SHANKAR, Menebar Stoner/Doom Pembawa Kebahagiaan

Salah satu hal yang menarik di era digital ini, dimana distribusi karya rekaman tak lagi berbatas, membuat semakin banyak musisi atau band yang menghasilkan karya yang eksperimental, ekspresif namun impresif. Penerapan ide-ide musikal juga tak lagi monoton, dan bisa menembus berbagai pakem genre.

Dari sekian banyak karya yang bertebaran di lautan platform digital, Shankar adalah salah satu produk yang dimaksud. Unit keras asal Denpasar, Bali yang diperkuat formasi Aditya Putra (vokal/gitar), Gus Adi (gitar), Aditya Baskara (bass) dan Yoga Aryawan (dram) ini menyebut paham musiknya di kotak stoner rock. Namun pada kenyataannya mereka melebarkan formula aransemen, dan sekaligus menjadikannya ciri khas.

Seperti yang tertuang di album mini (EP) mereka, “Under the Human State”, yang telah diedarkan beberapa waktu lalu. Di album yang rekamannya dieksekusi di studio Crayon Records, Denpasar, dan antara lain memuat single “Savior of the Death” tersebut, band bentukan akhir 2016 ini mengaduk berbagai pengaruh.

Paling jelas, nama dan musiknya sangat terinspirasi Ravi Shankar, maestro sitar asal India, yang sekaligus memberi kebahagiaan jika merujuk makna dalam bahasa Sansekerta. Lebih jauh, Shankar juga menyuntikkan elemen rock purba ala Black Sabbath dan Led Zeppelin, yang dipadukan dengan pengaruh Doom/Psychedelic ke dalam materi-materi lagunya. Kebanyakan diserap dari karya-karya keluaran band seperti Kyuss, Kadavar, Sleep, Samsara Blues Experiment hingga Monolord.

Seperti yang tersirat jelas di komposisi “Savior of the Death” yang liriknya bercerita tentang seseorang yang ingin diselamatkan dari keterpurukan yang menghujaninya. “Kami mendeskripsikan musiknya dengan suara sitar yang lembut dan fuzz yang keras pada bagian akhir. Referensinya kami ambil dari lagu-lagu Ravi Shankar dan Black Sabbath,” cetus Shankar kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Belum lama ini, tepatnya pada 31 Oktober 2019 hingga 4 November 2019, Shankar telah memamerkan karya-marya musiknya lewat paket “Under the Human State Tour 2019”, dimana mereka mengunjungi beberapa tempat di Jakarta, Bogor, Bandung dan Tangerang.

satu bulan, dan direkam di studio crayon records di daerah pasar kreneng denpasar

Setelah merilis “Under the Human State” yang bisa didengarkan di berbagai gerai digital macam Spotify, Deezer, Apple Music hingga Amazon Music ini, Shankar menjanjikan berencana untuk segera merilis single baru lagi dalam waktu dekat. “Lagu yang sangat berbeda dibanding lagu-lagu di EP sebelumnya!” (aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.