Menyederhanakan Dosa MONKEY TO MILLIONAIRE

Walau lirik didominasi tema tujuh dosa mematikan, namun karya rekaman terbaru dari Monkey to Millionaire yang dirilis pertengahan Januari 2019 lalu, “Bipolar” tak ingin dihidangkan dengan konsep musikal penuh kengerian. “Apa adanya, simple dan nggak terdengar terlalu dipikirkan,” cetus para personelnya; Wisnu Adji (vokal/gitar) dan Aghan Sudrajat (bass/vokal) kepada MUSIKERAS, menegaskan.

Album “Bipolar” yang diedarkan dalam format digital serta fisik (CD) tersebut dirilis berselang dua tahun dari album sebelumnya, “Tanpa Koma”. Dan dari segi kreativitas musikal, duo alternative rock asal Jakarta ini mencoba menghadirkan penyegaran. 

“Kami kangen sama musik-musik seperti itu sekarang, lagu dengan proses yang simpel dan menyenangkan. Gue lebih banyak mikirin suasananya aja, gue pengen lagu-lagu Monkey di ‘Bipolar’ lebih berasa simple dan fun aja kali ini,” urai Wisnu yang kali ini mengeksekusi keseluruhan proses penulisan lirik. 

“Simple, cathcy, to the point, jujur, tapi berbobot,” cetus Aghan menimpali.

Dan jika harus membandingkannya dengan “Tanpa Koma”, Aghan dan Wisnu mengklaim konsep kali ini memang jauh berbeda. “Semuanya beda. Cara nyanyi di setiap lagunya, aransemen, suasana album dan apalagi progresi kord… beda banget.”

Proses penggarapan rekaman “Bipolar” sendiri berlangsung cukup cepat. Karena menurut Aghan, keseluruhan sesi dikerjakan sendiri, termasuk pengoperasian teknis rekaman serta mixing. Jadi tidak ada proses saling menunggu. Ditambah lagi, Elephant Studio yang digunakan untuk menjalani rekamannya merupakan milik Aghan sendiri. 

Selain itu, sebenarnya, sebagian materi lagunya sendiri sudah ada sejak 2017 silam. “Proses bikinnya lebih banyak melalui proses latihan kali ini, nyari-nyari di studio kayak waktu dulu di album-album awal,” ujar Wisnu lagi.

Oh ya, di antara deretan lagu-lagu baru yang tersaji di “Bipolar”, khusus untuk rilisan fisik, Monkey to Millionaire menyelipkan lagu “The Great End” sebagai trek bonus. Sebuah karya lama yang mereka ‘poles’ lagi, lagu yang tadinya diciptakan bersamaan dengan materi lagu untuk album perdana “Lantai Merah”, namun sayang tak sempat dikeluarkan.

“Kami perlu sesuatu untuk jadi pelengkap di konsep album ‘Bipolar’ dan tiba-tiba kepikiran lagu ini,” cetus Aghan, beralasan. Sementara menurut Wisnu, karena kebetulan dari dulu mereka memang suka sama lagu tersebut. “Dan sampai sebelum ‘Bipolar’ keluar pun, kami suka mikirin, ‘Sayang ya lagu ini nggak keluar dulu’. Akhirnya selagi bisa ya udah, kami keluarin di ‘Bipolar’. Lagi pula judulnya terdengar pas buat penutup dari ketujuh lagu lainnya.”

Monkey To Millionaire mengawali karirnya pada 2004 silam dengan mengibarkan Lucca sebagai nama awal. Perhatian publik indie lantas melirik band ini lewat single “Rules and Policy” yang termuat di album “L.A Lights Indie Fest”. Sebelum “Bipolar”, Monkey to Millionaire telah menelurkan lima buah karya rekaman, yakni self-tittled (EP 2007), lalu “Strange Is The Song In Our Coversation” (EP 2010), lalu seterusnya album penuh “Lantai Merah” (2009), “Inertia” (2013) dan “Tanpa Koma” (2017). (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.