DON’T LOOK BACK Akhirnya Semburkan Album Perdana

Akhirnya, butuh waktu selama delapan tahun bagi veteran hardcore asal Semarang, Don’t Look Back (DLB) untuk mewujudkan perilisan album perdananya, “Lekang dan Hilang” (Stoned Zombies). Tepatnya diluncurkan resmi pada 18 Oktober 2018. Sebelumnya, sejak terbentuk pada 2006 silam, DLB baru sempat merilis album mini (EP) bertajuk self-titled.

DLB yang kini dihuni formasi Kido (gitar), Angga (vokal), Bayu (gitar), Oki (bass) dan Ardian (dram) menyuguhkan 10 trek yang banyak dipengaruhi gaya musik New York Hardcore era lawas. Terdapat materi baru dan beberapa materi lama yang dikomposisi ulang, serta sebuah lagu milik grup musik Shutdown berjudul “United” yang dibawakan ulang sebagai pamungkas. Sementara sebagai single pembuka, DLB telah melepas lagu yang juga bertajuk “Lekang dan Hilang” pada April 2018 lalu.

Bagi para personel DLB, konsep album debut mereka tersebut merupakan penyaluran keinginan individu-individu di DLB yang ingin segera punya album. “Teriakan keinginan hati dan semangat juang yang tak kenal waktu harus segera terealisasi. Untuk influence kali ini kami mendengarkan Shutdown, Strife, Earth Crisis dan Warzone,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Seluruh materi di album “Lekang dan Hilang” sebenarnya telah dipersiapkan DLB sejak lima tahun lalu. Beberapa kendala seputar kepadatan aktivitas dan realita membuat proyek ini baru serius diselesaikan. Keseluruhan lagu direkam di Paw Studio bersama M. Ryan Wibowo (Hypotenusa), sementara desain sampul dikerjakan oleh Peng (Skygarden).

Ya, butuh waktu lama bagi DLB untuk mengeksekusi “Lekang dan Hilang”. Mereka mengakui, cukup sulit mencari timing untuk rekaman. “Prosesnya kurang lebih dua bulanan, karena jadwal dari studio rekaman dengan jadwal masing-masing personel yang rata-rata hardworker susah untuk disesuaikan. Jadi kadang untuk take bisa lain hari jedanya. Dan beberapa kendala karena kami ini (juga) masih belajar. Intinya kami ini terlalu lama bertapa dan sekarang kami punya album beneran, jadi inilah hasil kami bertapa,” papar DLB panjang-lebar.

Namun dalam urusan penggarapan musik, DLB sendiri memang lebih suka berorientasi pada proses, bukan tentang pencapaian berapa banyak rilisan yang telah dihasilkan, berapa banyak panggung yang berhasil ditaklukan, atau berapa banyak merchandise yang diproduksi. Bukan tentang pahlawan yang menjadi idola, melainkan bagaimana saling mengisi kehidupan skena. Di sela rutinitas pekerjaan yang cukup menyita, hardcore bagi DLB adalah semangat dan gaya hidup yang bersinergi dalam laku kehidupan mereka sehari-hari.

Selain tersedia di berbagai gerai digital, album “Lekang dan Hilang” juga dirilis dalam format cakram padat (CD). (aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *