“Kratzer” yang merupakan Bahasa Jerman, secara literal berarti goresan. Kata itu menjadi landasan lirik – plus penggalan ‘pidato’ dari komedian asal AS, George Charlin – bagi unit metal asal Padang, Sumatera Barat ini dalam menyuarakan harapan mereka untuk memperlihatkan isu sosial, baik di dalam maupun luar negeri. Single “Kratzer” sendiri sudah dirilis dalam bentuk audiovisual oleh Raze sejak akhir Februari 2020 lalu.
Lewat “Kratzer”, band bentukan Oktober 2017 ini ingin memperjelas tujuan mereka untuk menggores kesadaran, dan diharapkan tindakan yang berarti, walau pun kadang terkesan kecil. Contoh, menyempatkan waktu dan materi untuk membantu kaum marjinal yang pada dasarnya adalah saudara-saudara kita, yang pada dasarnya merupakan agen perubahan untuk mengurangi krisis humanitarian dan environmental yang akan selalu muncul di belahan dunia mana pun.
Saat menggarap produksinya, Raze yang diperkuat formasi Muhammad Aulia Rahman (vokal), Akbar Nicholas (gitar/vokal), Bardi Rahmawan (gitar), Esa Valentino (bass) dan Rizky Desvino (dram) bekerja sama dengan salah satu musisi Padang yang juga aktif berkegiatan di bidang sosial, Fris Dplust. Lalu juga dengan 3am Studio untuk prosesi teknis rekaman, mixing dan mastering serta Yusi Media dan Gazp untuk eksekusi pembuatan video musiknya.
Dalam proses penggarapannya, tim ini juga bekerja sama dengan jaringan aktifisme internasional Culture of Resistance dan juga turut mengampanyekan komunitas, yayasan dan asosiasi lokal Sumatra Barat yang bergerak di bidang sosial seperti Cleanup Sumatra, Pemuda Indonesia Peduli Sampah, Berbagi Nasi Padang, dan B’jess Foundation. Kebetulan, Akbar Nicholas yang juga merupakan komposer utama di Raze tercatat pula sebagai salah satu kolaborator dari jaringan aktivisme internasional, Culture of Resistance.
“Selain menambahkan shot yang telah diberi ijin oleh jaringan aktivisme ini, tim juga mengambil shot dari beberapa kaum marjinal yang ada di jalanan utama Kota Padang dan mempromosikan komunitas beserta yayasan di Kota Padang yang berkegiatan di bidang tersebut,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
Melalui penggarapan dan kerjasama seperti itu, tim kolektif yang mendukung Raze tersebut ingin memperlihatkan bahwa suatu karya seni audivisual bisa menjadi salah satu media untuk meningkatkan kesadaran akan isu sosial dan juga sekaligus menyertakan solusinya.
Dari sudut musikal, Raze kali ini menghadirkan komposisi yang lebih sangar namun dinamis di “Kratzer”, jika dibandingkan album mini (EP) debut mereka, “So Repeat This Line” yang dirilis Maret tahun lalu. Beranjak dari makna lirik yang mereka suarakan, aspek tradisional Minangkabau dari Fris Dplust pun menjadi salah satu bagian menarik dari komposisi yang digarap selama sebulan tersebut.
Secara musikalitas, Akbar Nicholas menggambarkan ‘Kratzer’ sebagai salah satu dari evolusinya sebagai komposer. Dengan tetap memunculkan penggabungan antara thrash, groove metal dan contemporary classical, yang banyak terpengaruh band metal asal Perancis, Gojira serta komposer dan pianis asal Italia, Ludovico Einaudi.
“(Lalu) Fris Dplust yang juga dikenal sebagai praktisi musik tradisional (ikut) mempengaruhi komposisinya, yang pada akhirnya mengimplikasikan kesangaran namun dinamis, yang menurut Nicholas cocok untuk menjadi background dari pesan yang disampaikan.”
Setelah “Kratzer”, sejauh ini Raze sudah menjalani proses mempersiapkan materi-materi terbaru mereka. Tepatnya kini sudah di tahap composing dan rekaman. Namun belum menetapkan target apakah akan merilis EP lagi atau album penuh hingga akhir tahun ini. (mdy/MK01)
.