Pernah membayangkan jika keagresifan Slipknot dan Linkin Park dilebur jadi satu? Kira-kira band inilah jawabannya. Afterlife yang berasal dari Florida, AS secara tegas menyebut kedua band itulah pengaruh utama musik mereka, yang telah disemburkan di album debut bertajuk “Breaking Point”, yang telah diedarkan via Hopeless Records sejak 11 Januari 2019 lalu.
“Kedua artis itulah yang sangat terhubung dengan kami saat tumbuh, kami menyukai agresi kasarnya, dan sejujurnya kedua band tersebut menunjukkannya di setiap album (yang mereka rilis) dan kami ingin berbagi pengalaman yang sama dengan orang-orang yang mendengarkan musik kami,” ungkap vokalis Tyler Levenson kepada MUSIKERAS.
Tyler Levenson, gitaris Andrew McGuire, dramer Luke Walkinshaw serta bassis Tristan Edwards menggarap rekaman “Breaking Point” bersama produser Zakk Cervini dan Zach Jones. Bekerjasama dengan kedua produser tersebut, diakui para personel Afterlife sangat membantu mereka untuk mewujudkan visi musikal yang tadinya hanya sebatas mimpi bagi mereka, dan mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat materi lagu-lagu di “Breaking Point” terdengar sempurna.
“Percaya pada proses!” Itu kalimat yang selalu ditekankan pihak manajemen Afterlife sepanjang proses penggarapan album. Karena bagi Afterlife, pada awalnya terlihat sulit untuk melihat gambaran keseluruhan albumnya. “Satu hal yang dikatakan manajer kami, adalah mempercayai prosesnya, karena kita tak pernah tahu digiring ke mana oleh inspirasi-inspirasi kita, karena kita terinspirasi banyak hal secara acak, yang (akhirnya) ternyata memang tertuang di album,” urai Tyler lagi.
Sejauh ini, single-single Afterlife seperti “Holding On”, “Giving Back the Pain”, “Sacrifice” dan “Throat” lumayan mendominasi berbagai daftar lagu pilihan (playlist), misalnya di Spotify (Rock Hard, New Core, New Blood), Amazon (Fresh Hard Rock, The Forge) serta Pandora (New Rock).
Namun dari keseluruhan lagu yang termuat di “Breaking Point”, Tyler Levenson menyebut lagu “Broken Home”-lah yang tersulit menjalani proses rekamannya. Maklum, liriknya sangat personal bagi Tyler. “Sebuah kisah nyata, yang menceritakan sebuah siksaan, dan untuk mengeluarkannya (ke dalam lirik) sangat sulit untuk dilakukan, tapi (kini) saya bahagia karena saya melihat orang-orang yang pernah mengalami hal yang sama terkoneksi ke lagu tersebut, dan buat saya itu adalah sebuah pencapaian.”
Following up their fast and in-your-face ‘Vicious Cycle’ EP, the highly anticipated album ambitiously tackles a variety of impactful topics from mental health and domestic assault to political apathy and the weight of guilt over the course of 10 unique tracks that blend influences like Slipknot, Linkin Park and modern hip-hop. ‘Breaking Point’ is the band’s debut album and their first release on Hopeless Records.
Afterlife memulai karir mereka pada akhir 2016 lalu, dari kawasan West Palm Beach, Florida. Sebelum merilis “Breaking Point”, mereka telah mengawali pelampiasan kreativitas musikalnya lewat album mini (EP) berjudul “Vicious Cycle” (2017). (mdy/MK01)
Kredit foto: Maysa Askar
.