TIGABELAS TONBESI Siap Kepalkan “Distorsi Korporasi”

Seperti namanya yang terkesan padat dan solid, unit beringas asal Jakarta ini pun telah hadir dan menghantam keras lewat single bertajuk “Sesak Terkepal”, karya rekaman yang sudah dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital seperti Spotify, Joox, Deezer, Apple Music, dan sejenisnya.

“Sesak Terkepal” yang liriknya terinspirasi dari cerita seseorang yang berjuang melawan kerasnya kehidupan yang tengah dilaluinya tersebut juga merupakan gerbang menuju pelepasan album mini (EP) debut Tigabelas Tonbesi bertajuk “Distorsi Korporasi”, yang rencananya dirilis dalam format fisik dan digital pada 13 Maret 2020 mendatang via Veldust Record.

Proses kreatif penggarapan “Sesak Terkepal” sendiri sudah dimulai sebelum proses rekaman berlangsung pada September 2018 lalu. Jadi saat masuk Venom Studio untuk memulai eksekusi rekaman, “Sesak Terkepal” serta semua lagu yang ada di dalam album “Distorsi Korporasi” sudah di tahap 90% penggarapan aransemennya.

“Hanya beberapa bagian kecil yang kami modifikasi atau tambahkan saat rekaman. Begitu masuk studio, kami fokus untuk mencari sound yang diinginkan untuk lagu-lagu tersebut. ‘Sesak Terkepal’ justru lagu terakhir yang kami rekam. Kami menggunakan empat buah gitar dan empat amplifier gitar yang berbeda-beda karakter untuk mendapatkan tone yang diinginkan,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Ada sedikit catatan teknis dari Tigabelas Tonbesi saat merekam “Sesak Terkepal”. Ketika rampung merekam lagu tersebut di dua shift terakhir, mereka merasa seperti masih ada yang kurang, sedangkan saat itu waktu shift rekaman sudah hampir habis. “Tapi berhubung studio punya kawan juga akhirnya kami dibolehkan menyelesaikan lagu tersebut. Kami menambah beberapa layer parts, terutama di bagian gitar sehingga akhirnya mendapatkan apa yang kami inginkan. Sekitar pukul 4 pagi proses rekaman ‘Sesak Terkepal’ pun selesai.”

Mengenai materi “Distorsi Korporasi” sendiri, sejauh ini penggarapan produksinya sudah siap edar 100%. Proses rekaman, lalu mixing dan mastering dilakukan di tiga tempat berbeda dengan penanganan yang terbilang apik dan cermat. Lima lagu yang termuat di dalamnya – termasuk “Seperti Besi”, “Pijar Cahaya”, “Berontak Kencang Menolak Binasa” dan “Hilang Bersama Sunyi” – keseluruhan digarap oleh gitaris Hari Suseno.

Dalam menjalani prosesnya, Hari beserta personel Tigabelas Tonbesi lainnya, yakni Putri (bass/vokal), Ami Novrian (gitar) dan Miko (dram) dibantu pula oleh produser Bampak, seorang musisi yang pernah menakhodai The Miskins, sebuah band yang sangat dikenal oleh kalangan pecinta musik punk rock Tanah Air pada dekade 2000-an.

Pengolahan mixing hasil rekaman lantas dipercayakan pada Jones Roma di Defjones Studio, BSD, Tangerang. Jones sendiri merupakan seorang sound engineer apik yang turut andil dalam remixed lagu U2 “Red Hill Mining Song” bersama Steve Lillywhite pada 2017 lalu.

Sementara untuk mastering ditangani oleh James Plotkin di Plotkinworks Studio, Amerika Serikat pada Juni 2019 lalu. James juga adalah seorang audio engineer, musisi dan produser, yang tidak asing di kalangan musisi Amerika Serikat dan Eropa. Selain Tigabelas Tonbesi, Koil juga merupakan band yang pernah bekerjasama dengan James, tepatnya di penggarapan album “Megaloblast” versi piringan hitam.

Tigabelas Tonbesi sendiri – yang secara musikal di antaranya banyak terpengaruh band-band cadas seperti Coal Chambers, Slayer, Suicidal Tendencies, Smashing Pumpkins, Anthrax, Megadeth, Nails hingga Pantera – terbentuk sekitar November 2017 lalu. Lahir dari kegelisahan Hari Suseno yang sudah lama vakum dari industri musik Indonesia, sejak bandnya bubar pada 2005 silam. Pada 2017, Hari dipertemukan oleh Putri, Ami serta dramer pertama, Mozart yang sama-sama punya keinginan untuk berekspresi liar karena jenuh dengan kehidupan rutin dunia korporat. Sayangnya, formasi ini tidak bertahan lama. Mozart memututskan untuk mengundurkan diri karena harus berkarir di luar pulau.

Oh ya, pemilihan nama Tigabelas Tonbesi sendiri terkesan unik dan berat. Namun memiliki filosofi yang dalam. Banyak intrepetasi untuk Tigabelas (13), angka yang penuh mitos. Dianggap membawa sial, namun tidak sedikit yang beranggapan sebaliknya. Sementara besi bersifat solid dan kuat, namun apabila tidak dirawat akan berkarat dimakan waktu. Sama seperti manusia, kalau tidak berkembang akan mati tergilas zaman. Selain itu, Tigabelas Tonbesi memiliki huruf awal yang sama.

“Kami memaknai hal tersebut sebagai dua sifat ekstrim yang ada dalam diri manusia, baik dan buruk. Tergantung dari pribadi seorang manusia, jalan mana yang akan dia pilih.” (mdy/MK01)

Kredit foto: Arissuno

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.