Epica hadir lewat rilisan karya album baru lagi. Namun kali ini, band metal simfonik asal Belanda tersebut menyuguhkan sebuah kemasan EP (album mini) yang hanya memuat enam komposisi lagu, yang diberi judul “The Solace System”. Rilisan ini akan mulai diedarkan oleh pihak label Nuclear Blast pada 1 September 2017 mendatang.

Enam lagu yang termuat di EP tersebut sebenarnya merupakan sebagian dari koleksi lagu berkualitas tinggi yang disiapkan Epica untuk album “The Holographic Principle” yang telah dirilis pada akhir September 2016 lalu. Akan tetapi, saat memasuki fase produksi, tidak semua materi lagu tersebut bisa dimasukkan ke album “The Holographic Principle”. Alasannya, karena ketentuan durasi album yang tak boleh lebih dari 76 menit. Sementara di sisi lain, seperti yang diutarakan oleh gitaris dan vokalis Mark Jansen, Epica sendiri tidak menyukai konsep perilisan album ganda. Akhirnya diputuskan untuk merilis sisanya ke dalam format album mini.
Makanya, lewat album yang menyuguhkan lagu-lagu bertajuk “The Solace System”, “Fight Your Demons”, “Architect Of Light”, “Wheel Of Destiny”, “Immortal Melancholy” dan “Decoded Poetry” tersebut, Mark memastikan muatannya tidak kalah dibanding album “The Holographic Principle”. “Lagu-lagunya terlalu bagus jika hanya digunakan sebagai trek bonus,” seru Mark meyakinkan.
Kembali ke proses penggarapan “The Holographic Principle” sendiri, yang dieksekusi bersama produser Joost van der Broek di Sandlane Recording Facilities, Mark Jansen, Coen Janssen (kibord), Simone Simons (vokal), Ariën van Weesenbeek (dram), Isaac Delahaye (gitar) dan Rob van der Loo (bass) memang menawarkan proses kreativitas yang cenderung eksperimental. Terutama di lini vokal.
“Saya mencoba mengeluarkan kemampuan terbaik di setiap album,” ungkapnya. “Dan Joost (van den Broek), produser kami, sangat bagus dalam menggali segala sesuatu dari dalam diri saya. Dan lagu-lagunya sendiri, mereka hanya meminta sedikit variasi dari gaya vokal saya. Untuk itu, saya melakukan (gaya vokal) opera, rock, pop, dan di nomor balada Anda akan mendengar suara saya yang benar-benar lembut. Dan, yeah, saya juga bisa mencapai nada-nada tinggi.”
Karir Epica mulai menggelinding pada 2002 di Belanda, yang dimotori oleh vokalis dan gitaris, Mark Jansen, setelah ia hengkang dari band After Forever. Setahun kemudian, Epica sudah melahirkan album debut bertajuk “The Phantom Agony” yang dirilis via Transmission Records. Tapi bisa dibilang, nama Epica baru menggaung di kancah internasional setelah merilis album studio kelima, “Requiem for the Indifferent” pada 2012. Album tersebut berhasil menembus peringkat ke-104 terlaris di Amerika Serikat versi Billboard 200. Pada Juni 2015, Epica dianugerahi Music Export Awards di Belanda karena menjadi band yang sukses di pasar internasional.
Pada 18 Agustus 2017 mendatang, Nuclear Blast juga akan merilis ulang dua album lama Epica, yakni “Design Your Universe” dan “The Divine Conspiracy” dalam format piringan hitam (vinyl) dengan dua pilihan warna yang berbeda. (MK02)
Kredit foto: Tim Tronckoe
.