… untuk mereka yang asal dalam ucap, sudah jelas kita beda dalam kelas …
Kalimat di atas adalah cuilan lirik di single terbaru Trendkill Cowboys Rebellion (TCR) yang bertajuk “Moralisch”. Judulnya sendiri diambil dari Bahasa Jerman yang berarti moral (attitude). Ya, lewat lagu tersebut, secara gamblang salah satu penggerak musik beringas di skena Jakarta ini mengarahkan telunjuk ke orang-orang yang pernah berada di lingkaran mereka, yang ternyata justru menjadi penghambat kreativitas serta produktivitas band ini.
“Kami menggambarkan diri kami sendiri dalam lagu ini,” cetus pihak band lewat siaran pers resminya.
Lahirnya “Moralisch” berawal dari saat TCR menelisik semua perjalanan yang mereka alami. Bagi mereka bermain musik keras memang unik, dimana semua orang melakukan hal yang bisa dibilang sama dalam komunitas, namun memiliki batasan masing-masing. Setiap orang dalam komunitas musik metal selalu ingin berusaha seeksis mungkin, berusaha berkontribusi untuk saling men-support, walau tidak jarang banyak yang melakukan hal sebaliknya.
“Tapi satu hal, mereka tidak pernah berhenti atau tidak pernah mati, selalu beregenerasi dan terus menerus mencintai musik metal sebagai identitas mereka. Kami pun begitu, semua kesulitan kami dalam bermain musik metal yang awalnya sebuah hobi kemudian berubah menjadi sebuah hobi yang serius. Kami tidak pernah menyerah dengan keadaan, kami tidak pernah berkompetisi sesama musisi metal lainnya, dan sudah pasti kami memberikan karya-karya terbaik yang kami bisa dengan dan lewat cara kami. Segudang kisah duka menjalani karir bermusik tidak pernah sedikit pun mengubah persepsi kami tentang komunitas juga musik metal itu sendiri. Itulah sebagian pesan dari single ‘Moralisch’, dimana etika sebagai musisi lebih penting di atas segalanya.”
“Moralisch” juga menandai 15 tahun perjalanan karir TCR. Sebuah proses pendewasaan tersendiri bagi internal band ini, yang telah mengalami banyak fase pembelajaran dalam bermusik, pertemanan dan etika sebagai sebuah band dengan identitas ‘band metal’. Mereka pernah mengalami masa produktif, hiatus dan kini kembali mencoba selalu produktif lagi. Mereka pernah memiliki personl band yang baik secara ‘attitude’ dan pernah memiliki personel yang banyak omong tapi nol besar dalam penerapannya. Mereka pernah menjalankan formasi berempat, juga pernah menjalankan formasi berlima.
“Walau akhirnya kami sadari saat ini dengan beranggotakan empat orang sudah lebih dari cukup ketimbang lebih banyak tapi tidak produktif sama sekali,” cetus TCR yang kini diperkuat Muhammad ‘Will’ Wildan (vokal), Yudha Permana (bass), Ughie Tarsughi (gitar) serta dramer lamanya yang kembali bergabung, Dedi ‘Dechonk’ Suheidi.
“Setelah merilis album ‘Musica Peccatum (4:8)’, kami berbenah diri. Bersih-bersih dimulai dari personel band yang mengundurkan diri, juga dari personel dengan ‘bad attitude’. Penggebuk dram lama kami, Dechonk yang menjadi pondasi dari hampir seluruh karya band ini akhirnya kembali bergabung dan membuat semua menjadi terang benderang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah selebrasi, sebuah awal baru bagi kami sebagai sebuah band untuk terus konsisten. Sekelumit perjalan band yang kami ceritakan tadi merupakan ide dari single ‘Moralisch’.”
Lalu apa pelajaran paling berharga yang dirasakan para personel TCR setelah menjalani karir selama 15 tahun?
Bagi band yang terbentuk pada 2005 silam ini, menekuni musik keras sama saja seperti hobi lainnya, yang dijalankan dengan suka rela tanpa pamrih apa pun. Banyak orang punya hobi lain di luar musik, mereka rela melakukan apa saja untuk hobi tersebut, misalnya seperti modifikasi kendaraan, memancing dan lain-lain. Semuanya dilakukan dengan senang hati, tanpa berhitung dan pada awalnya tanpa berharap ada keuntungan yang didapat.
“Bedanya, hobi main musik memiliki sisi lain yang bisa dipublikasikan dalam bentuk karya, dan kadang karya itu berpengaruh terhadap orang banyak karena musik memiliki pesan, sehingga punya rasa tanggung jawab lebih untuk menyampaikan hal-hal yang baik ketimbang mencari sensasi lagi. Bermain musik yang bisa dibilang segmented justru malah membuat kita memiliki banyak teman, banyak wawasan dan yang pasti pernah merasa senang bisa jalan-jalan ke kota lain yang mana tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Musik metal juga (merupakan) cara lain kita menyalurkan uneg-uneg, seiring waktu berjalan, ketika para personel sudah dihadapkan dengan usia yang tidak lagi dibilang muda, sudah berkeluarga, akhirnya ini jadi sarana olah raga di tengah kesibukan yang lebih primer,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, panjang lebar.
“Moralisch” sendiri digarap lewat proses kreatif yang cukup singkat. Diawali Ughie yang membuat aransemen dasar dan ditata lagi melalui proses jam session. Saat ini, para personel TCR sudah terbiasa melakukan rekaman rumahan secara mandiri sehingga mempermudah keseluruhan proses kreatifnya. Kecuali untuk proses rekaman vokal yang harus dilakukan di studio konvensional. Khsus untuk tahapan mixing dan mastering, TCR dibantu oleh rekan mereka, Hamzah Kusbianto dari Racik Suara Studio, Tegal, Jawa Tengah yang sudah sangat tidak asing karena sering terlibat di banyak rilisan Grimlock Records, Homicide, Eye Feel Six atau Bars Of Death.
Dibanding single-single sebelumnya, kali ini TCR melakukan sedikit pengembangan musikal di “Moralisch”, dimana single tersebut menjembatani ide-ide baru mereka setelah 15 tahun menggulirkan eksplorasi paduan metal, hardcore dan punk. Didasari sedikit kebosanan memicu TCR melakukan eksperiman, dimana kali ini mereka mencoba mendapatkan sound metal modern seperti Djent, walau tidak terlalu kental, lalu entakan groove yang lebih ekspresif dan menahan porsi vokal agar tidak terlalu penuh.
Untuk memenuhi hasrat itu, mereka pun membekali diri dengan berbagai masukan secara musikal. Belakangan, para personel TCR mengaku banyak mendengarkan musik-musik baru, baik dari lingkup metal serta di luar itu. Antara lain, mereka menyebut nama-nama seperti Volumes, Make The Suffer, Boris The Blade, Inire, Backwordz, Violent Soho, Get The Shot, Primitive Man, The Wrong Side,
“Kami juga masih mendengarkan Pantera, Prong, Swam Da Wamp, Life Of Agony, Against Me!, dan yang lain juga seperti Dead Sara, Anti Flag, Mike Ness dan Volbeat.”
Single “Moralisch” dirilis dalam format digital via Ares Musik sebagai distributor, yang berasosiasi dengan Believe Music Indonesia. Jika tak ada kendala, tahun ini TCR juga berencana bakal merilis karya rekaman dalam kaset. (mdy/MK01)
.