INHUMANE DECADENCE Luncurkan “Obliterated” yang Kolaboratif

Inhumane Decadence, sebuah entitas baru dalam kancah musik cadas Tanah Air telah lahir. Bukan proyek solo, bukan pula sebuah band. Melainkan sebuah kebersamaan yang menjunjung tinggi aspek kolaboratif dalam proses penggarapan sebuah seni. Sebuah proyek seni kolektif yang berpusat pada musik, yang kini telah berhasil meletuskan sebuah single bertajuk “Obliterated”.

“Tidak bisa dipungkiri, terkadang kehadiran musik serasa kurang lengkap tanpa adanya visual dan literasi. Inhumane Decadence bukanlah sebuah band, melainkan tujuan akhirnya adalah sebuah komunitas yang bisa menghubungkan berbagai seniman dengan berbagai latar belakang untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan,” ungkap Aldo Kosim, penggagas Inhumane Decadence, kepada MUSIKERAS. Aldo sendiri kini juga tercatat sebagai gitaris D’Ark Legal Society, kuartet alternative metal yang mewakili Indonesia di ajang “Envol et Macadam” di Kanada tahun lalu.

Melalui perspektif Inhumane Decadence, seni tidak harus menampakkan wujud yang menyenangkan, manis, atau pun mudah untuk dinikmati banyak orang. “Obliterated” adalah sisi gelap yang terwujud dari kecemasan terhadap sistem yang ada di dalam masyarakat. Dibalut dengan nuansa alternative metal yang sudah jarang terdengar di skena lokal saat ini, “Obliterated” menggambarkan kebangkitan melawan kemerosotan budaya.

Seluruh proses produksi dalam penggarapan “Obliterated” sendiri dilakukan secara digital dan melibatkan beberapa kontributor. Single perdana ini dapat tercipta tanpa tatap muka dan hanya dengan berbasiskan cloud storage. Gagasan awal pada sajak dan komposisi musik dibuat oleh Aldo yang seterusnya dilengkapi oleh para kontributor. Pentolan dari D’Ark Legal Society, Mattheus Amadeus Aditirtono, melengkapi komposisi instrumen dengan menambahkan permainan bassnya yang ditenun secara kompleks. Setelah komposisi musik selesai, Fachri Bayu Wicaksono dari unit death metal Jakarta, Orestes, menambahkan geramannya yang meninvokasi orang-orang untuk mengagumi kemerosotan kultur saat ini. Sentuhan terakhir diberikan oleh Iwan Andryanto sebagai videomaker ulung asal Jakarta, yang mengintepretasikan musik tersebut melalui detail visual, yang selanjutnya dikemas menjadi video lirik oleh Aldo Kosim sebagai produser.

“Proses penulisan lagu dimulai dari ide untuk membuat sesuatu yang gelap. Karena saya paling familiar dengan instrumen gitar, jadi saya mulai dengan riff gitar. Proses penulisan lagu sekitar sebulan, semua direkam di rumah saya dengan perlengkapan studio ala kadarnya. Tidak terlalu banyak kendala teknis yang terjadi dari sisi teknis rekaman karena semuanya saya lakukan secara simpel saja,” urai Aldo lebih jauh.

Dalam meramu musik di “Obliterated”, Aldo menerapkan konsep sound yang modern, dengan sentuhan riff death metal yang old school serta vokal yang lebih mengarah ke black metal. “(Saat) Pertama saya compose lagunya, saya hanya menyuarakan apa yang ada di kepala saya. Tapi setelah diaplikasikan saya mendengar influence The Faceless di musiknya, meskipun tidak terlalu teknikal.”

Dan apa yang diterapkan Aldo di “Obliterated” tersebut sama sekali berbeda dibanding konsep yang dianut bandnya, D’Ark Legal Society. “Di Inhumane Decadence, saya mengedepankan vibe dari sebuah aransemen, jauh dari pola pikir teknikal.  Sedangkan D’Ark Legal Society lebih bermain ke alur cerita dari sebuah lagu melalui ritem dan nada-nada pilihan.”

Single perdana “Obliterated” kini dapat didengarkan secara gratis di kanal musik digital SoundCloud. Dalam beberapa bulan ke depan, Inhumane Decadence berencana untuk merilis single keduanya. “Kami berharap agar dapat mengajak lebih banyak individu yang ingin bergabung dan memunculkan kolaborasi dalam penggarapan proses produksi selanjutnya.” (aug/MK03)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.