Peluncuran EP GHO$$ dan Persiapan Rekaman di Australia

Berawal dari kejenuhan terhadap musik metal, akhirnya menjadi pemicu lahirnya GHO$$, band indie rock asal Jakarta yang baru saja memenangkan ajang kompetisi Rockin’ Battle 2017 pada 6 Mei 2017 lalu. Suatu saat di 2014 silam, adalah vokalis Diegoshefa dan gitaris Diego Aditya yang merasakan kejenuhan tersebut, dan lantas sepakat membentuk band baru. Keduanya kemudian mengajak Dito Adhikari (bass), Harry Iskandar (dram) dan terakhir Fadhi Perdana (gitar/synth) untuk bergabung.

Butuh sekitar dua tahun bagi formasi ini untuk menemukan jati diri musik buat GHO$$, hingga akhirnya berhasil menggarap sebuah album mini (EP) yang rencananya bakal rilis bulan ini. Sementara dua single dari karya rekaman tersebut, yakni “Care.Le$$” dan “N” telah dilepas lebih dulu ke kanal-kanal digital dan media sosial serta YouTube.

Menurut gitaris Diego yang dihubungi MUSIKERAS, keseluruhan proses penggarapan produksi album GHO$$ tersebut menerapkan proses DIY (do it yourself). “Mulai dr produce, home recording, penggarapan artwork untuk sampul CD, sampai mixing dan mastering kami kerjakan sendiri. Rekamannya hampir seluruhnya dikerjakan di rumah agar pengerjaan lebih intim dan tidak terpatok oleh jam sewa studio.”

Konsep musik yang cenderung’gelap’ akhirnya menjadi benang merah di pengolahan komposisi musik GHO$$, yang merupakan hasil penggabungan berbagai referensi dan latar belakang para personelnya. Pengaruh terbesar datang dari band-band seperti Gorillaz, Portishead, Arctic Monkeys, The Neighbourhood, Massive Attack hingga Tricky.

Tapi “Care.Le$$” dan “N” sendiri dipilih sebagai single perkenalan karena dianggap lebih mudah diterima khalayak ramai, baik dari tema lirik maupun musiknya. “Perlahan kami memperlihatkan warna asli musik GHO$$ pada lagu ‘care.le$$’, komposisi dan bagan lagunya lebih teratur seperti lagu yang biasa kita dengar, ada verse1, bridge, chorus, verse2, bridge, chorus, verse3, chorus. Dengan bagan serperti itu pesan lagu lebih mudah tersampaikan. Untuk lagu ’N’ pun hampir sama, cuma tanpa verse 3. Karena pada lagu ’N’ kami mencoba bereksperimen dengan bagan lagu, apakah pesan emosional lagu dapat tersampaikan meskipun tanpa lirik. Kami tonjolkan ambient warna asli musik Gho$$ di akhir lagu.”

Setelah dinobatkan menjadi juara di Final Audition SuperMusic.ID Rockin Battle dan berhak atas hadiah berupa kesempatan rekaman di Studios 301, Sydney, Australia di bawah arahan produser Stephan Santoso, para personel GHO$$ kini fokus menyiapkan bekal. Terutama persiapan materi lagu yang bakal direkam.

“Kami (telah) membuat beberapa materi lagu yang akhirnya akan kami pilih untuk dijadikan bahan recording di Sydney,” ungkap Diego meyakinkan. “Tentu kami akan diskusikan juga bersama mas Stephan Santoso selaku mentor kami di Sydney nanti. Lalu persiapan mental juga, karena di sana kami akan bekerja dan dikejar waktu, jadi harus fokus agar tidak terganggu faktor lain.” (MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
revelish
Read More

REVELISH: Eksplorasi Awal di Metal Modern

Lagu rekaman debut “Falsehood Progression” disuarakan Revelish sebagai penyaluran kemarahan kolektif dalam geberan komposisi metal yang kekinian.
killer of gods
Read More

KILLER OF GODS: Tusukan Kebrutalan Demagogi

Album brutal death metal yang mengangkat kritik atas demagogi dan ketimpangan sosial disemburkan Killer Of Gods lewat sembilan amunisi lagu beringas.
metyr
Read More

METYR: Paduan Post-Black dan Blackgaze

Tiga lagu diguyurkan Metyr sekaligus lewat album debut (EP) self-titled yang sarat paduan elemen post-black metal, shoegaze dan post-rock yang atmosferik.