Memanfaatkan jeda dari kesibukannya sebagai vokalis di band rock legendaris Edane, Ervin Nanzabakri lantas meluangkan waktu menggarap materi album solo self-titled yang telah dirilis sejak Juli 2017 lalu via Sangumanagement. Sebuah album mini (EP) yang benar-benar menyuguhkan rock versi Ervin sendiri, dimana ia menulis semua lirik dan lagu, plus dukungan beberapa musisi rock senior seperti gitaris Toto Tewel dan vokalis Doddy Katamsi (eks Elpamas) serta dua rekannya di Edane, yakni dramer Fajar Satritama dan bassis Anto Daeng Oktav.

Album tersebut memuat lima lagu, yaitu “Sensasi”,“It’s All About the Rock”, “Happy Buruh”, “Manusia Nusantara” dan “Seperti Matahari”. Lagu yang disebut terakhir menghadirkan kontribusi musik dari Toto Tewel, Fajar Satritama serta permainan bass dari Rocky Antono (putra gitaris God Bless, Ian Antono).
Bagi Ervin, lagu “Seperti Matahari” adalah salah satu lagu yang menurutnya sangat memuaskan hasil akhir penggarapannya. Alasannya, olahan musiknya sangat pas dengan kebutuhan lagu. “Ada tiga bahasa di dalam lagunya, yakni Bahasa Indonesia pastinya, lalu Jepang dan Inggris. Ini bukan hal yang mudah bagi gue dalam membuat melodi vokalnya, tapi berhasil dan gue puas dengan hasilnya,” urai Ervin kepada MUSIKERAS.
Kepuasan yang sama juga dirasakan Ervin di lagu “Manusia Nusantara” yang juga menghadirkan vokal Doddy Katamsi, dimana ia merasa berhasil mengombinasikan efek suara-suara perang, suara dari salah satu pahlawan nasional Bung Tomo serta suara dari Presiden Indonesia pertama, Soekarno.
“(Semuanya) bisa menyatu dalam satu komposisi musik dan lagu yang sangat pas. Bisa disebut mukjizat kali ya, hehehe…. Nggak nyangka bisa bagus hasilnya setelah diaransemen. Ini lagu persenbahan gue sebagai anak Nusantara yang tidak lupa akan jasa-jasa pahlawan kita yang berjuang memerdekan bumi Nusantara ini.”
Jika dihitung-hitung, Ervin mengaku butuh sekitar tiga tahun proses menyiapkan album solo kedua ini. Selain kendala di pendanaan, juga masalah manajemen waktu. Dan untuk penggarapan lagu-lagunya sendiri, Ervin sangat memperhatikan kualitas lirik. “Karena gue nggak mau asal buat lirik, pengen natural, minimal ideal sesuai dgn hari-hari diri gue,” ujar Ervin beralasan.
Namun segala jerih payah terbayarkan. Ervin sangat puas dengan hasilnya dan juga mendapat respon yang positif dari rekan-rekan dan para penggemarnya. Selain itu, yang takmkalah penting adalah adanya restu dari Edane, band yang dihuninya saat ini. Terutama dari Eet Sjahranie, motor penggerak utama Edane.
“Mas Eet orangnya santai. Intinya, Edane itu saling mendukung dalam berkarya. Yang terpenting adalah kami berkomitmen tetap mengedepankan kepentingan Edane, walau kami berkegiatan di luar, tapi tetap tujuannya adalah membawa nama Edane tetap terdengar dan selalu ada di hati penggemar setianya.”
Ervin Nanzabakri sendiri tergabung di Edane menjelang penggarapan album “Edan” yang dirilis hampir tujuh tahun lalu. Sebelumnya, Ervin pernah merilis album solo bertajuk “Lupakanlah” via label Prosound/Dian Record pada 2003 silam. (MK01)
.
Inget waktu suka main ke cijerah ke alm.Mahyul rhapsodia