GENOCIDE Lepas dari Jebakan Death/Grind

Pengategorian jenis musik (genre), bagi sebagian besar musisi kadang justru dianggap membatasi kreativitas. Itulah yang dirasakan para personel Genocide, unit cadas asal Yogyakarta yang tadinya terikat dengan predikat penganut aliran death/grind metal. Lewat single “Home” yang baru saja dilepas, serta album mini bertajuk “From Earth II” yang tengah digodok produksi rekamannya, Genocide memutuskan untuk semakin meregangkan eksplorasi musikalnya.

“Yap, itu yang menjadi alasan buat kami beralih genre, kami ingin lebih bebas menyuarakan apa yang ingin kami suarakan, bebas berkarya,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS.

Selain itu, ada alasan lain. Terjadinya perubahan susunan personel yang cukup signifikan menghasilkan banyak pemikiran baru. Agustinus Widi (vokal), Andis Feranda (gitar), Fanda (dram) dan Gregorius Mario (bass) akhirnya sepakat menarik benang merah konsep musik Genocide ke arah metal yang modern dan cenderung ke ranah cutting edge.

“Home” – yang menghadirkan kolaborasi vokal dengan Mustika Kamal dari band asal Jakarta, Last Goal! Party – digarap Genocide di Jogja Audio School sejak pertengahan 2017 lalu. Tema lirik dituangkan oleh sang vokalis, Widi, dan mereka tidak mengalami kesulitan saat mengolahnya karena baik musik maupun isi dari lagu tersebut merupakan cerita dan perasaan yang dialami oleh Widi sendiri. Lalu setelah “Home”, Genocide juga tengah menyiapkan single dan video kedua bertajuk “The Wind Rises”, sambil merampungkan proses penggarapan album “From Earth II” yang sudah mencapai 50%.

Eksplorasi musikal yang dilakukan Genocide di “From Earth II”, menurut mereka, bisa dikatakan banyak menyerap referensi lagu-lagu non metal seperti klasikal, British rock dan eksperimental. “Karena kami berusaha untuk membuat musik yang dewasa dan universal sifatnya, walau kami juga tetap mendengarkan musik metal baik new school maupun old school!”

Genocide mulai menggeliat pada pertengahan 2011 silam, dan langsung merekam single debutnya bertajuk “Lamia” yang berkontur death metal. Mereka awalnya banyak menyerap pengaruh dari band-band dunia seperti

Napalm Death, Pig Destroyer, Misery Index, Nasum hingga Rotten Sound. Setelah itu, masih di tahun yang sama, Genocide lantas merilis album mini berjudul “Human Scum”. Tahun berikutnya, mereka terlibat di dua album split “Suara dari 4 Penjuru” dan “Sound of Blast” serta sebuah album kompilasi berjudul “Gudeg Gerinda Violence”. Usai menjadi bagian dari album split bertajuk “Java Grindvasion” pada 2015, setahun kemudian Genocide pun merilis album penuh pertamanya berjudul “Resurrection” yang diedarkan via Waarprods, Tangerang.  (Mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
incremation
Read More

INCREMATION: Kini Dinaungi Label Asal AS

Melalui New Standard Elite, Incremation merilis “Litany of Deliverance” yang sedikit banyak merupakan gambaran awal dari wajah album terbarunya nanti.
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.
antrodemus
Read More

ANTRODEMUS: Death Metal 70-an?

Album terbaru Antrodemus, “Annihilation” memperlihatkan arah baru musik mereka yang semakin progresif, yang menyatukan agresi ekstrem dengan refleksi filosofis.
tcwc
Read More

TCWC: ‘Genosida’ Berdaya Ledak Tinggi

Suarakan perlawanan terhadap manipulasi politik dan agama, The Chance We Created (TCWC) melepas lagu baru, sebuah pesan sosial-politik yang sangat berani.