TIKUS BERDASI Tuntaskan Krisis Internal, Lepas EP “The End of the Day”

Unit rock asal Malang, Tikus Berdasi akhirnya berhasil lepas dari krisis personel di bandnya. Materi album “The End of the Day” yang terbengkalai sejak tiga tahun silam akhirnya berhasil dirampungkan dan dirilis tahun ini, walau hanya diperkuat oleh dua personel tersisa, yakni gitaris Samid dan vokalis Dion.

Penggarapan album yang tertunda-tunda disebabkan oleh kesibukan para personel Tikus Berdasi, yang ujung-ujungnya membuat tiga personelnya mengundurkan diri pada pertengahan 2016 lalu. “Saya Samid, dan Dion mulai beradaptasi dengan keadaan, lalu memulai proses penggarapan album pendek, proses rekaman dibuat di studio rekaman milik teman,” ungkap Samid, kepada MUSIKERAS.

Seperti yang tertuang di press release mereka, lima lagu yang tersaji di album mini (EP) “The End of the Day” tersebut sangat kental akan nuansa rock yang bersliweran di sekitar Motorhead, Foo Fighters, Rise Against, NOFX serta alunan beat-beat punk rock ala The Casualties, atau bahkan beberapa inspirasi dari band-band lokal macam Antipathy, 4Fingerdown, Timeout hingga A Pavement World yang memberi mereka nuansa-nuansa yang berbeda. “Menurut kami (mereka) berperan penting dalam materi musik kami!”

Dari sisi konsep musikal, Samid dan Dion mengaku tidak melakukan improvisasi atau perubahan apa pun dari materi-materi lagu yang mereka garap sejak 2015 lalu itu. kecuali untuk departemen lirik, dimana Dion cukup banyak melakukan revisi yang berbeda dibanding album-album Tikus Berdasi sebelumnya. 

“Materi terdahulu, liriknya penuh dengan percintaan, gejolak jiwa muda dengan alunan beat yang tidak begitu cepat. Di album ‘The End of The Day’ ini, liriknya bertema sosial dan perang watak manusia dengan vokal yang lantang,” cetus Samid mempertegas.

Hasrat musikal Tikus Berdasi sendiri dimulai ketika para personelnya masih duduk di bangku SMP. Diperkuat lima personel, dan lantas sepakat membentuk sebuah grup band. Dengan nama yang masih kerap berganti-ganti selama empat bulan pertama. Namun pada akhir 2009, saat mereka merilis demo tiga lagu, nama “Tikus Berdasi” resmi mereka kumandangkan. Tikus Berdasi sendiri memiliki kata sebutan, sindiran atau ejekan untuk teman-teman mereka yang bermain kotor dan licik pada saat menjalani liburan akhir semester.

Singkat cerita, pada 2013, Tikus Berdasi berhasil merilis album pertamanya, bertajuk “Drunk and Poker” yang berisi 10 lagu dan dirilis dalam format cakram padat (CD) dalam jumlah terbatas. Hanya 250 keping karena keterbatasan dana. Setahun kemudian, mereka kembali merilis album kedua berjudul “Walk Together”. Juga berisi 10 lagu dan dirilis dalam jumlah 1000 keping yang disertai merchandise.

Selepas SMA, para personelnya mulai disibukkan pada pekerjaan masing-masing. Awal 2015, tiga personelnya, yakni Antok (bass), Andy (gitar) dan Cahyo (vokal) pun hengkang dan menyisakan Samid (saat itu bermain dram) dan Dion di gitar. Kini, fungsi itu berubah. Samid berpindah ke gitar dan Dion mengemban tugas sebagai vokalis. Lalu untuk melengkapi formasi, Tikus Berdasi kini diperkuat oleh Alan (gitar) serta dua personel additional, yakni Kajong (bass) dan Joe (dram). (MK01)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.