Deathcore, Jalan Tengah BRIDES OF GENOCIDE untuk Tumpas Pengkhianat

Bagi unit deathcore asal Medan ini, adanya pandemi Covid-19 yang sedang mewabah di seluruh dunia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Single debut mereka, “Sublimasi Pengkhianatan” adalah bukti sebuah karya ekstrim yang lahir di tengah kondisi stagnan tersebut.

“Jadi kami harus pintar-pintar menyiapkan waktu, dan tempat untuk rekaman, meskipun pada akhirnya kami harus take satu persatu di lain tempat dan di lain hari. Alhamdulillah, dalam waktu kurang lebih seminggu, single kami selesai,” urai Brides Of Genocide kepada MUSIKERAS mengungkapkan.

Proses rekaman “Sublimasi Pengkhianatan” sendiri digarap Gagas Pradana (vokal), Moh. Ilham Sandhika (gitar), Debby Afrianda (gitar), M. Kevin Immanuel (bass) dan Abdi Syahdanang (dram) bersama seorang rekan mereka yang kebetulan memiliki fasilitas studio rekaman rumahan.

“Dan untungnya, rekaman bisa dilakukan di tempat-tempat berbeda karena alat-alat rekaman dari teman kami yang cukup mendukung untuk proses penggarapan single ini. Beberapa revisi juga sempat dilakukan, karena di single pertama ini kami ingin mendapatkan hasil yang maksimal untuk para pendengar kami.”

Di “Sublimasi Pengkhianatan” ini, Brides Of Genocide mengangkat tema tentang seorang pendosa dan dampak-dampak dari dosa itu sendiri ke kehidupan manusia. Lebih spesifik lagi, mereka mengetengahkan tentang sebuah dosa bernama ‘khianat’, yang merupakan dosa yang telah ada sejak dulu dn terus tetap ada sampai akhir dunia. Khianat adalah sebuah kekeliruan atau kelaknatan yang harus dijauhkan dari hidup, karena bisa menyublim bersama dengan pertambahan zaman, dan akan menguasai diri manusia bila dibiarkan hidup dalam hati.

Berbicara tentang paham deathcore yang dianut Brides Of Genocide, para personelnya mengaku banyak mendengarkan musik-musik deathcore era 2000-an seperti To The Grave, Thy Art Is Murder, Whitechapel, Suicide Silence hingga Oceano untuk dijadikan referensi di “Sublimasi Pengkhianatan”, serta di setiap lagu mereka lainnya.

Kenapa memilih deathcore?

“Menurut kami deathcore adalah sebuah jalan tengah bagi kami yang punya selera musik berbeda-beda dari (skena) underground. Selain karena kami juga menikmati musik deathcore, bagi kami deathcore sendiri adalah sebuah solusi untuk memainkan musik underground yang modern namun tetap tidak meninggalkan sisi cadasnya. Di balik itu, musik-musik deathcore juga sudah menjadi playlist kami sehari-hari,” cetus pihak band menegaskan.

Setelah perilisan single “Sublimasi Pengkhianatan” di kanal YouTube, rencana Brides Of Genocide adalah memasukkan single tersebut ke beberapa platform digital lainnya agar nantinya memudahkan pendengar untuk mendengarkan karya mereka, sekaligus memperkenalkan Brides of Genocide kepada pecinta musik dari semua kalangan. Setelah itu,  mereka akan fokus melanjutkan proses penggarapan album mini (EP) yang saat ini sudah berjalan.

“Cukup banyak materi dari berbagai referensi yang kami proses sejauh ini, dan sudah menghasilkan tiga lagu, termasuk ‘Sublimasi Pengkhianatan’. Kami akan terus memproses materi-materi yang kami punya untuk menghasilkan suatu karya yang nantinya dapat diterima oleh para pendengar, dengan harapan EP kami dapat selesai secepatnya dan dengan hasil yang maksimal.”

Sedikit menengok ke belakang, sebelum terbentuknya Brides Of Genocide, ternyata kelima personelnya tidak saling mengenal. Mereka akhirnya dipertemukan di berbagai event underground yang mereka hadiri di kota Medan. Di situlah awal perkenalan, yang berujung pada niat untuk membentuk band karena terinspirasi dari beberapa senior mereka di skena ‘bawah tanah’ Medan. Tapi sejak terbentuk pada 2018 hingga sekarang, Brides of Genocide sudah mengalami tiga kali pergantian personel. “(Tapi) Dengan tujuan tetap menyamakan visi, misi dan cita-cita dari kami bersama di dalam naungan band ini.” (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts