Satu lagi unit cadas berhasil mempersembahkan karya rekaman justru di saat pandemi Covid-19 melanda. Demonstration Effect – band tersebut – baru saja merilis sebuah album penuh bertajuk “Human Demise” yang dirilis via label Infect Art Production. Bagi pejuang old school death metal asal Bali ini, bisa dikatakan, keberhasilan merampungkan album tersebut adalah keanehan.
“Ketika semua berjalan dengan normal, kami tidak mampu merilis album. Namun justru di saat pandemi, hanya dalam waktu tiga bulan album berhasil dirilis,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan pengalaman menariknya itu.
Judul ‘Human Demise’ sebenarnya tak lepas dari perjalanan karir Demonstration Effect sendiri. Pernah suatu masa, band bentukan 1997 silam yang bisa dikatakan merupakan pionir pergerakan awal skena ‘bawah tanah’ di Bali tersebut pernah menggunakan nama Human Demise. Perubahan itu dilakukan pada 2007, setelah sebelumnya mengibarkan nama Demonstration Effect selama satu dekade.
Diperkuat formasi baru, yakni IGP Sumardika (bass), Made Suryadana (gitar), IGN Sudarmawan (vokal) dan Made Darma Kusuma (dram), akhirnya band ini pun kembali aktif dan menjajal berbagai panggung cadas. Lalu dalam kurun waktu 2013 hingga 2017, nama Demonstration Effect kembali dipatrikan dan para personelnya sepakat untuk menggarap album penuh. Sempat terkendala kesibukan para personelnya, namun pada 2018, keseluruhan proses penggarapan album dapat diselesaikan.
“Dapat dikatakan berlangsung cukup lama karena selama prosesnya terjadi beberapa kali break (selama) hampir lima tahun. Master rekaman sudah selesai pada 2018, namun tersimpan saja tanpa coba dirilis dalam bentuk fisik. Cuma bersyukur, karena line up Demonstration Effect ini saling bersaudara sehingga tidak sampai terpikir untuk bubar. Pengalaman menarik, kadang teringat untuk menyelesaikannya, tapi lebih sering diabaikan. Bahkan sampai saat album ini dirilis, studio tempat rekamannya (Studi Maya Studio) sudah tidak ada lagi. Dan engineer (Ketut Sila) yang membantu akhirnya menyelesaikan mixing dan mastering di studio rumahnya sendiri.”
Kebrutalan old school death metal yang menjadi ciri Demonstration Effect masih mengakar kuat di band ini saat menggarap materi “Human Demise”. Gabungan materi yang sudah digarap cukup lama dengan materi-materi baru tetap didominasi pengaruh dari band-band ngeri mancanegara macam Suffocation, Cannibal Corpse, Cryptopsy, Dying Fetus hingga Terrorizer.
Karena baru berhasil merilis album debut setelah berkarir selama 23 tahun, para personel Demonstration Effect sangat menyadari “Human Demise” menyisakan banyak kekurangan. “Tapi kami puas akan hasilnya,” cetus mereka meyakinkan.
Karena pada dasarnya, di tahap ini, Demonstration Effect ingin meletakkan sejarah untuk penggemar metal di Bali bahwa mereka akhirnya memiliki album rekaman. Lalu, sekaligus, di salah satu lagu andalannya yang berjudul “Artha Arthi”, mereka juga memasukkan unsur etnik sebagai penanda darimana Demonstration Effect berasal. (mdy/MK01)
.