Dengan Vokalis Baru, BREAKING ICE IN BRITAIN Rilis EP

Sebuah band rock asal Depok bernama unik, Breaking Ice In Britain baru saja merilis album mini (EP) perdananya bertajuk “Eclectic”. Para personelnya tidak hanya puas akan hasilnya, tapi juga lega karena berhasil melewati fase yang lumayan menghambat perilisan album tersebut.

Pasalnya, ketika proses penggarapan “Eclectic” sudah siap, Ardhie (gitar), Haikal (gitar), Agus (bass) dan Bayu (dram) belum juga menemukan vokalis yang sesuai keinginanan. “Sehingga menyulitkan kami dalam menentukan kord atau nada dasar yang akan digunakan dalam setiap lagu,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS.

Salah satu kriteria adalah harus vokalis wanita. Ciri itu sudah dimulai sejak awal terbentuk. Sebelum Amy, vokalis sekarang bergabung, Breaking Ice In Britain sempat diperkuat oleh Swerys, sang vokalis lama, dan sempat merilis single pada 2014 lalu plus manggung di beberapa pertunjukan. Namun karena kesibukan profesinya, Swerys lantas mengundurkan diri. Rencana rekaman album pun akhirnya tertunda berbulan-bulan. Pencarian vokalis baru lantas dilakukan via media sosial seperti YouTube, Soundcloud, dan Twitter untuk mencari talenta-talenta terdekat yang ingin bergabung. Mencari vokalis wanita tentu tidak semudah mengajak vokalis pria bergabung; dari alasan kesibukan, faktor pertemanan, hingga genre yang tidak cocok dengan karakter suara yang dimiliki beberapa calon vokalis.

Titik cerah akhirnya nampak ketika Amy merespon pengumuman Breaking Ice In Britain yang sedang mencari vokalis wanita. Mereka pun bertemu dan mengadakan beberapa sesi perkenalan dan workshop. Singkat cerita, Amy tertarik dan memutuskan bergabung. Menurut gitaris Ardhie, antara Swerys dan Amy memiliki suara yang bagus, namun berbeda karakter.

“Kalian bisa bedakan sendiri dengan mendengarkan lagu ‘What Can Kill Me Makes Me Stronger’ dari kedua vokalis yang berbeda di Official YouTube Channel kami. Namun yang terpenting adalah bagaimana karakter vokal itu bisa nge-blend ke dalam lagu-lagu Breaking Ice In Britain,” cetusnya.

Dari sudut musikal, Breaking Ice In Britain sendiri menerapkan konsep Rock atau Post-hardcore yang berbeda dengan karakter kuat di sisi vokal serta lantunan piano sebagai pemanis. Selain itu, juga ada sentuhan ‘breakdown’ pada setiap lagu yang semakin memperkuat ciri khas band ini. Style tersebut merupakan hasil leburan berbagai pengaruh yang tertanam di kepala para personelnya. Referensi mereka antara lain dari band-band seperti Saosin, Underoath, Hands Like Houses, Emarosa, Issues, Slaves, I See Stars, dan lain-lain. Beberapa di antaranya menjadi referensi musikal yang tertuang di “Eclectic”. “Banyak hal yang digabungkan menjadi satu; merepresentasikan banyak ekspresi manusia seperti senang, sedih, marah, kecewa, dan lain-lain,” urai mereka.

Nama band ini sendiri terinspirasi dari judul sebuah artikel dalam Buku Pelajaran Bahasa Inggris SMA dengan judul yang sama, “Breaking Ice In Britain” yang menceritakan semangat para orang tua yang memilih untuk meneruskan pendidikannya di luar negeri di tengah kesibukannya masing-masing. “Filosofi ini menjadikan kami yakin dengan semangat yang sama untuk bisa terus berkarya di dunia musik di tengah kesibukan para personelnya yang merupakan kumpulan para karyawan.”

“Eclectic” telah rilis dalam format cakram padat (CD) serta digital download di iTunes dan free streaming di Spotify. Breaking Ice In Britain juga merilis video klip dari single “Holding On To Memories” secara worldwide di Channel YouTube Blank TV; sebuah channel musik Indie dari Amerika Serikat. (MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *