Wajah Baru DEMONIC MASSACRE, Beringas dan Pekat

Usai tidur panjang dari pergolakan skena musik keras, akhirnya unit blackend deathcore asal Malang ini memutuskan bangkit dari pembaringannya yang nyaman. Tanpa basa-basi, Demonic Massacre langsung menggebrak lewat single debut bertajuk “Paradogma”, dimana band yang terbentuk pada November 2016 ini melampiaskan keresahan mengenai keadaan sekarang yang dipenuhi kebohongan demi kebohongan serta provokasi yang memperalat dogma suatu agama untuk dijadikan ‘senjata perang’.

Formasi Rangga Maydano (vokal), Muhammad Nur Zaman (gitar), Wahyu Satria (gitar), Noval Luqman (bass) dan Edwin Cahya Laksamana (dram) mengeksekusi rekaman “Paradogma” di Deathcrush Home Recording, lalu mendapatkan sentuhan mixing dari Eighteen Records. Sementara untuk rancangan artwork single tersebut dikerjakan sendiri oleh sang vokalis, Rangga Maydano.

Penyatuan ide dari berbagai pengaruh dan masing masing personel menurut Demonic Massacre merupakan pengalaman menarik saat menggarap “Paradogma”. Pasalnya, baru pertama kali ini mereka melakukan perombakan besar-besaran di susunan formasi setelah bertahun-tahun hiatus.

“Hingga akhirnya mendapatkan lima personel yang memiliki berbagai perbedaan genre, di antaranya metalcore, djent, thrash metal dan technical. Kemudian vokalis kami menarik benang merah dan mengubah genre Demonic Massacre menjadi blackened deathcore,” urai pihak band kepada MUSIKERAS merinci.

Hasilnya, konsep lagu dari Demonic Massacre memang berubah drastis dengan adanya sentuhan ambience serta riff-riff black metal dan sedikit unsur teknikal dengan ketukan blast beat dalam permainan dram bertempo cepat.

“Menjadikan ‘Paradogma’ ini lagu tercepat yang (pernah) dibuat Demonic Massacre lewat ‘wajah’ barunya. Sweep picking arpeggio lick dalam permainan gitar dan juga sentuhan piano sebagai sampling juga dapat didengar di single ‘Paradogma’ ini. Dari segi vokal juga lebih menonjolkan unsur high fry sehingga menambah unsur blackened. Sebenarnya tidak ada referensi atau inspirasi musik yang menonjol untuk membuat single ini, hanya mempelajari dan mengaplikasikan unsur-unsur musik dan riff ala-ala black metal untuk ditambahkan ke dalam single ‘Paradogma’.”

Sejumlah rencana juga telah tertanam di benak para personel Demonic Massacre untuk melanjutkan agresi setelah “Paradogma”. Yang sudah sangat diyakini adalah meletupkan single susulan yang bakal digeber dengan konsep yang lebih ‘gelap’, plus kejutan-kejutan ‘heavy breakdown’. Tahun ini juga ditargetkan untuk meluncurkan single kedua tersebut, sembari menggarap materi album pertama.

“Progres album bisa dibilang sudah mencapai 75% dalam penggarapannya. Segala instrumentasi lagu sudah dipersiapkan, hanya minus vokal saja yang belum (dieksekusi). Album kami perkirakan akan selesai pada pertengahan 2021 nanti.”

Selain tersedia di platform jasa dengar musik secara digital seperti Spotify, “Paradogma” juga dapat diasup melalui visualisasi berformat video lirik di kanal YouTube resmi Demonic Massacre. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.