Messiah, gerombolan death metal hardcore asal Yogyakarya, baru saja menyemburkan video musik dari single mereka yang bertajuk “Resistance”. Lagu ini dicomot dari album mini (EP) perdana “Capricioussnes” yang dirilis sejak Agustus lalu.
Konsep video musik “Resistance” sangat sederhana, lantaran dibuat sebagai bagian dari perkenalan para personel baru Messiah; Matyons (bass), Nurdin Pampam (gitar) dan Rofiqu (gitar) yang proses penggarapannya memakan waktu tiga hari.
“Konsepnya lebih ke perkenalan member. Wajah-wajah personel barulah yang bikin kami terapin konsep per person shoot. Prosesnya cukup cepat karena kami LDR (long distance relationship), jadi sekalinya ketemu langsung maksimalin waktu semuanya,” tutur vokalis Senasaragi, saat dihubungi MUSIKERAS.
Dalam prosesnya, Messiah mengusung semangat DIY (Do It Yourself) dimana untuk sutradara dan camera person diperankan langsung oleh dramer Rikonegara dan gitaris Nurdin Pampam, di bawah naungan rumah produksi milik mereka masing-masing.
Sementara lagunya, bertema tentang perlawanan yang berangkat dari banyaknya kesenjangan dan ketidakadilan yang mereka temukan setiap hari. Tapi sayangnya, ucap Senasaragi, sebagai manusia kadang kita tidak peduli dengan hal tersebut. “Tanpa kita sadari hal itu berpengaruh juga kepada kehidupan kita. Contohnya ya politik. Lagu ini ngajak kita untuk lebih berani melawan,” lanjutnya.
Adapun EP “Capricioussnes dirilis secara digital (Spotify, iTunes, Joox) sejak Agustus kemarin juga bakal tersedia dalam format fisik mulai Januari 2019 mendatang. Materi dalam album tersebut kebanyakan dikerjakan oleh Senasaragi, Rikonegara, dan gitaris sebelumnya, Dede.
“Musik, biasanya, dibikin lebih dulu sama Rikonegara. Kemudian melangkah ke penulisan lirik oleh saya dan Riko. Tapi kendalanya banyak, terutama di waktu. Karena kesibukan saya menyusun skripsi dan Riko di bisnis barunya. Kami rekaman di beberapa tempat dan mixing-nya di Calastial Surabaya,” papar Senasaragi terus-terang.
Pesan yang ingin mereka sampaikan melalui album ini cukup simpel, yakni ‘Jadilah manusia yang berguna buat manusia lain’, dimana idenya berasal dari kehidupan sehari-hari dan fenomena yang terjadi di Indonesia, seperti halnya yang tergambar dalam single “Resistance”.
Terlepas dari segala kekurangan yang tersaji dalam album ini – khususnya dari sisi produksi – Messiah mencoba meyakinkan para pendengar musik keras Tanah Air, album ini menjual kualitas yang didedikasikan kepada para metalhead yang memiliki pikiran terbuka.
“Sebagian besar tuturan liriknya cukup sarkasme. Tapi kami tidak menjatuhkan salah satu pihak. Untuk itu, butuh pola pikir terbuka untuk memahaminya. Metalhead cerdas wajib banget dengerin album ini,” tandas Senasaragi percaya diri.
Messiah terbentuk sejak 2016 dengan latar belakang semangat muda kritis yang disalurkan lewat kegemaran mendengarkan musik keras. Sejak terbentuk, band yang terpengaruh oleh Minor Threat, H2O, The Clash, Slayer, Motorhead, Judas Priest, dan Rancid ini kerap mengalami gonta-ganti formasi dan hanya menyisakan Senasaragi dan Rikonegara sebagai mastermind-nya.
Juni mendatang, Messiah berencana untuk menggelar tur empat negara Asia Tenggara: Indonesia, Thailand, Malaysia dan Singapura. Untuk itu, saat ini, mereka mulai membuka segala macam bentuk bantuan dan dukungan dari semua pihak, baik itu endorsement, kerja sama, atau bahkan donatur untuk mendanai tur tersebut. Lalu September mendatang, Senasaragi, Rikonegara, Matyons, Nurdin Pampam dan Rofiqu siap kembali ke studio untuk menggarap album penuh perdananya. (RN/MK03)
.