Media Sosial itu seperti ‘mata pisau’. Jika digunakan dengan baik, maka bermanfaat untuk kehidupan, tapi jika digunakan dengan sembrono, maka dapat membahayakan. Nah, opsi yang pertama itulah yang sepertinya diterapkan Neurology, unit death metal asal Bekasi yang baru saja merilis single debutnya, “Krisis Epidermis”.
Adalah Jacks yang menggagas lahirnya Neurology pada 16 September 2017 lalu, yang merupakan hasil dari interaksi yang ia lakukan di media sosial. “Mungkin mirip dengan ‘cabe-cabean’ zaman sekarang. Ketemu di sosial media, nafsu yang besar untuk melakukan, lalu kopi darat dan dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Begitu pun dengan Neurology,” cetus Jacks kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
Jacks, bersama personel Neurology lainnya, yakni Maul (vokal), Fauzy (gitar) dan Adam (bass) menggarap rekaman dan penataan suara (mixing) “Krisis Epidermis” di Studio Musik Apache, Bekasi, bersama satu single lainnya yang juga bakal diluncurkan dalam waktu dekat, berjudul “Pareidolia”. Namun menurut penuturan Jacks, lagu “Krisis Epidermis” seharusnya sudah direkam sejak tahun lalu, karena jadwal studio rekaman yang padat.
“Jadi kami semua harus menunggu waktu yang tepat, dan agar lebih matang di beberapa part musiknya sendiri. Proses rekaman tidak memakan waktu banyak, sesuai dengan perkiraan kami, yaitu hanya satu shift saja. Untuk kendala, tidak begitu berarti bagi musiknya sendiri, hanya saja banyak pengulangan rekaman, khususnya pada dram, agar semakin rapat dan memuaskan telinga ketika didengar nanatinya. Proses mixing juga tidak begitu sulit, karena operator yang sangat jeli melihat situasi dan kondisi dari part-part lagunya.”
Sebagai sebuah band berlabel death metal, secara musikal, formula yang diterapkan Neurology terbilang sangat mengdepankan mufakat. Kekompakan dan kekeluargaan menjadi harga mati di band ini. “Jika semua band di seluruh dunia tidak memiliki itu, maka dipastikan musiknya hanya sampah belaka,” cetus Jacks tanpa basa-basi.
Ia melanjutkan, di Neurology, mereka selalu terbuka untuk hal apa pun selama kontennya musik. Jadi ketika salah satu personel berbeda ide dan pendapat, tetap mereka tampung sebagai salah satu warna dalam musik mereka. “Berbagai warna tersebut salah satunya ya termasuk referensi musik lain, ada yang suka Lamb of God, ada yang suka brutal death dan progressive metal, bahkan salah satu personel ada yang suka sekali Djent. Bagi kami, selagi itu tidak menghambat kelangsungan band, maka sah-sah saja. Lagi pula, perbedaan justru membuat band ini semakin kuat untuk terus berkarya!”
Oh ya, lirik “Krisis Epidermis” sendiri sebenarnya hanyalah sebuah kata kiasan, yang menggambarkan kejadian nyata akhir-akhir ini di panggung politik Indonesia. Bertubi-tubi masalah datang, silih berganti ke tubuh partai-partai politik. Berbagai macam informasi palsu (hoax) muncul dan menghilang ke tengah masyarakat demi memopulerkan sebuah partai sekaligus menjatuhkan seorang politisi. “Intinya, bahwa politik itu buruk, walau memang tidak seluruh politisi itu busuk. Setiap kehidupan pasti ada dua hal berbeda, baik terang dan gelap, seperti halnya mata pisau, bermanfaat untuk mengiris bawang atau sekadar hiburan membunuh orang.”
Neurology berawal dari hasrat Jacks untuk kembali membentuk band, setelah sebelumnya sempat menggantung stik dram. Di saat yang tepat itu, Fauzy (gitaris Fattah) bertemu Jacks di laman Instagram dan mengajak untuk bermusik bersama. Pertemuan yang cukup intens, akhirnya melahirkan kesepakatan membentuk band, dan merekrut beberapa personel lagi via pertemanan di media sosial.
“Nama Neurology sendiri saya yang cetuskan, karena hiruk-pikuknya musik dan nuansa emosional dari lagu itu sendiri, juga beberapa narasi yang ingin disampaikan melalui lirik, maka Neurology adalah nama yang tepat untuk band ini,” seru Jacks menegaskan.
Saat ini, selain single “Krisis Epidermis” dan “Pareidolia” yang sedang dalam persiapan, Neurology juga sudah mengantongi delapan lagu yang rencananya akan digarap menjadi sebuah album atau EP. (mdy/MK02)
.