Di tengah keleluasaan berpromosi di jagat internet, semakin banyak pula musisi atau band yang mempunyai kesempatan dan berlomba-lomba memaksimalkan ruang ekspresinya dalam berkarya. Salah satunya The Space Travellers, band rock asal Jakarta yang mencoba menjelajah ke berbagai genre untuk menancapkan identitasnya. Mereka berbekal serapan-serapan musik dari elemen alternative, grunge, progressive hingga stoner, lalu menuangkannya di sebuah single debut bertajuk “Eleven”, yang sudah bisa diakses di berbagai gerai digital.
Sebagai entitas baru di industri musik Indonesia, The Space Travellers yang dihuni formasi Bimo Bramantyo (vokal/bass), Adhitya “Didit” Mayandra (drum) dan Afrizya Bramandhita (gitar) mempunyai idealisme untuk menghadiri nuansa musik yang berbeda di kancah rock mainstream di Indonesia, tapi tetap memiliki relevansi dan emotional engagement terhadap para pendengarnya. Mereka ingin menciptakan ruang tersendiri di antara alunan melodi dan nada musik yang belum pernah dijelajahi sebelumnya.
Bahkan judul lagunya sendiri tidak mempunyai kaitan langsung dengan tema lagu. “(Judul lagu) diambil dari pola ketukan tempo lagu tersebut, yaitu 11/8,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS.
Dari segi musik, “Eleven” menyerap referensi dari berbagai band yang pernah singgah di telinga mereka selama menjalani prosesi bermusik. Banyak di antaranya berasal dari band-band beraliran grunge, alternative, heavy metal dan progressive seperti Foo Fighters, Nirvana, Incubus, Radiohead, Mastodon dan Metallica.
“ Perpaduan band-band inilah yang memberikan influence terhadap single perdana kami, ‘Eleven’. Lagunya mempunyai karakter rock yang cukup kental, dan diisi dengan lirik yang bertemakan tentang suara dari the working class society, yang seringkali menjadi korban dari ketidakadilan sistem sosial ber-status quo yang dibentuk oleh segelintir kaum elite, yang seolah-olah berada di bumi yang berbeda dari yang dipijaki masyarakat pada umumnya. Lagu ini pada dasarnya mencerminkan perhatian kita terhadap isu sosial di masyarakat.”
Proses perekaman “Eleven” sendiri dimulai sekitar pertengahan 2018, dimana mereka mengeksekusinya bersamaan dengan beberapa materi lainnya, yang rencananya akan tergabung dalam perilisan EP perdana The Space Travellers.
“Seluruh proses perekaman berikut mixing dan mastering kami lakukan di Studio Lingkar 8 yang dinaungi oleh Pahlevi Santoso, atau lebih dikenal dengan Levi The Fly. Rencananya akan ada empat materi (lagu) yang akan dimatangkan untuk EP tersebut. Saat ini proses perekaman sudah hampir rampung, dan akan disusul dengan proses mixing dan mastering. Kami harap perilisan bisa dilakukan di akhir tahun ini atau di awal tahun depan.”
Awal kiprah The Space Travellers dimulai secara tidak resmi pada 2016 lalu, saat ketiga personelnya melakukan reuni kecil untuk sebuah proyek musik. Mereka memang telah berteman sejak SMA, namun sempat ‘terpisah’ karena kesibukan kuliah, dan akhirnya punya perjalanan musik masing-masing, walaupun secara on-off masih suka berkolaborasi.
Nah, pada 2016, mereka berkumpul lagi dengan keinginan awal untuk melakukan jamming di tengah kesibukan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, materi yang keluar dari sesi jamming tersebut semakin lama semakin banyak. Akhirnya pada 2018, mereka memutuskan untuk menjadikan proyek tersebut menjadi sebuah band, dan menjajaki dapur rekaman untuk mematangkannya.
Nama “The Space Travellers” sendiri bisa diartikan sebagai ‘para penjelajah ruang’, yang terinspirasi dari keinginan mereka untuk terus melakukan eksplorasi di dunia musik, menjelajahi ruang-ruang nada dan melodi baru yang belum pernah terjamah sebelumnya. “Prinsip tersebut membuat kami tidak membatasi diri dalam berkarya, mulai dari pemilihan nada, chord progression, tema lirik, ketukan tempo hingga durasi lagu.” (mdy/MK01)
.