TIDERAYS Rilis Kemuraman “At the Eleventh Hour”

Sensasi kengerian yang digeber di demo lagu “Syllable Perishable” dan “Proposition Distrait”, yang diluncurkan pada September 2018 lalu kini diteruskan Tiderays. Kuartet beringas asal Semarang ini kembali menerjang lewat komposisi baru bertajuk “At the Eleventh Hour” yang tetap sarat akan raungan hardcore cadas yang kelam.

“Kami masih mempertemukan benang merah antara demo yang kami rilis tahun lalu dengan single ‘At the Eleventh Hour’, baik itu secara sound, konsep, dan tema,” cetus Tiderays kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Menurut pihak band yang diperkuat formasi Ghozzy El-Yussa (vokal), Fauby Duvadilan (bass), DF Ahmad (gitar) dan Gresia (dram) tersebut, “At the Eleventh Hour” merupakan pelafalan momentum takluknya seseorang atas persoalan hidup yang membuncah, membuatnya jatuh dan makin bertekuk lutut. “At the Eleventh Hour” sendiri dipilih sebagai peluru pembuka gebrakan mereka di 2019 karena secara musikal, single tersebut menjadi entitas yang sangat mewakili keseluruhan lagu pada album penuh “401” yang rencananya bakal mereka rilis pada Juli 2019 mendatang via Samstrong Records.

Setidaknya, butuh waktu enam bulan bagi Tiderays untuk melakukan produksi “401”, mulai dari membuat konsep hingga pengumpulan materi. Sementara proses rekaman dieksekusi di Watchtower Studio, Yogyakarta sejak April 2019. Tapi khusus sesi rekaman vokal, dirampungkan di Paw Studio, Semarang pada Mei 2019 lalu. Bable Sagala, pemilik studio yang juga penggebuk drum band thrash metal, Metallic Ass, punya andil besar terkait teknis sehingga membuat kemasan album “401” semakin eksploratif dan eksplosif. Terakhir, untuk pengolahan mixing dan mastering dipercayakan pada Made Dharma, musisi sekaligus produser aktif dalam beberapa proyek musik, di antaranya Deadly Weapon, Warmouth, Sunlotus dan lainnya.

Judul “401” sendiri adalah akronim dari “For No One”, nihil dan tak bertuan. “Bebas saja jika ingin mengaitkan dengan paradigma Nihilisme milik Nietzche. Toh, pada akhirnya, kita juga saling tak punya kesepakatan siapa tuan dari berbagai permasalahan,” ungkap DF Ahmad menerangkan.

Tiderays mengklaim, keseluruhan lagu di “401” adalah gugusan bahan peledak yang terdiri atas beragam fragmentasi hardcore, punk, crust, doom, sludge, hingga death metal. Singkatnya, Tiderays menggasak hardcore di ranah yang paling muram. Banyak mengacu pada band-band seperti Entombed, Alpinist, Martyrdöd dan His Hero is Gone. (mdy/MK01)

Kredit foto: Brigitan Arga

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *