Kegalauan ‘Dunkirk’ dalam EP Eksploratif OPTION PARALYSIS

Menurut pelantun metal eksploratif asal Cianjur, Jawa Barat ini, mereka menyuguhkan peleburan berbagai pengaruh latar belakang musikal yang dibawa oleh masing-masing personelnya menjadi satu kesatuan. Itu yang mereka tuangkan di album pendek (EP) pertamanya, “I. Continuum” yang sudah bisa didengarkan via kanal Bandcamp sejak 7 Desember 2020 lalu.

“I. Continuum” sendiri beramunisikan empat komposisi, yakni “I. Re-entering Ahab: In-dividuum Incognita”, “IV. Ampersand: Of Farrier ek Stasis”, “II. Dear Twitches” dan “III. Weymouth: Ye, Who March Onward! Seize the Infinite”. Secara garis besar, liriknya menggelegak di tema-tema seputar keputus-asaan, monomania, keegoisan serta kepedulian terhadap hal-hal lain melebihi diri sendiri. 

Option Paralysis juga mengambil pengaruh dari film “Dunkirk” serta korelasinya dengan kondisi manusia di masa pandemi saat ini. “Ada beberapa keselarasan dari dua hal tersebut yang kami transformasikan ke dalam EP ini,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengklarifikasi.

Misalnya lagu “IV. Ampersand” bertemakan tentang waktu sebagai pengingat ketidak-abadian manusia, sementara “I. Re-entering Ahab” mengangkat tema monomania dari seorang prajurit yang mengigil dan tendensi panic buying, dan Ahab sendiri merupakan tokoh sentral dalam novel Moby Dick yang menjadi simbol obsesi serta monomania dalam diri setiap manusia. Di komposisi “II. Dear Twitches” dan “III. Weymouth” mengambil tema sentral altruism serta pengorbanan diri dari para pelaut sipil dan tenaga relawan. 

Oh ya, di lagu “III. Weymouth”, Option Paralysis yang diperkuat formasi Muhammad Dandi Iskandar (bass), Muhamad Yunus (vokal), Fahmy Lengga Pahlevi (dram) dan Dyonata Jalindra (gitar) ini turut menghadirkan alunan magis dari dua vokalis tamu, yakni Ayu Azkah dan Ardina Maryana.

“Narasi non-linear ‘Dunkirk’ pun mempengaruhi kami dalam penentuan urutan lagu, sehingga kami memutuskan untuk menuliskan nomor urut dalam judul lagu,” seru Option Paralysis lagi memperjelas. 

Proses produksi EP “I. Continuum” tersebut menghabiskan waktu yang cukup lama, dimulai pada Mei hingga September 2020. Sempat terkendala oleh faktor adaptasi dengan keterbatasan di hampir semua lini kehidupan. Keseluruhan proses perekaman “I. Continuum” dieksekusi Option Paralysis di CX Records, Cianjur. 

Secara musikal, band yang terbentuk sejak pertengahan 2019 lalu ini sangat terpengaruh pelaku-pelaku hardcore punk dan metalcore seperti Drowningman dan The Dillinger Escape Plan hingga elemen noise-project serta jazz dari musisi seperti Merzbow dan Alice Coltrane. Sementara dari sisi konseptual, mereka menyebut para novelis asal Amerika Serikat ini, yakni Gertrude Stein, Jack Kerouac dan Herman Melville juga sebagai sumber pengaruh yang menancap kuat. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.