DIRTY ROTTEN BASTARDS dan Keresahan Punk

Kekisruhan yang melanda penyelenggaraan Pemilu 2019 lalu telah menyedot perhatian banyak orang, sekaligus menuai kekhawatiran terhadap perpecahan bangsa. Isu ini pun banyak menginspirasi musisi untuk menyuarakan keresahannya. termasuk unit punk ‘bajingan’ asal Jakarta Timur, Dirty Rotten Bastards (DRB).

Pada Juni ini, band yang digerakkan oleh formasi Rizman (gitar/vokal), Noval (dram), Jona (bass) dan Edwin (gitaris yang baru bergabung pada 2017) tersebut telah merilis album mini (EP) pertamanya, yang diberi tajuk “Senandung Persaudaraan”. Berisi lima lagu enerjik yang mengangkat isu sosial dan persaudaraan.

“Karena kami sepakat, bahwa siapa pun kita, apa pun agama, suku, RAS, status sosial atau pun genre-nya, ya kita tetap bersaudara. Makanya, kami sengaja merilis album mini ini selepas pemilu 2019 yang kita semua tahu, bangsa ini ingin dipecah menjadi tiga golongan, yaitu pendukung 01, 02, dan Nurhadi-Aldo,” cetus pihak band beralasan. 

Eh iya, Nurhadi-Aldo ini tentunya guyonan. Karena memang kedua nama itu adalah pasangan calon Presiden fiktif yang lumayan viral di media sosial. Merupakan gabungan Nurhadi – seorang tukang pijat yang kerap berpromo dengan gaya konyol – dengan Aldo, tokoh fiktif yang dikenal karena unggahan alay-nya.

Kembali ke EP “Senandung Persaudaraan”. DRB menggarap materi dan  produksinya selama kurang lebih dua tahun. Alasan klasik, yakni kesibukan para personelnyalah yang menjadi kendala utama. Selain itu, terkadang pula tersandung jadwal yang bentrok.

Lima lagu yang disuguhkan di EP, yakni “Menolak Dibungkam”, “Kelas Pekerja”, “Fantasi Liar” dan “Senandung Persaudaraan” direkam di Plug Studio, termasuk untuk pengolahan mixing dan mastering. Sementara untuk lirik, semua lagu ditulis oleh Jona, kecuali “Prove It” yang lahir dari coretan rekan mereka, Hani Wijaya.

“Tema dari setiap lagu di album kami diambil dari keresahan-keresahan yang ada di sekitar kami dan teman-teman kami. Makanya, kami berharap supaya lagu-lagu tersebut bisa menjadi api semangat bagi mereka yang sedang berjuang,” seru DRB kepada MUSIKERAS, menambahkan.

Selama menjalani proses kreatif penggarapan “Senandung Persaudaraan”, DRB mengaku banyak mendapatkan pengalaman berharga. Mereka merasa semakin open minded dan menyadari bahwa di dalam band ini ada empat manusia yang masing-masing mempunyai isi kepala yang berbeda. “Kami belajar menerima dan menghargai pendapat teman ketika ada ide kami yang nggak bisa diaplikasikan ke dalam album. Dan ini menarik, kami justru menjadikan (proses) itu sebagai pendewasaan diri.”

Awal DRB sendiri terbentuk kira-kira akhir 2013 yang dipicu keisengan Noval, yang secara tidak sengaja melihat akun Twitter Rizman di lini masa-nya. Singkat cerita Noval lalu mengirim pesan personal untuk mengajak Rizman jamming di studio, yang didasari kesamaan selera musik dan sama-sama mengidolai Billy Joe Armstrong, vokalis dan gitaris Green Day. Karena kurang personel, Rizman lantas mengajak Jona yang kebetulan memang sering jamming bersama di studio. Dan terbentuklah Dirty Rotten Bastards pada 2014.

“Seiring waktu berjalan, kami merasa cocok, tapi males untuk membentuk band yang serius. Karena tujuan awalnya memang ngeband untuk mengurangi penat selepas kerja. Namun, kami mendapat feedback positif dari teman-teman untuk membentuk band, dan akhirnya terbentuklah Dirty Rotten Bastards.”

Walau nama band diambil dari salah satu judul lagu Green Day, tapi anehnya, DRB mengaku tidak terpengaruh Green Day dalam urusan musikalitas. Pengaruhnya banyak diserap dari Social Distortion, Bad Religion, NOFX, Dropkick Murphys hingga Rancid.

“Kami memang sangat terinspirasi oleh Green Day, tapi sangat jarang membawakan lagu-lagunya ketika kami manggung. Kami lebih sering memainkan lagu Rancid, bahkan lagu-lagu Rancid sudah menjadi template ketika kami manggung… hahaha, F**k you Billy Joe Armstrong!” (mdy/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.