Reinkarnasi Project Babi No. 9 Lahirkan Karya Debut SAKARIN

Dengan konsep musik yang bertumpu pada campuran esensi dari grindcore, garage punk, sludge dan indie rock, proyek Sakarin yang sempat tertidur lama dihidupkan lagi lewat sebuah rilisan album penuh bertajuk “self-titled”. Karya rekaman rilisan Dugtrax Records yang mengemas 10 lagu plus intro berdurasi singkat ini sudah menggema di kanal Bandcamp sejak 12 Februari 2020 dan sehaeri sesudahnya di berbagai layanan dengar musik digital (streaming) seperti Spotify, Apple Music dan Deezer.

Di album tersebut, Sakarin yang diperkuat formasi Agus Suryanto (vokal), Prihatmoko Moki (dram) dan Soni Irawan (gitar) memainkan riff garage punk dengan intensitas hardcore punk/grindcore, dimana mereka seperti melebur pengaruh dari The Mummies, Dead Moon, Sonic Youth dengan intensitas Fuck On The Beach dan C.S.S.O. jadi satu. Keseluruhan referensi dieksekusi dengan teknik bermain yang lebih simpel dan primitif, sehingga membuat musik mereka sangat berbeda dari tipikal band ‘ngebut’ yang ada di Indonesia.

Dan dari 10 trek yang terhidang di album, Sakarin menyebut lagu “Petisi Kota” cukup menarik karena aransemen musiknya justru terinspirasi dari gambaran rutinitas sehari-hari, yakni mengantar anak ke sekolah dan berangkat kerja. Suasana setiap pagi di jalanan di kota Yogyakarta, setiap hari perjalanan membelah kota karena rumah di terletak di bagian Utara, daerah kampus yg lebih urban, dan sekolah anak dan tempat kerja berada di Selatan, yang lebih dikenal sebagai daerah keraton.

“Ingin menggambarkan ketika kita baru keluar dari jalan perkampungan atau komplek perumahan suasana masih pelan dan tenang, lalu masuk ke jalan raya yang bising, padat dan seperti berlomba-lomba untuk saling mendahului agar cepat sampai tujuan. Lalu ketika sampai sekitar sekolah dan tempat kerja, memasuki daerah selatan Yogyakarta yang cenderung ritmenya kembali pelan… bertemu dengan becak dan andong,” urai Sakarin kepada MUSIKERAS, panjang-lebar.

Sakarin sendiri berawal dari proyek solo Soni Irawan (Seek Six Sick) yang dikenal dengan nama Project Babi No. 9 pada tahun 2000 silam. Band ini mencoba memainkan musik sependek dan secepat mungkin. Pada tiap penampilannya ia membawakan lagu atau komposisi baru dengan musisi yang berganti-ganti. Di antaranya yang pernah bergabung ada Rully Shabara (Senyawa), Bofag (Seek Six Sick), Uji Hahan (Black Ribbon/Punkasila/Prontaxan), Bagus Jalang (Mortal Combat), Gobel (Rotten Corpse), Ari Wulu, Kenyit (Noise For Violence), Jarot (Dirty Mouth) dan Seto (Something Wrong). Proyek tersebut merekam beberapa lagu yang dirilis dalam sebuah kompilasi berjudul “Bangun Dari Mimpi Buruk Yang Indah” (2003).

“Konsep setiap pentas selalu lagu baru dengan personel baru, berusaha membuat musik yang tidak membosankan, salah satu caranya adalah dengan durasi yang pendek, sekitar satu menit. Karena Soni berpandangan bahwa sebuah lagu bagus atau tidak bisa dirasakan pada menit pertama setelah itu hanya pengulangan atau perpanjangan,” beber pihak band lagi, mengenang.

Lalu pada 2018 Soni menghidupkan proyek ini lagi dengan arahan musik dan rekan yang berbeda. Ia menggandeng Agus Suryanto, vokalis band hardcore Hands Upon Salvation dan Moki, dramer Airport Radio, Punkasila. Semuanya terjadi dipicu oleh tawaran manggung dari aktivis budaya Wok the Rock yang mengajak untuk tampil di acara Yesnoclub pada pertengahan 2018. Soni langsung membuat beberapa lagu, setelah itu mulai menentukan karakter personel yang cocok untuk lagu-lagunya. Akhirnya ketemulah Agus dan Moki.

“Beberapa hari setelah perform Wok the Rock menyarankan untuk merekam lagu-lagu yang dimainkan dan akan dirilis di label rekamannya. Hal ini yang tidak pernah terpikirkan oleh Soni karena sebenarnya proyek ini adalah arena bermain yang dibuat Soni untuk bertemu dan berinteraksi dengan musisi dari band dan genre yang berbeda. Proyek senang-senang yang sangat tidak mau terikat seperti sebuah band, dibuat hanya untuk pentas dan kolaborasi dengan musisi dari band lain yang bersifat temporer.”

Namun setelah dipertimbangkan, akhirnya Sakarin menambah beberapa lagu untuk direkam. Dari awal membuat lagu, cari personel, sampai akhirnya direkam yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Proses rekaman yang berlangsung di Studio JAS (Jogja Audio School) sangat singkat, hanya butuh dua hari, atau sebanyak dua shift pada 2018. Pertengahan 2019, mereka rekaman lagi sebanyak lima lagu. Tetapi setelah didengarkan sangat berbeda dibanding lagu-lagu dari sesi rekaman 2018.

“Akhirnya tidak jadi dimasukkan ke album, disimpan utuk album berikutnya. Beberapa saat sebelum dirilis, Soni memutuskan menetapkan Sakarin sebagai nama band, sebagai penanda kalau proyek ini sudah agak bergeser menjadi sebuah band.”

Dalam menjalani proses kreatif penggarapan lagu-lagunya, keseluruhan tahapannya dimulai dari Soni. Tepatnya selalu diawali oleh aransemen gitar buatannya, yang lantas lalu ditransfer ke Moki untuk dibuatkan beat. Setelah musik jadi, barulah Agus mulai meresponnya. Di sini, Soni juga berperan seperti sutradara, mencari musisi yang cocok untuk proyeknya, mengarahkan cara bermainnya, membuat landasan berkarya dengan durasi yang singkat.

“Hasil akhir kadang sesuai dengan yg dibayangkan sejak awal, tetapi juga ada yang bergeser sesuai karakter dan skill personel yang dipilih. Kadang mengejutkan. Di sini terjadi proses interaksi antar personel yang menghasilkan karya yang berkembang secara organik. Itu yang ingin dialami oleh Soni. Setiap personel bisa memberi masukan untuk tiap lagu, karena setiap personel punya band masing-masing maka ketika bersinggungan seperti saling transfer karakter band masing-masing.” (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.