“Mendengarkan musik kami adalah obat penyakit migrain, dijamin sembuh, hahaha…. Karena musik kami mengajak semua orang untuk selalu bergembira dan tetap semangat!”
Itu janji The Riot Cub, unit punk slenge’an asal Jakarta. Mereka – Jamet (vokal/gitar), Mirza (bass) dan Muksin Sopian (dram) – merujuk ke single debut “Bersenandung Bersama”, yang sudah diedarkan di berbagai gerai digital sejak Oktober 2019.
“Fornulanya adalah, bagaimana caranya agar semua orang yang mendengarkan musik kami bisa langsung ikut bersenandung dan selalu ceria bersama kami, easy listening dan gampang nempel di kepala. Referensi dan influence kami antara lain adalah Sex Pistols, Primus dan Anggun C. Sasmi… hehehe,” ujar Mirza kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di The Riot Cub.
“Bersenandung Bersama” sendiri merupakan lagu pembuka menuju perilisan album yang rencananya bakal dieksekusi tahun depan. Menurut pihak band, album tersebut bakal berisi 11 lagu, dan segala sesuatunya – termasuk artwork – sudah siap dibungkus.
Khusus penggarapan rekaman “Bersenandung Bersama” yang dilakukan di Rintop Studio, Pondok Bambu, Jakarta digarap dalam waktu yang lumayan singkat. Kurang dari sebulan. Materi lagu berasal dari Jamet, yang lantas diisi suara latar beramai-ramai, dibantu oleh para personel band death metal Hellcrust.
The Riot Cub sendiri terbentuknya pada 2014, yang diawali oleh Mirza – musisi yang kerap menjadi musisi pengganti serta kru untuk band seperti NTRL, The Brandals, Deadsquad dan Cokelat – bersama dramer Berti alias Fiber dan vokalis/gitaris Buluk (Superglad/Kausa) yang kebetulan punya hobi yang sama, yaitu kustom motor streetcub dan choppycub. Buluk lantas mengajak membentuk band proyekan, yang kemudian diberi nama The Riot Cub.
Mereka mengawali karir dengan manggung di acara-acara motor kustom. Selanjutnya, sekitar 2016, ketiganya mulai mencoba menggarap lagu-lagu demo di studio The Doors. Lagu-lagu yang terkemas dalam album mini (EP) tersebut lalu dirilis dalam format kaset oleh sebuah label rekaman independen asal Medan. Kaset tersebut hanya dirilis dalam jumlah terbatas, yakni 200 keping dan ludes.
Tahun berikutnya, Muksin yang juga tercatat sebagai teknisi dram untuk band Efek Rumah Kaca bergabung di formasi The Riot Cub menggantikan dramer sebelumnya yang pindah ke Bali. Masih di tahun yang sama, Buluk mendadak menghilang dari peredaran, dan menyebabkan The Riot Cub harus vakum. Namun kira-kira tujuh bulan kemudian, Mirza bertemu dengan musisi ‘gila’ jebolan sebuah institut musik prestis bernama Jamet dan mengajaknya memperkuat The Riot Cub. (mdy/MK01)
.