SATYRICON Masuki Era Baru yang Lebih Gelap

Satyricon memasuki era baru dalam progresi musiknya. Setidaknya, itu yang digembar-gemborkan bakal tersaji di album terbaru unit black metal asal Norwegia tersebut, bertajuk “Deep Calleth Upon Deep”. Album studio kesembilan mereka ini bakal mulai diedarkan via Napalm Records pada 22 September 2017 mendatang.

Kedua personel tetapnya, vokalis Sigurd “Satyr” Wongraven – yang juga memainkan gitar, kibord dan bass saat rekaman – serta dramer Kjetil-Vidar “Frost” Haraldstad (dram) menggarap proses rekaman “Deep Calleth Upon Deep” di Oslo, Norwegia serta di Vancouver, Kanada. Mereka memulainya pada awal 2017 lalu bersama Mike Fraser, produser yang sebelumnya juga menggarap album Satyricon yang berjudul “Now, Diabolical” (2006).

Konsep musik “Deep Calleth Upon Deep” sendiri mereka sebut sangat ekstrim dan seolah menemukan kembali jati diri Satyricon, sekaligus memasuki babak baru dalam perjalanan karirnya. Menurut Satyr, ada dua hal yang tertanam di benaknya saat memulai proses penggarapannya. “Entah ini akan menjadi awal dari sesuatu yang baru, atau menjadi album rekaman saya yang terakhir,” ungkap musisi yang telah divonis mengidap kanker otak sejak 2015 lalu.

“Jika album ini merupakan yang terakhir, berarti harus sangat istimewa. Jika masih akan ada album-album rekaman selanjutnya, maka saya akan pastikan album ini benar-benar berbeda dibanding sebelumnya, yang akan terdengar seperti sebuah permulaan. Menurut saya, (musiknya) sangat-sangat gelap, sangat spiritual, dan sarat energi dan rasa percaya diri.”

Untuk bisa menikmati dan turut serta dalam perjalanan “Deep Calleth Upon Deep”, lanjut Satyr, pendengarnya harus bersiap-siap untuk menggali sangat dalam jauh ke dalam relung jiwa mereka bersama Satyricon.

Satyricon terbentuk sejak 1991 di Oslo, dan sejak 1993, Satyr dan Frost sudah menjadi bagian dari perjalanan karir band ini. Pada awalnya, karakter black metal sangat pekat mendominasi badan musik Satyricon, yang tercermin jelas di tiga album pertamanya, yakni “Dark Medieval Times” (April 1994), “The Shadowthrone” (September 1994) dan “Nemesis Divina” (April 1996). Setelah itu, di album-album selanjutnya ada sedikit pergeseran ke pola heavy metal tradisonal pada sound mereka, yang kemudian terus berevolusi hingga sekarang. (MK03)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
moose
Read More

MOOSE: Black Metal Atmosferik dan Melankolis

Lewat lagu debut “Valley of Whispers”, Moose menangkap kondisi mental yang terjebak dalam spiral pesimisme, dalam balutan black metal yang gelap dan melankolis.
morgia
Read More

MORGIA: Formasi Bertiga, Makin Eksperimental

Usai melewati masa krisis formasi, kini Morgia kembali menggeliat dengan meluncurkan lagu rilisan tunggal terbaru, yang lebih gelap, mekanis dan imersif.