Lewat “Sanctuary”, RED VOQUS Bertahan di Grunge

Setelah melahirkan dua single bertajuk “Nothing is Silence” serta “Blind Woman Tears” yang didominasi geraman distorsi, unit rock asal Jakarta, Red Voqus kembali meraung lewat single baru. Kali ini berjudul “Sanctuary”, yang dihadirkan dengan karakter sound yang lebih bersih plus tambahan soundscape, namun tanpa melupakan terapan riff sarat skill yang catchy.

Proses kreatif penggarapan “Sanctuary” dilakukan oleh Gian (gitar) – si pencetus ide – dan Alit (vokal/gitar) sebagai pelengkap. Kolaborasi kedua personel Red Voqus tersebut terbilang unik, karena dilakukan jarak jauh. Saat ini Gian masih menuntut ilmu di Jerman, sementara Alit sudah berada di Indonesia. Jadi prosesnya, ungkap Red Voqus kepada MUSIKERAS, lebih banyak dilakukan via interaksi dunia maya, namun akhirnya membuahkan hasil. “Kurang lebih dua minggu yang dibutuhkan untuk merampungkan lagunya,” kata mereka.

Lirik “Sanctuary” sendiri menggunakan Bahasa Inggris, karena kedua penulisnya, yakni Alit dan Gian merasa lebih mampu menuangkan perasaan mereka lebih leluasa dengan bahasa tersebut, dimana mereka mengilustrasikan depresi yang disebabkan oleh sulitnya menentukan pilihan hidup, terjadi kontradiksi antara harapan orang terdekat dan suara hati pribadi.

Sementara untuk ramuan konsep musiknya, grunge masih menempati porsi terbesar. Namun dieksekusi mengikuti kata hati para personelnya. “Depresi tingkat tinggi yang dialami Gian sebagai penulis tertampung semua di lagu ini. Referensi dan influence jujur Gian dan Alit memang suka melahap musik ‘90an, khususnya grunge atau Seattle sound.”

Sejarah Red Voqus mulai digelindingkan pada 2017 oleh Alit dan Gian yang bertemu di sebuah kota bernama Bonn, di Jerman. Gian yang terpukau setelah mendengarkan sebuah lagu “Nothing is Silence” yang dimainkan oleh Alit dengan gitarnya, lantas memutuskan untuk mengajak Alit membentuk sebuah band. Awalnya berjalan tidak begitu lancar, apalagi dengan kepulangan Alit ke Indonesia yang membesarkan jarak keduanya. Namun Alit yang berada di Indonesia justru semakin membara dan mencari dua personel tambahan untuk memenuhi kekosongan instrumen lainnya. Wino, yang kebetulan merupakan kawan mereka yang sudah pulang lebih dulu, mengisi di posisi bass. Terakhir, teman dekat Alit bernama Dicoy menempati posisi dram. Tak lama, ketika Gian kembali ke Tanah Air, saat itulah Red Voqus lahir.

Setelah “Sanctuary” yang kini sudah bisa didengarkan di berbagai layanan streaming seperti Spotify, iTunes, Apple Music serta gerai digital lainnya, Red Voqus akan fokus pada perampungan album yang diharapkan bisa rilis akhir tahun ini. (aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.