Retorika SNICKERS AND THE CHICKEN FIGHTER yang Variatif

Masih berpegang pada akar punk rock yang kuat, unit melodic core veteran asal Malang, Snickers and the Chicken Fighter (SATCF) akhirnya merilis album penuh keduanya yang bertajuk “Retorika” via label mereka sendiri, belum lama ini. Kali ini, ada 13 komposisi sarat elemen Melodic Core dan Popunk yang mereka persembahkan.

SATCF yang dihuni Aditya Kurniawan (vokal/bass), Jefry Triharto (gitar), Cahaya Satya Adhyka (gitar), Jaka Satya Putra (dram) dan Oneding (kibord) butuh waktu cukup lama untuk mewujudkan rilisan ini. Album debutnya dirilis pada 2011, atau sekitar enam tahun lalu. Tapi menurut pihak band yang dihubungi MUSIKERAS, kekosongan yang cukup lama itu disebabkan faktor teknis yang juga kerap dialami band lain umumnya. Misalnya, mood yang tidak bisa dipaksakan, manajemen waktu, skala prioritas dalam kehidupan tiap personelnya hingga masalah pendanaan.   

Proses penggarapan “Retorika” dilakukan selama kurang lebih dua bulan, yang dimulai di studio Als yang terletak di kawasan Ciputat, Jakarta, khusus untuk proses rekaman dram, bass dan gitar. Setelah itu dilanjutkan di studio Antz di Malang untuk proses tracking kibord dan vokal. Sementara untuk proses mixing dan mastering juga dieksekusi di Malang dengan bantuan Ayok (Screaming Factor) yang sebelumnya juga mengerjakan album pertama SATCF.

Namun berbeda dibanding album pertama, kali ini SATCF menawarkan olahan musik yang lebih lebar di “Retorika”, terentang dari Tradisional Melodic Core, Popunk hingga Californian Ska Dub yang lantas dipadu dengan beat-beat agresif dan variatif. Menurut Adit mewakili rekan-rekannya di SATCF, kali ini sumber inspirasi dan referensi untuk penggarapan musiknya memang cukup banyak.

“Beberapa di antaranya adalah black music. Album kedua ini lebih easy listening,  karena perbedaan tempo di album kedua ini lebih terasa dibanding album sebelumnya yang memiliki tempo lebih upbeat.”

Dan suguhan SATCF kali ini juga diharapkan semakin memuaskan para penggemarnya yang cukup lama menanti kehadiran album kedua ini. Apalagi secara kuantitas, kali ini SATCF menyuguhkan cukup banyak lagu. “Karena kebetulan jarak dari album pertama dan kedua ini terbilang cukup lama, jadi dalam beberapa waktu itu saya memproduksi lagu cukup banyak juga,” ungkap Adit lagi memperjelas.

SATCF mulai digelindingkan di Kota Malang sejak akhir 1999 silam, yang diawali oleh Adit, Jefry dan dramer pertama, Hengky. Sejak awal, mereka langsung melebur beberapa warna musik seperti hardcore, ska, blues, rock hingga rap dengan attitude punk rock, yang sedikit banyak terpengaruh musik dari band-band luar seperti Blink-182, Foo Fighters, NOFX, Sublime, Sum 41 hingga The Mighty-Mighty Bosstones. Ketika Hengky mengundurkan diri pada 2002, posisi dramer SATCF terus berganti hingga Jaka bergabung dan menjadikan formasi SATCF semakin solid. Pada 2005, SATCF merilis album mini (EP) pertama bertajuk “White Lies”, dan setahun kemudian disusul album mini kedua berjudul “Flower in December”. Sebelum merilis album penuh pertamanya pada 2011 (self-titteld), SATCF sempat pula terlibat di proyek kompilasi “Skating and punk Compilation” (2010). (MK01)

Kredit foto: GarisPutih

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *