Cradle of Filth akhirnya benar-benar hadir di Jakarta untuk keduakalinya. Kali ini, konser unit extreme metal asal Suffolk, Inggris yang digagas oleh MXP Production berkolaborasi dengan Fourspeed Metalwerks tersebut terbilang cukup intim dengan venue yang jauh lebih kecil dibanding saat mereka pertama kali datang dan menjadi salah satu penampil puncak di panggung Hammersonic Festival 2013.
Sebagai rangkaian dari “Cryptoriana Tour Jakarta 2018”, Cradle of Filth yang saat ini diperkuat formasi Dani Filth (vokal), Martin ‘Marthus’ Škaroupka (dram), Daniel Firth (bass), Lindsay Schoolcraft (kibord), Richard Shaw (gitar) dan Marek ‘Ashok’ Šmerda (gitar) menggetarkan panggung MS.Hall Vicky Sianipar, Jakarta, pada 28 April 2018 lalu.

Usai dibuka aksi panggung panas dari tiga band lokal, yakni Deadsquad, Revenge The Fate dan D’Ark Legal Society, sekitar 300an penonton pun menyambut histeria penampilan band yang tinggal menyisakan Dani Filth sebagai personel tetap sejak berdiri pada 1991 silam. Malam itu, pesona Dani Filth sebagai frontman tetap tak terelakkan. Lindsay Schoolcraft di belakang perangkat kibord yang sekaligus mengemban tugas sebagai vokalis pendamping pun tak luput menjadi pemanis di band beraliran extreme metal tersebut. Keduanya kerap menjadi sorotan penonton sepanjang acara.
Tak banyak berbeda dibanding susunan lagu mereka di negara-negara sebelumnya, kali ini Cradle of Filth juga menyisipkan “Heartbreak and Séance” dan “You Will Know the Lion by His Claw”, dua lagu dari album terbaru, “Cryptoriana – The Seductiveness of Decay” yang dirilis sejak September 2017 lalu. Selebihnya, mereka menggeber 10 lagu terbaiknya, yang menawarkan sensasi headbang dan sing along bersama penonton, termasuk komposisi cadas “Bathory Aria” dan “From the Cradle to Enslave”.
Di tengah konser, gitaris Richard Shaw yang baru bergabung di formasi Cradle of Filth pada 2014 lalu mendapat kejutan. Sebuah kue ulang tahun dipersembahkan rekan-rekan serta penonton di atas panggung malam itu. Ya, rupanya konser tersebut bertepatan dengan hari lahirnya. Konser Cradle of Filth sendiri dipungkaskan pada pukul 00.30 dini hari. Oh ya, penampilan Cradle of Filth di Indonesia kali ini merupakan satu-satunya konser tunggal mereka di Asia Tenggara.
Rekaman album “Cryptoriana” digarap Cradle of Filth di Grindstone Studios yang berlokasi di kampung kelahiran mereka, Suffolk, Inggris. “Cryptoriana” sendiri merupakan karya rekaman kedua mereka yang dirilis di bawah naungan Nuclear Blast, salah satu label metal legendaris yang mulai menaungi Cradle Of Filth sejak 11 November 2014 silam.
Tentang “Cryptoriana” sendiri, Dani Filth menyebutnya sebagai karya rekaman yang merepresentasikan masa depan Cradle Of Filth. “Semangat yang sudah dibangun dari kesuksesan (album) ‘Hammer Of The Witches’ (rilisan 2015), yang telah mendorong kami lebih total dari segi musikal untuk menciptakan karya yang unik sekaligus tetap loyal pada inkarnasi sebelumnya.”
Sejak terbentuk pada 1991, Cradle of Filth menyebut band-band yang menjadi bagian dari gelombang pertama mewabahnya paham black metal seperti Bathory, Celtic Frost dan Mercyful Fate sebagai sumber inspirasi musikal mereka. Lalu, musik mereka mulai berevolusi dengan imbuhan elemen symphonic black metal, gothic metal, gothic black metal dan dark metal. Tapi kepada para media, Paul Allender (gitaris Cradle of Filth yang telah mengundurkan diri pada 2014 lalu) lebih senang menyebut musik Cradle Of Filth sebagai extreme metal.
Naskah dan foto: Mikhail Teguh Pribadi