah formasi terbaru terbentuk.

Uniknya, di album “Jurnal Amarah”, para personel TIKAM menyelipkan dua lagu berbahasa Jawa, di antara sembilan lagu berbahasa Indonesia serta tiga komposisi instrumental. “Karena kami lahir di Pulau Jawa, dan saat ini bahasa Jawa adalah bahasa yang asing bagi anak muda Jawa itu sendiri, terutama di kota kami,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS.

Di kota yang super sibuk, kata mereka, mungkin banyak orang tua yang tidak sempat mengajarkan penggunaan bahasa Jawa yang baik kepada anaknya sehingga sering sekali ditemui anak muda bicara tidak sopan kepada orang yang lebih tua. “Karena dia tidak paham bahwa bahasa yang dia gunakan itu bukan untuk orang tua. Karena dalam bahasa Jawa ada tingkatan, bahasa yang digunakan untuk orang tua berbeda dengan bahasa yang digunakan kepada sebaya. Nah, lirik dengan bahasa Jawa ini hanya salah satu usaha saja agar bahasa Jawa naik ke tingkat yang lebih keren, karena digunakan pada lagu metal dan apabila hal ini menular maka bahasa Jawa tidak menjadi asing lagi di kalangan anak muda Jawa sendiri. Sebenarnya beberapa personel kami juga tidak biasa dalam menggunakan bahasa Jawa, tapi untungnya dua orang dari personel kami masih mengalami didikan bahasa Jawa dari orang tuanya. Sementara sisanya adalah manusia modern yang menggunakan bahasa-bahasa Suroboyo-an kekinian. Dari situlah akhirnya sesama personel saling belajar. Lalu muncul ide kenapa tidak dipakai dalam karya saja, agar orang lain juga ikut tertarik mempelajarinya?”

Deretan ekspresi kemarahan menjadi titik sentral penuturan lirik di album ini, sesuai judulnya. “Album ini adalah catatan kemarahan kami mengenai apa yang kami lihat dan kami rasakan sendiri,” cetus pihak band lagi.

Mereka memberi contoh, misalnya di lagu “Sumpah Belati” yang meluapkan kekesalan para personel TIKAM terhadap orang-orang yang berusaha menggagalkan band mereka di awal karir, dan lagu ini pun menjadi semacam janji untuk menunjukkan bahwa TIKAM tidak akan mudah dibunuh. Atau seperti di lagu berjudul “Serangan Singkat” yang melampiaskan kekesalan mereka terhadap orang-orang di sekelilingnya yang terlalu banyak menebar teori tapi sama sekali tidak ada praktek.

“Dalam dunia musik tidak jarang kami menemui senior yang mendikte kami mengenai apa yang harus kami lakukan dan apa yang tidak boleh kami lakukan. Nyatanya di lapangan, teori itu sering kali tidak berhasil dan kami harus menggunakan kreatifitas kami untuk menjalankan roda industri. Pada lagu ‘Serangan Singkat’, kami ingin mengingatkan kepada semua orang bahwa hidup ini adalah serangan singkat. Jadi jangan terlalu banyak berteori, keburu tua, berkeluarga, dan nggak bisa ngapa-ngapain!”

TIKAM yang terbentuk sejak 11 Desember 2013 silam ini memang sepertinya sangat total di album pertama mereka ini. Bahkan pengutaraan di lini lirik dibiarkan seterus-terang mungkin, mendalam dan bahkan cenderung vulgar. “Makanya secara keseluruhan lirik pada album ini tidak baik dikonsumsi untuk anak di bawah 18 tahun disebabkan oleh gaya penyampaian (liriknya).”

Salah satu hal menarik pada album ini adalah, selain dari sudut pandang manusia terkadang para personel TIKAM juga menceritakan diri sebagai makhluk fiktif yang merencanakan kejahatan atau memberikan kekuatan untuk melakukan kejahatan. Seperti di lagu “Agenda Pengalihan” dan “Eulogi” misalnya. Lirik lagu yang disebut pertama menyoroti tentang manusia yang sudah tidak percaya pada pemerintah, namun manusia percaya pada agama.

“Maka gunakan saja agama ini sebagai senjata untuk menggerakkan manusia. Lalu ada lagi pada lagu ‘Eulogi’, di situ si makhluk menagih apa yang menjadi haknya kepada manusia yang dulu pernah memanggilnya untuk kekuasaan. Menurut si makhluk, waktu yang dimiliki oleh manusia tersebut telah berakhir, tidak mungkin dia terus melayaninya. Maka sekarang saatnya untuk bergantian, si makhluk ini akan bersenang-senang menghancurkan si manusia tadi. Karena makhluk ini tidak butuh uang, wanita atau kekuasaan, maka apa lagi yang bisa membuatnya bersenang-senang? Ibarat anak kecil yang membuat kastil dari lego kemudian menghancurkannya tanpa rasa menyesal karena Dia bisa saja membuat kastil lagi kapan pun dia mau. Maka si makhluk ini menghancurkan si manusia tadi, tanpa rasa menyesal toh ada banyak manusia lain yang akan menghampirinya.”

Di penggarapan “Jurnal Amarah” ini, TIKAM yang banyak bereksperimen dengan formula musik dari Metallica, Pantera, Slipknot, Lamb of God hingga Behemoth ini juga mengajak beberapa musisi lokal Surabaya untuk berkolaborasi. Di antaranya ada Gilang (gitaris Amonra) di lagu “Batas Luka”, Eltikei dan Bonky untuk mengisi rap pada lagu “Kekal” serta gitaris Fauzi Kojel untuk mengisi lead pada trek instrumental berjudul “Tanpa Kata”. (mdy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.