‘Bola panas’ asal Jakarta ini siap melanjutkan misi untuk meledakkan skena punk kembali lewat single terbaru bertajuk “Orasi Pecundang”. Di sini, mereka tetap mengedepankan olahan sub-genre yang mereka sebut dengan istilah ‘universal punk’, yang sebelumnya telah dikobarkan lewat single debut “Mercenary Youth” yang diluncurkan pada 23 November 2019 lalu.
Gerakan demonstrasi yang marak dan berujung bentrokan dan kerusuhan di beberapa wilayah di Indonesia menjadi pemicu Resiko Meledak untuk mengumandangkan “Orasi Pecundang”. Menurut Ryandira Gente (vokal), Evan Gojink (gitar/vokal), Satrio Meleng (bass/vokal), Ravi Morele (dram/vokal), orasi mereka di lagu tersebut menonjolkan sudut pandang masyarakat yang merasa bahwa demonstrasi-demonstrasi tersebut hanyalah sebatas ‘basa-basi’ menuju terjadinya kerusuhan. Jajaran otoriter dan parlemen egosentrisme, menjadi pemicu terjadinya suatu gerakan yang tidak dinginkan. Para oknum di balik gerakan tersebutlah yang menjadi keresahan bagi masyarakat, sehingga muncul sudut pandang yang berbeda-beda.
“Secara konsep, kami sudah pikir secara matang mengenai bagaimana dan cara membawakan lagu ini ke dalam nafasnya sendiri, alias kami lebih yakin dengan apa yang sudah kami konsepkan. Mungkin perbedaannya dibanding single sebelumnya, ‘Mercenary Youth’ ialah prosesnya. Jujur untuk perekaman single sebelumnya, terasa lebih melelahkan karena adanya banyak hambatan. Di ‘Orasi Pecundang’ ini, pembuatan lagu lebih matang secara aransemen dan musikalitas yang masing-masing instrumen dan personel sudah paham betul bagiannya (masing-masing). Di ‘Mercenary Youth’ kami membicarakan mengenai konsep yang sama dengan ‘Orasi Pecundang’, tetapi menunjukan ke arah yang berbeda dengan perspektif yang berbeda,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, memperjelas.
Resiko Meledak mulai mengerjakan “Orasi Pecundang” sekitar akhir Oktober 2019 lalu, dan bahkan sudah sempat dimainkan di panggung PL Fair 2019. Namun karena terjegal segala kendala dan kesibukan masing-masing personel, “Orasi Pecundang” baru rampung pada Maret ini. Mereka merekamnya di ALS Studio untuk vokal dan dram, sementara gitar dan bass dieksekusi di rumah Satrio Meleng menggunakan perangkat interface iRig. Sementara untuk proses mixing dan mastering dibantu oleh Adhitomo Kusumo dan Wendi Arintyo di ALS Studio.
Berbeda dibanding single sebelumnya yang menggunakan lirik sebagai patokan dalam menghasilkan lagu punk, kali ini Resiko Meledak mengaku – selain lirik – juga lebih memperhatikan aransemen dan sound sebagai patokannya. Selain karena musik dan aransemennya yang lebih memadai dalam konsep punk, lagu tersebut juga meluaskan konsep punk yang ada, mengacu pada inspirasi dan referensi dari band-band punk era ‘80an.
“Kami menggunakan tempo yang naik-turun, tapi juga menyelipkan sedikit funk di dalam aransemen lagu tersebut, dimana sound mengarah ke hook line yang groovy dan mudah diarsir oleh para pendengar. Pemikiran ‘universal punk’ pun lebih mengarah ke konsep musikalitas yang bisa diekspansi ke berbagai macam sub-genre yang ada. ‘Orasi Pecundang’ pun menjadi salah satu turning point bagi kami dimana ‘Mercenary Youth’ dikenal sebagai alunan musik yang lebih merakyat di telinga pendengar, tetapi di ‘Orasi Pecundang’ lebih menyudutkan ke musik yang lebih raw dan high tempo.”
Langkah berikutnya, setelah melepas “Orasi Pecundang”, Resiko Meledak telah menyiapkan single ketiga. Selain itu, konsep album pertama pun sudah mereka siapkan dengan materi yang sudah diperbincangkan.
Sambil menunggu penayangan “Orasi Pecundang” pada 27 Maret 2020 mendatang, sementara tonton video (official audio) dari single mereka sebelumnya, “Mercenary Youth” di bawah ini. (mdy/MK01)
.