Trio heavy rock asal Malang ini mencoba menghantui audiensnya dengan konsep musik beraura lebih gelap dan berat lewat album debutnya, “Macabre Lullabies”. Sedikit berbeda jika dibandingkan dengan “Flawless Darkness”, album mini (EP) yang mereka rilis melalui label rekaman Hell Is Other pada 2017 silam. Saat itu, kontur riff-riff rock purba model Black Sabbath, Deep Purple hingga Queen of The Stone Age cukup mendominasi. Tapi kali ini, lewat “Macabre Lullabies”, ada sentuhan sound kontemporer a la Mastodon dan Baroness.
Konsep utama di album “Macabre Lullabies” yang beramunisikan 10 lagu ini, secara keseluruhan, adalah mimpi buruk. Vokalis sekaligus gitaris Firlyano Fadly yang menulis lirik di album tersebut mengemukakan dua tipe mimpi buruk. Yang pertama, realitas yang terjadi di sekitar kita yang terekam di benak dan menghasilkan mimpi-mimpi buruk. Contohnya seperti peperangan, kehancuran, kemunduran umat manusia, dan juga hal-hal personal yang bernuasa negatif. Kedua, yakni hal-hal yang berupa fiksi seperti horor, baik dalam buku atau pun film. Kedua hal tersebut dilebur menjadi “Macabre Lullabies”, lagu-lagu penghantar ke mimpi-mimpi buruk. Setiap lagu mewakili hal atau sesuatu yang bisa menjadi mimpi buruk di saat kita terlelap.
Misalnya di salah satu lagu yang berjudul “Bleak Fang”. Di situ diceritakan melalui sudut pandang seorang Werewolf. Lalu di komposisi “The King of Doom”, Noose yang juga diperkuat Kevin Fahmi (bass) dan Dendi Ahmadi (dram) menghadirkan sosok Drakula, tokoh paling ikonik di dunia horor. Lagu ini semacam tribute Noose untuk sang makhluk penghisap darah.
Kemudian ada pula lagu “Ave Diabolus” yang dianggap sebagai sekuel dari lagu “Devil’s Envy” yang termuat di EP “Flawless Darkness”, yang menceritakan masa paska kedatangan Lucifer ke bumi, yang menghasilkan pengikut-pengikut yang datang dari neraka atau manusia-manusia yang membelot dan tunduk kepadaNya.
Sebagian materi lagu yang termuat di “Macabre Lullabies” sendiri sebenarnya adalah materi lama yang masih sangat kasar, yang lantas disusun dan dikemas kembali dalam sesi jamming setiap minggu.
“Ada pula materi yang benar-benar fresh, dibuat secara spontan di studio latihan seperti lagu ‘Lethergy’ dan ‘A.L.I.C.E.’. Proses rekaman kira-kira memakan waktu dua bulan dan direkam di studio milik mas Rama (Satria), yaitu Rama Project Studio. Lagu yang cukup sulit untuk direkam atau pun dimainkan secara live mungkin ‘Lethergy’, karena terdapat blastbeat part yang baru pertama kali kami terapkan di lagu ini, dan juga ‘A.L.I.C.E.’ dari segi vokal,” beber Noose kepada MUSIKERAS, menjabarkan.
Noose yang terbentuk pada 2016 adalah gabungan dari dua proyek musik saat para personelnya masih duduk di bangku kuliah. Kata ‘Noose’ lantas disepakati menjadi nama band didasari fakta bahwa lagu-lagu favorit para personel Noose memiliki kata ‘noose’ di dalamnya. Contohnya EHG (eyehategod) lagu “Medicine Noose” serta Soundgarden dengan lagu “Pretty Noose”.
“Dan yang paling penting adalah, kata ‘noose’ memiliki arti tali tambang yang digantung berbentuk lingkaran, yang digunakan untuk gantung diri. Sudah sangat mereprentasikan musik, lirik dan visi band kami.” (mdy/MK01)
.