IMMORTL Suarakan Kecadasan Penyakit Mental

Penyakit mental menjadi topik sentral bahasan unit rock kelam asal Tangerang ini. Para personelnya ingin menyuarakan tentang kesadaran akan penyakit mental yang sangat minim di Indonesia. Kebanyakan penderitanya tidak berani bercerita, karena stigma gila tentang seseorang yang mempunyai masalah pada mentalnya. Pernak-pernik gelap inilah yang lantas dieksplorasi Immortl untuk album debut mereka, bertajuk “Surv;ve” yang bakal segera dirilis pada awal 2019.

Contohnya ada di dua single yang telah mereka rilis, yakni “Save Me from Myself (Manic Depressive)” dan “Haters”, dimana masing-masing liriknya melafalkan perjuangan seseorang dari penyakit mental bipolar disorder tipe II dan didedikasikan untuk mengurangi stigma pada masyarakat tentang penyakit mental.

Lalu ada pula lagu “Demon Wings (Alter Ego)” yang menceritakan tentang penyakit alter ego, DID (dissociative identity disorder) dari sudut pandang orang pertama. “Secara musikal, aransemen di lagu ini sesuai dengan tema lagu ini, seperti memiliki dua kepribadian. Dari menit pertama musiknya begitu tenang, kalem masuk pertengahan lagu berubah menjadi nuansa rock yang keras,” ungkap Immortl kepada MUSIKERAS.

“Kami berharap lewat lagu dan video dari kami dapat menjadi edukasi bagi masyarakat agar lebih terbuka lagi tentang kesadaran akan pentingnya kesehatan mental serta untuk mengurangi isu stigma yang berkembang di masyarakat.”

Formasi Immortl, yakni Merry (vokal), Bondan (gitar), Idham (gitar), Edo (bass) dan Jordy (dram), proses pengerjaan album “Surv;ve” menghabiskan waktu selama kurang lebih setahun. Direkam secara terpisah di Gift Music Studio, Jakarta Selatan serta di Core Music Studio, Tangerang.

“Kendala yang kami temukan dalam pengerjaannya adalah faktor mental dan waktu kerja dari masing-masing personel. Terhubung materi dari album ini terlalu personal bagi kami, jadi kami perlu mengatur mood dan mental yang baik untuk mengerjakannya. Selama proses berjalan, beberapa kali kami mengubah lirik, karena kami berharap lagu-lagu ini dapat mewakili perasaan dan emosi dari orang-orang yang sedang berjuang melawan batin dan penyakit mentalnya.”

Lalu, untuk mengantarkan lirik-lirik tersebut agar tersampaikan dengan baik, Immortl memanfaatkan dengan maksimal derapan musik cadas yang bisa memancing headbang, yang kebanyakan terpengaruh gaya Korn, Mudvayne, Disturbed, Evanescene, Lacuna Coil hingga Flyleaf. Mereka menyebutnya dengan istilah nu-gothic.

Genre ini adalah karakter kami. Rata-rata dari personel menyukainya, tak ada alasan personal. Kami pikir karena genre ini begitu asik untuk dibawakan. Kebanyakan materi di album ini sangat depresif. Dengan genre ini lirik-lirik yang begitu kelam kami bawakan dengan musik-musik headbang, (lalu) kami tambahkan nuansa gothic agar terasa kelamnya.”

Immortl terbentuk pada akhir 2017 lalu, dimana nama tersebut diambil dari kata ‘immortal’ yang berarti abadi. Oh ya, selain yang sudah disebutkan di atas, lagu lain yang termuat di “Surv;ve” adalah “Luka”, “Kode Karma”, “Black Dog”, “Caregiver” dan “Stigma”. (aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *