Dari Aceh, LAMURI Berjuang Melawan “Tirani”

Di tengah kurangnya apresiasi pemerintah setempat terhadap karya-karya para talenta lokal di Aceh rupanya tidak menyurutkan semangat band alternative rock ini untuk terus berkarya. Dengan modal single perdana, “Tirani” yang telah diluncurkan sejak 19 Januari 2020, mereka mencoba mengepalkan tinju ke udara untuk menegaskan eksistensi mereka.

Butuh kurang lebih setahun bagi Lamuri untuk merampungkan proses penggarapan “Tirani”, yang dilakukan sepanjang 2019 lalu. Namun menurut penuturan pihak band kepada MUSIKERAS, sebenarnya materi awal “Tirani” sudah ada sejak 2016 silam. Namun saat itu, belum ada vokalis yang dirasa cocok untuk menyanyikannya. Sampai pada pertengahan 2019, gitaris Teuku “Ponbeat” Ilmansyah mengajak vokalis Akbar “Ajok” Anzulai untuk menggarap proyek single “Tirani”, yang mana sebelumnya sudah ada beberapa penyanyi yang menjajal menyanyikannya. Pada akhirnya, ternyata Ajok-lah yang mampu mengeksekusinya dengan tepat, dengan karakter vokalnya yang sangat rock. Singkat cerita, proyek itu pun lantas berkembang menjadi sebuah band, dan dinamai Lamuri.

Proses rekaman “Tirani” dilakukan di Beat Studio, dimana Ponbeat sendiri yang bertindak sebagai producsr dan pengarah musik. Saat direkam, Ponbeat dibantu oleh Tebonk Inverno untuk mengisi porsi bass, karena saat itu Lamuri belum memiliki bassis dan dramer. Walaupun pada akhirnya, Alief “Bolip” Maulana (bass) dan Muhammad “Boo” Iqball (dram) bergabung untuk melengkapi formasi Lamuri.

Tuturan lirik di lagu “Tirani” mengandung makna yang dalam. Di sini, Lamuri menceritakan tentang perjalanan kehidupan yang amat terjal dalam suatu dimensi gelap kehidupan yang amat kekang. “Pada akhirnya lewat lagu ini memberi pesan moral kepada kita manusia untuk terus berjalan melakukan segala hal yang terbaik kepada semesta dan seisinya dengan optimisme agar mampu melawati cobaan dalam setiap waktu yang dilalui,” urai pihak band meyakinkan.

Untuk garapan komposisi musiknya, Ponbeat dan rekan-rekannya di band mengaku banyak menyerap referensi dari band-band luar seperti Opeth, Foo Fighters, Pearl Jam serta sentuhan alternative rock lainnya. Saat ini, Lamuri yang didirikan pada 2019 oleh Ponbeat – dimana nama band terinspirasi dari nama sebuah kerajaan di Aceh pada abad ke-10 – masih terus berkarya dan tengah proses merampungkan single-single terbaru untuk kebutuhan album perdana. (aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.