BRAINJUICE PARLOR Kembali dengan Keseruan Post-Apocalypse

Walau terbentuk di era yang serba digital, tapi unit rock asal Jakarta yang digerakkan formasi Dustin D. Brilliant (vokal/dram), Romi Rheza (gitar) dan Ilham Dharma (bass) ini memilih mengeksplorasi segala sisi musik dari era ’60an hingga ‘70an. Brainjuice Parlor yang mulai menggeliat pada 2013 lalu menyerap pengaruh dari band-band seperti Cream, Thin Lizzy, Pink Floyd hingga Free atas nama kebebasan dalam mengolah aransemen. Bayangkan riff bluesy ala Cream dipadukan dengan olahan vokal yang melodius ala Paul McCartney. 

Karakter itulah yang lantas disuguhkan di album debut mereka yang bertajuk “Verse 1: I Dived into the Utmost Depth of My Mind”, rilisan 2016 silam. Lalu kini dipertajam lagi lewat single terbaru, “Apocalyptica Dancer” yang telah mengudara sejak 21 Agustus 2020 via naungan Irama Records.

Kali ini, Brainjuice Parlor membawa pendengarnya jauh ke masa ke depan ketika generasi muda sedang berjuang dengan keunikannya masing-masing di era apokaliptik. Saat proses pembuatannya yang telah bergulir sejak 2018, Dustin yang menulis liriknya sangat terinsipirasi film-film bertemakan post-apocalypse seperti “Blade Runner”, “Ghost in the Shell”, “Mad Max” serta film animasi Jepang, “Akira”. Tidak ada yang menyadari bahwa ternyata “Apocalyptica Dancer” justru sangat beresonansi dengan situasi pandemi yang melanda dunia saat ini. Melalui lagu tersebut, Brainjuice Parlor membawa pesan positif untuk generasi muda untuk selalu berjuang dalam situasi seperti saat ini.

Seperti pembuatan lagu Brainjuice Parlor lainnya, menurut tuturan pihak band kepada MUSIKERAS, komposisi riff gitar utama gubahan Romi Rheza rampung terlebih dahulu. Lalu diikuti dengan garis besar isian ritem, dan kemudian melodi vokal beserta liriknya. Rekaman dilakukan di Velvet Studio Pejaten, Jakarta tahun lalu. Dengan aransemen yang sudah matang, proses rekaman rampung hanya dalam waktu sehari dengan metode live recording sebagai inti utama rekaman. Lalu di kuarter pertama 2020, proses mixing dieksekusi oleh Rian Vitra dan dilanjutkan mastering oleh Steve Corrao di Sage Audio, Nashville, AS.

“Sebagai kesimpulan, pembuatan lagu ini tidaklah lama. Mungkin kalau ditotal hanya seminggu karena proses mengalir begitu saja sesaat setelah riff gitar selesai dibuat,” ujar Brainjuice Parlor meyakinkan.

Jika harus membandingkannya dengan “Verse 1: I Dived into the Utmost Depth of My Mind”, konsep musikal yang diterapkan Brainjuice Parlor di “Apocalyptica Dancer” terjadi sedikit pergeseran. Terutama pada komposisi dan muatan lirik. Di album pertama, komposisi lagu lebih berkesan gloomy disertai dengan pengaruh kontur progresif serta psychedelic rock yang cukup kental. Contohnya di lagu “Yellow Rain”. 

“Sementara pada single ‘Apocalyptica Dancer’, komposisi lagu lebih straightforward, melodi vokal yang lebih terkonsep, serta muatan lirik yang lebih relatable. Khususnya di lagi ini, kami hendak bercerita mengenai pemuda-pemuda yang harus berjuang bertahan hidup di era pasca bencana besar yang kami yakini mungkin saja akan terjadi.” 

Lalu, tambah mereka lagi, elemen musik ’60 dan ’70an yang menjadi nadinya dipilih karena dianggap lebih jujur dalam hal musikalitas dan aransemen, dan tidak terikat pada suatu genre saja. “Secara aransemen, musik-musik di era itu banyak sekali yang menjadi benang merah atau predesesor dari nama-nama besar di era-era berikutnya. Sebutlah seperti The Beatles, Led Zeppelin, Pink Floyd, Queen… yang bila diikuti diskografinya dari awal kemunculan sampai akhir ‘70an, terlihat sekali perkembangan musikalitasnya yang tidak terbatas oleh genre atau label tertentu.”

“Apocalyptica Dancer” bisa didengarkan via berbagai layanan dengar lagu secara digital (streaming) seperti Spotify, Apple Music, Deezer dan YouTube. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.